PacitanPeristiwa

Sejak 2014 Sudah 10 Korban Tewas di Klayar

KOTA – Pacitan terkenal dengan keindahan pantainya. Tidak jarang lokasi tersebut digunakan untuk syuting sejumlah film. Sayangnya, keindahan tersebut bak pisau bermata dua. Selain menawarkan pesona alam yang aduhai, bahaya juga mengintai pengunjungnya. Salah satunya kejadian yang dialami oleh Guntur Perdana Yulyansah, warga Desa Pulerejo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. Pelajar 18 tahun itu meregang nyawa akibat terseret ombak usai terjatuh dari karang saat hendak berswafoto sekitar pukul 09.00, Selasa (19/6).

Ternyata kejadian tersebut bukan yang pertama kali terjadi. Sejak 2014, tercatat korban tewas akibat tenggelam di Pantai Klayar berjumlah 10 orang. Secara berurutan, tiga korban pada 2014, lima (2015), dua (2016), dan satu pada 2018. Tidak hanya dari wilayah eks Karesidenan Madiun, bahkan Jogjakarta. Sebagian besar korban berusia pelajar dan mahasiwa. Sementara tiga di antaranya justru nelayan lokal Pacitan.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Pacitan Endang Sujasri. Sayangnya, mantan kabag Humas Setkab Pacitan itu tidak berkomentar banyak. Dia mengaku heran dengan maraknya insiden tewasnya pengunjung akibat terseret ombak Pantai Klayar. Endang menduga kejadian itu akibat aksi nekat pengunjung. Hanya saja, hal tersebut tidak disampaikan secara gamblang. Endang hanya mengaku pihaknya sudah memasang rambu larangan untuk tidak mandi di pantai. ’’Pemkab telah memasang rambu-rambu larangan kepada pengunjung untuk tidak mandi di pantai-pantai yang  berbahaya, ’’ tuturnya.

Selain memasang papan larangan di pantai yang dianggap berbahaya, Endang mengaku sudah menempatkan sejumlah petugas keamanan di sekitar lokasi wisata. Hanya saja, jumlahnya terbatas. Endang pun tidak bisa membeber jumlah personel yang dimiliki. Masing-masing tidak hanya ditempatkan di Pantai Klayar, juga sejumlah objek wisata lain. ’’Selain itu (memasang rambu larangan, Red), juga menyediakan petugas pengaman pantai di beberapa destinasi walaupun jumlahnya masih terbatas, ’’ jelasnya.

Dengan kejadian itu, anggota Komisi II DPRD Pacitan Rudi Handoko berharap agar kejadian nahas serupa tidak kembali terjadi. Pasalnya, maraknya insiden pengunjung yang tenggelam menimbulkan stigma wisata Pacitan yang tidak aman. Buntutnya, kunjungan wisata di Pacitan bakal ditinggalkan. ’’Jangan sampai muncul anggapan wisata Pacitan angker,’’ tegasnya.

Untuk itu, komisi yang membidangi pariwisata tersebut berharap agar disparpora tidak tutup mata. Pun tidak ingin munculnya korban jiwa setiap tahunnya itu dianggap sebagai permasalahan sepele. Politikus Partai Demokrat itu berharap agar disparpora meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengunjung. Jika diperlukan, spot yang dianggap berbahaya tidak sekadar ditandai, namun juga dipasangi pembatas. ’’Selain itu, personel keamanan ditambah. Kalau perlu diikutkan pelatihan intensif dengan Basarnas,’’ tuturnya. (odi/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close