Magetan

Sejumlah Pemudik Enggan Diisolasi

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Belum tuntas persoalan puluhan santri asal Malaysia yang dinyatakan positif korona, pemkab dipusingkan dengan ulah sejumlah pemudik bandel. Mereka enggan diisolasi di tempat yang disediakan pemdes setempat. ‘’Jika mereka tidak menaati aturan, ada aparat TNI dan Polri yang akan turun tangan,’’ kata Jubir Percepatan Penanganan Covid-19 Magetan Saif Muchlissun Senin (20/4).

Muchlis –sapaan Saif Muchlissun- menjelaskan, setiap desa dan kelurahan wajib menyediakan ruang isolasi untuk mengarantina perantau yang ngeyel pulang kampung. Namun, tak semua pemudik berbesar hati bersedia diisolasi. ‘’Yang jelas, mulai RT, RW, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat harus mengawasi warganya yang baru mudik,’’ ujarnya.

Bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari pemudik yang diisolasi? Muchlis menyatakan bahwa hal itu menjadi tanggungan pihak keluarga. Meski begitu, akan ada kebijakan bagi pemudik itu dinilai perlu mendapatkan bantuan. ‘’Ada mekanismenya. Tidak bisa asal memberi dan menerima,” tegasnya.

Mereka yang mendapatkan bantuan, kata dia, harus masuk pada data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) milik Dinas Sosial (Dinsos) Magetan. Jika tidak masuk database, perlu dimusyawarahkan oleh pemdes atau pemerintah kelurahan bersama elemen masyarakat.

Selanjutnya, berita acara dimintakan persetujuan camat. ‘’Hasil musyawarah khusus itu kemudian diserahkan kepada kades atau kepala kelurahan untuk dilaksanakan,’’ terangnya.

Muchlis mengatakan, bantuan yang diberikan pemerintah selama ini seperti BLT, PKH, dan BPNT mengacu DTKS. Pun, pemberiannya tidak sembarangan. Mereka yang mendapat PKH atau BPNT tidak akan dijatah BLT. ‘’Satu keluarga hanya dapat satu program bantuan. Tidak boleh dobel,’’ jelasnya. (bel/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close