PeristiwaPonorogo

Sebulan, 13 Kasus Kebakaran

PONROGO – Kasus kebakaran di Ponorogo kian tinggi. Sepanjang Agustus 2018, satpol PP pemkab mencatat 13 kejadian. Kasus tersebut didominasi kebakaran lahan dan perumahan.

Kepala Satpol PP Ponorogo Supriadi mengatakan, kebakaran rumah penduduk banyak ditemukan sepanjang bulan ini. Total ada tujuh kasus yang telah ditangani satpol PP. Disusul enam kasus kebakaran lahan non-Perhutani. ‘’Berapa besaran kerugian total dari kasus kebakaran itu, pihak kepolisian yang menaksir,’’ katanya kepada Radar Ponorogo.

Dari hasil pencatatan di lapangan, penyebab kebakaran paling banyak terjadi karena human error. Semisal warga lupa mematikan api saat memasak. Kasus semacam itu pernah terjadi di Dusun Ngemplak, Desa/Kecamatan Sawoo, pekan lalu. Saat itu, dua rumah warga hangus dilalap si jago merah. Kerugian ditaksir mencapai Rp 100 juta.

Meski begitu, kasus kebakaran lahan non-Perhutani juga mendapat perhatian cukup serius dari satpol PP. Sebab, bulan ini hingga Oktober adalah puncak musim kemarau. Banyak alang-alang yang terlalu kering. Jika ada orang iseng yang membuang puntung rokok, api akan mudah membesar. ‘’Kondisi musim saat ini juga berpengaruh terhadap intensitas kebakaran. Terutama, kebakaran lahan,’’ ungkap Supriadi.

Selain mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang cukup, satpol PP terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Hanya, ketersediaan armada pemadam kebakaran yang dimiliki saat ini masih terbatas. Sehingga, harus dibantu oleh armada lain dari BPBD untuk memadamkan api. ‘’Kami punya dua armada yang ready. Satu armada lain sebenarnya juga bisa kami pakai. Tapi, yang siap operasional hanya dua,’’ sebutnya.

Pada setiap kasus penanganan kebakaran, biasanya dibantu suplai dua tangki air dari BPBD. Sehingga, dengan empat tangki air dirasa sudah cukup untuk memadamkan kebakaran. ‘’Sebenarnya kalau waktunya (laporan) kebakaran itu cepat, tidak melebihi 20 menit dari saat munculnya api, saya pikir masih bisa diatasi,’’ jelasnya.

Selama ini fakta di lapangan memperlihatkan bahwa kebakaran banyak yang dipadamkan sendiri oleh warga. Baru ketika kebakaran sulit teratasi lantaran api semakin membasar, warga melapor ke satpol PP. ‘’Dengan kondisi itu, golden time pemadam api sudah terlewati,’’ ungkap Supriadi.

Pihaknya saat ini sedang berupaya mengajukan tambahan armada melalui hibah dari pemerintah pusat. Hanya, Supriadi mengatakan hibah itu kemungkinan baru dapat terealisasi tahun depan. ‘’Saat ini dalam proses (verifikasi) administrasi. Kami mengajukan satu unit mobil pemadam kebakaran dan dua tangki air,’’ ujarnya. (her/c1/rif)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button