Madiun

Sejumlah Siswa Keluhkan Kondisi Mata setelah PJJ

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Siswa mengeluh mulai bosan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Selain lantaran terkesan monoton, gangguan mata menjadi biangnya. Pasalnya, pembelajaran bersistem dalam jaringan (daring) memaksa pelajar berlama-lama menatap layar monitor smartphone atau laptop. ‘’Minus mata saya bertambah selama PJJ,’’ keluh Itsna Harisah, siswi SMAN 1 Geger, Kamis (29/7).

Itsna sudah berkacamata sejak duduk di kelas X. Matanya minus setengah. Gangguan penglihatan itu semakin parah seiring pelaksanaan PJJ alias belajar dari rumah. Kondisi mata pelajar asal Desa Krandegan, Kebonsari, yang baru saja naik ke kelas XII itu kini minus satu lebih.

‘’Mungkin karena terlalu lama di depan laptop,’’ ujarnya. ‘’Sebelumnya hanya sekitar dua jam per hari. Sekarang bisa empat sampai lima jam. Mata jadi cepat lelah dan pusing rasanya,’’ imbuhnya.

Keluhan serupa datang dari Martatiana, siswi SMA lainnya. Gadis asal Desa Pagotan, Geger, itu baru ganti kacamata Juni lalu. Jika sebelumnya minus satu, sejak mengikuti PJJ kondisi matanya menjadi minus 1,5. ‘’Pembelajaran daring dimulai pukul 07.00 sampai 14.00. Kalau malam ngerjain tugas setelah magrib sampai sekitar pukul 20.00,’’ ungkap Martatiana.

Kalangan medis membenarkan bahwa tingginya intensitas menatap layar smartphone atau laptop merupakan salah satu faktor eksternal mata minus alias miopi. Kondisi itu masuk kategori computer vision syndrome. ‘’Terjadi ketegangan mata akibat penggunaan komputer dalam jangka waktu lama. Tanda-tandanya mata cepat lelah, mata kering, penglihatan kabur,’’ terang dr Ayu Puspitasari SpM, seorang dokter spesialis mata.

Ayu mengatakan, durasi maksimal dalam menatap layar monitor idealnya dua jam. Jika butuh lebih bisa diakali dengan rumus 20X20x20. Yakni, 20 menit melihat serta 20 detik istirahat dengan memandang jauh 20 kaki atau setara enam meter. Juga disarankan melakukan beberapa jenis kegiatan relaksasi mata (selengkapnya lihat grafis). ‘’Kalau ada keluhan, periksa ke dokter mata akan lebih baik,’’ ungkap anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Madiun itu. (den/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button