Madiun

Sejarah Kelam Itu Terjadi di Kresek

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Aksi keji pasukan komunis dalam melakukan pemberontakan kepada negara pernah terjadi di Madiun pada 18 September 1948 lalu. Saat itu, gerakan makar tersebut dipimpin oleh Musso dan Amir Syarifuddin. Kolaborasi keduanya sempat mencetuskan ide negara dalam negara dengan memproklamasikan Republik Soviet Indonesia.

Dalam pergerakannya, pasukan komunis kerap melakukan agitasi, demonstrasi, dan pembantaian. Termasuk di antaranya enam anggota TRIP yakni Soetopo, Soemadi, Djoewito, Joewono, Soegito, dan Ngadino yang ditembak secara membabi buta di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, pada 28 September 1948.

Aksi pemberontakan Musso dan Amir baru terhenti ketika Gubernur Militer Kolonel Sungkono menugaskan Kolonel A.H. Nasution untuk melakukan operasi pembantaian pasukan komunis. Dalam operasi tersebut, Musso berhasil ditembak mati di Somoroto, Ponorogo, pada 31 Oktober 1948. Sedangkan, Amir ditangkap di Grobogan, Jateng.

Selang empat dekade, perjuangan para pahlawan dalam melawan pemberontakan pasukan komunis di Madiun itu diabadikan lewat sebuah monumen di Desa Kresek, Kecamatan Wungu. Monumen tersebut dibangun sejak 1987 dan baru diresmikan pendiriannya oleh Soelarso, gubernur Jatim saat itu.

Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Madiun Raya Janus Indar Puguh Susetyo mengatakan, keberadaan monumen itu untuk mengenang perjuangan pasca kemerdekaan. Sekaligus untuk mengingatkan pada kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI). ‘’Selama pergerakannya di Madiun, PKI bertahan sampai 13 hari,’’ katanya.

Selain Monumen Kresek, ada beberapa peninggalan bersejarah lain yang menjadi saksi pemberontakan PKI Madiun pada 1948. Seperti bangunan SMPN 2 Madiun yang dulu merupakan markas TRIP. Di tempat tersebut, terdapat monumen TRIP yang di tengahnya ada batu marmer bertuliskan nama-nama korban pembantaian PKI. (mgc/c1/her)

Menghapus Stigma Madiun Embrio PKI

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila oleh Pemkab Madiun Selasa (1/10) sarat makna sejarah. Selain lokasinya bertempat di Monumen Kresek, para peserta upacara diajak mengingat kembali bentuk perjuangan pasukan revolusi dan kekejaman PKI selama berkuasa di Madiun pada 1948.

Bupati Madiun H Ahmad Dawami mengatakan, makna berdirinya Monumen Kresek tidak boleh luntur di hati para ASN pemkab. Karena bangunan itu merupakan bukti perjuangan Pemerintah Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Dalam kesempatan tersebut, bupati juga meminta seluruh masyarakat menghapus stigma warga Madiun sebagai keturunan PKI. Sebab, mereka yang melakukan gerakan makar saat itu mayoritas merupakan warga luar Madiun. ‘’Saya mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Madiun untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar atau landasan dalam bekerja menuju prestasi,’’ kata bupati yang akrab disapa Kaji Mbing itu.

Sebagai tindak lanjut, pemkab berencana mendirikan Monumen Lubang Judo. Konsepnya seperti Monumen Lubang Buaya di Jakarta. Tujuannya sebagai bangunan pengingat apabila ada beberapa pahlawan yang gugur karena dibantai oleh PKI di Kresek. ‘’Ini juga sebagai bentuk penghapusan stigma yang mengatakan Madiun berdirinya PKI,’’ tandasnya. (mgc/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button