Madiun

Sekali Mati Sudah Tak Berarti

RAMAI warganet mengomentari matinya pohon pule. Ada yang menyarankan agar pohon bernama latin Alstonia scholaris itu dipahat menjadi patung. ‘’Diukir bagus itu,’’ komentar akun Instagram @anshamatin. Pendapat warganet itu menarik untuk ditimbang. Agar pohon dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu tidak berakhir sia-sia.

Budayawan Kota Madiun Aryo Kartono menyebut bahwa kayu dari pohon pule lunak dan rapuh. Mengukir kayu yang lunak tidaklah mudah. ‘’Pule itu tidak pernah jadi pilihan pemahat atau tukang mebel. Walaupun cepat besar, kayunya lunak dan mudah rapuh,’’ katanya Minggu (15/11).

Sekali mati sudah tak berarti. Sebab, pohon ini bila sudah mati hanya bisa dijadikan kayu bakar. Seperti tanaman hias pada umumnya, kelebihan pohon ini terletak pada tekstur permukaan kulitnya yang unik. ‘’Kesannya kuno dan wingit, padahal tidak,’’ ujarnya.

Keputusan pemkot segera mengganti pohon pule baru dipandang lebih tepat. Pule memang cocok dijadikan pohon penghias kota karena bentuknya eksotis dan mudah tumbuh. Asalkan dilakukan dengan cara benar. Jika didatangkan dari jauh, akarnya yang menyebar bisa dipangkas. Jika akar sudah tumbuh, tinggal memotong akar bonggolnya dan siap untuk dipindahkan. ‘’Perubahan suhu udara juga cukup berpengaruh. Di habitat asalnya sejuk, di sini kepanasan. Bisa jadi itu yang menyebabkan pohonnya mati,’’ ungkap Aryo.

Pohon pule cukup bagus untuk mengurangi polusi udara. Karena memiliki daun yang lebat dan tepat bila ditanam di pinggir jalan. Juga bagus untuk resapan air. ‘’Itulah mengapa banyak punden ditanami pule atau beringin,’’ pungkasnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button