MadiunPendidikan

Sekolah Belum Tatap Muka, MPLS Dalam Jaringan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dilangsungkan dalam jaringan (daring). Setelah tak ada ujian nasional dan perpisahan sekolah, pelajar SD dan SMP masih harus bersabar.

Di tahun ajaran baru 2020/2021 ini tak ada keseruan bertemu dengan teman baru. Keasyikan menyelesaikan fun game bersama-sama sirna begitu saja. Eksplorasi sekolah baru pun belum bisa dilakukan sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Ribuan siswa baru dari semua jenjang diwakilkan seratusan siswa di Bumi Perkemahan Ngrowo PDAM Tirta Taman Sari Kota Madiun Senin (13/7). Selebihnya hanya mengikuti pelaksanaannya via daring dari rumah masing-masing.

Aurel Bunga Fredlina merasakan kesedihan itu. Lantaran merasa tidak bisa bertemu dengan teman baru. Perkenalan dengan sesama siswa baru hanya melalui grup WhatsApp (WA). Dari 100 lebih anggota grup hanya beberapa yang dia kenali. ”Saya hanya menuliskan nama dan mengucapkan salam kenal. Sama bilang jangan lupa save nomor ya. Udah itu aja,” ujar siswa baru SMPN 04 Kota Madiun itu.

Alexander Chiko Farrel Widakdo menganggap MPLS daring justru rumit dan kurang asyik. Baginya, tatap muka jauh lebih efektif. Akan tetapi, situasi pandemi ini belum memungkinkan untuk itu. Pertemuan melibatkan banyak orang masih sangat rentan. ‘’Walaupun sedikit malu, saya berusaha enjoy ketemu teman baru saat janjian lewat WA,’’ tuturnya.

Ludian Hariyanto juga tak bisa berbuat banyak. Baginya, jalan terbaik saat ini tetap mengikuti anjuran pemerintah. Meskipun Luthfia, anaknya, sudah dilanda kebosanan lantaran tak segera masuk ke sekolahnya yang baru di SDN 01 Manguharjo. ‘’Mungkin kekurangannya kesempatan sosialisasi dan bermain dengan teman-temannya akan berkurang,’’ ujarnya.

Ludian paham, di masa pandemi ini peran orang tua sangat menentukan. Terlebih bagi anak-anak yang baru menginjak jenjang sekolah dasar yang cenderung mudah bosan. Usia mereka yang masih ingin selalu bermain akan sangat jenuh jika harus mengikuti rentetan MPLS daring. Walaupun durasinya hanya 45 menit. ‘’Anak kami sudah kangen sekolah dan bermain dengan teman sebaya lagi,’’ ungkapnya.

Arya Arthasyah Wijayah, salah satu ketua OSIS di SMPN Kota Madiun, hanya jadi pendamping siswa baru saat pembukaan MPLS di Bumi Perkemahan Ngrowo PDAM Tirta Taman Sari Kota Madiun. Pada MPLS tahun sebelumnya, dia disibukkan dengan beberapa agenda rapat untuk mempersiapkan acara penyambutan siswa baru. ‘’Karena kondisi yang tidak memungkinkan, OSIS tidak berperan sama sekali. Karena semua sudah langsung ditangani oleh guru,’’ terangnya.

Di tempat terpisah, Nabilla Farisa menyimak pelaksanaan MPLS daring dari rumahnya di Jalan Salak. Masih berseragam SMP, siswa baru SMAN 01 Kota Madiun itu sudah duduk manis di ruang tamu sejak pukul 07.30. ‘’Kami sudah dibuatkan grup WA gugus kelas. Untuk pertemuan via Zoom, link login-nya dibagikan di situ,” katanya.

Nabilla menyebut ada sekitar 300-an orang yang bergabung dalam pertemuan virtual itu. Terdiri peserta MPLS, guru, dan pembina OSIS. Acara dimulai sekitar pukul 08.00. Meski MPLS daring, para peserta tetap harus on came. Agar pihak sekolah dapat mengetahui para peserta mengenakan seragam dan id card. MPLS yang dilakukan hingga pukul 11.00 itu juga mengharuskan peserta yang izin ke belakang untuk off came terlebih dahulu. ”Materi awal tentang pengenalan sekolah dan pembinaan karakter,’’ terangnya.

Meski virtual, materi yang disampaikan wajib dicatat di buku. Setelah itu di-scanner dan mengubahnya menjadi bentuk file PDF. Catatan materi itu lalu dikirim ke link Google Drive yang telah disiapkan sekolah. (mg3/c1/fin)

Tetap Maksimal meski Tak Normal

MASA pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dalam jaringan (daring) butuh penyesuaian. Termasuk bagi Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun yang di tahun sebelumnya leluasa mengundang siswa dari berbagai jenjang pendidikan. ‘’Pembukaan MPLS kali ini sebatas simbolis. Perwakilan beberapa siswa baru saja,’’ kata Kadindik Kota Madiun Heri Warsana.

MPLS daring digelar serentak mulai 13-15 Juli 2020. Setiap materinya disampaikan secara virtual via WhatsApp, Zoom, YouTube, dan sebagainya. Materi yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Ditambahi materi seputar protokol kesehatan. ‘’Beberapa sekolah juga mengundang masyarakat, komite, atau organisasi untuk ikut mengisi materi,” terangnya.

Meski sebatas dalam jaringan, MPLS tetap dilangsungkan. Pengenalan lingkungan dan program sekolah baik kurikuler maupun ekstrakurikuler melalui daring diharapkan cukup membekali siswa baru setibanya waktu pembelajaran tatap muka kelak. ‘’Siswa baru tetap butuh penyesuaian,’’ ungkapnya.

Heri pun berharap peran aktif orang tua dalam mendampingi anaknya saat MPLS daring. Ketika ada yang tidak dipahami, bisa dikomunikasikan dengan pihak sekolah. ‘’Walaupun tidak bisa dilangsungkan secara normal, tapi bisa dilakukan dengan maksimal,’’ ujarnya.

MKK SMAN Kota Madiun Agus Supriyanto menyebut MPLS daring juga dilangsungkan seluruh jenjang sekolah menengah atas. ‘’Semua sepakat daring. Karena jika memaksakan dengan sistem luring (luar jaringan, Red), syarat zona hijau tidak terpenuhi,’’ katanya. (mg3/c1/fin)

Hindari Gaya Ceramah saat Kenalkan Sekolah

MASA pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) virtual bagi peserta didik baru SD, SMP, SMA di masa pandemi ini menjadi pintu gerbang pembiasaan awal siswa belajar tanpa berada di kelas. Pembelajaran online tentu sudah akrab bagi siswa sekolah menengah. Namun, bagi siswa baru di jenjang sekolah dasar butuh waktu untuk pembiasaan.

Rektor Universitas PGRI Madiun (Unipma) Parji mengingatkan pelaksanaan MPLS bagi siswa SD harus menghindari verbalisme. Verbalisme bisa berwujud ceramah atau paparan melalui lisan. ‘’Berbeda dengan siswa SMP dan SMA atau mahasiswa,’’ kata Parji.

Jika model ceramah diterapkan dalam MPLS virtual, tentu siswa baru SD akan mengalami kesulitan. Parji maklum jika tak sedikit siswa baru kesulitan menangkap materi MPLS. Orang tua cukup kewalahan dan mengeluh anaknya cepat bosan. Lebih parahnya jika siswa baru tidak mendapatkan kesan berarti di hari pertama sekolahnya di masa pandemi. ‘’Ini menjadi persoalan merata di setiap daerah,’’ ujarnya.

Momen masuk sekolah pertama bagi siswa baru SD akan terekam sepanjang masa. Ruangannya seperti apa, tempat duduk, guru kelas, teman-teman sekelas, dan duduk bersama siapa. Hal-hal kecil itu akan selalu terekam dalam ingatan hingga dewasa kelak. ‘’Seperti momen pertama diantar orang tua ke sekolah barunya,’’ ungkapnya.

Namun, MPLS tetap harus dijalankan secara virtual. Sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri (Mendikbud, Kemenag, Menkes, Mendagri) tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19, hanya daerah zona hijau yang diperkenankan membuka pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan secara bertahap. ‘’Di sini peran sekolah sangat penting,’’ sebutnya.

Parji menekankan seluruh sekolah agar tidak monoton saat melangsungkan MPLS virtual. Dia mengisyaratkan MPLS diisi materi yang dapat membangun semangat belajar bagi anak-anak. Misalnya dengan pendekatan video sederhana dengan durasi maksimal 30 menitan. Video yang menggambarkan lingkungan sekolah itu dikemas semenarik mungkin. ‘’Sekolah harus kreatif,’’ tegasnya.

Dalam situasi pandemi ini, semangat Merdeka Belajar arahan Mendikbud sangat berarti. Saat ini tepat bagi sekolah untuk meng-upgrade strategi pembelajaran. Sekaligus menyiapkan inovasi yang memudahkan dan mendekatkan cara-cara pembelajaran virtual yang diterapkan. ‘’Tunjukkan bahwa kita semua bisa,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close