Madiun

Sebatang Kara, Bibit Bertahan Hidup Jajakan Bunga

Tak Pernah Istirahat Kecuali saat Mandi dan Salat

Bibit Surati enggan meninggalkan lapak dagangannya. Baginya, menjajakan kembang lebih dari sekadar berjualan. Namun, sebagai wujud baktinya untuk membantu sesama.

=========================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

TERIAKAN segerombolan pemuda di dekat pintu keluar itu memecah keheningan Pasar Sleko. Membangunkan nenek 68 tahun itu dari tidur nyenyaknya. Di lapak bunga selatan masjid pasar itu, Bibit kembali rebahan. Melanjutkan mimpi sebelum pagi menghampiri. Apa saja yang terjadi saat pasar beranjak lengang ketika malam, dianggapnya sebagai bunga mimpi. Tak terlalu dirisaukan. Terpenting tidak mengganggu. Apalagi minta sesuatu. Nyaris tiap malam, dia dibangunkan pembeli. Dengan terkantuk, Bibit pun setia meladeni.

Di lapaknya, Bibit menggelar berbagai rupa kembang. Mulai mawar merah, kenongo, kantil hingga melati. Juga, minyak serimpi dan boreh berbahan tepung yang dicampur pewarna makanan berwarna kuning. ‘’Orang meninggal dunia itu sewaktu-waktu. Sering tengah malam dibangunkan (pembeli) yang kesripahan (meninggal dunia),’’ kata nenek yang dua tahun lagi genap usia kepala tujuh, itu.

Sehari-hari hanya tiga hingga lima pedagang kembang. Bibit salah satunya. Namun, saban malam Jumat Kliwon datang puluhan pedagang ikut berjualan di Pasar Sleko. Dari Kabupaten Madiun, Magetan, hingga Ponorogo. ‘’Kalau hari biasa, hanya beberapa,’’ tegasnya.

Bibit mulai jualan bunga dua bulan terakhir. Ketika itu, dia berangkat dini hari numpang mobil sayur dari Magetan yang menuju Pasar Sleko. Sejak itu pula, dia belum pernah kembali ke rumahnya di Kenongo Mulyo, Nguntoronadi, Magetan. Nenek sebatang kara itu menghabiskan waktunya berjualan kembang. Dia hanya beranjak saat adzan berkumandang dari masjid di depan lapaknya. Atau, saat mandi dan makan. ‘’Sehari tidak pasti. Kadang dapat Rp 28 ribu, kadang juga sepi,’’ ungkapnya.

Bibit pilih menelateni usaha kecil ini lantaran tidak ada pilihan untuk menopang hidup. Fisiknya yang telah termakan usia tidak kuat lagi jika harus menjadi buruh tani lagi. Baginya, bunga selalu dibutuhkan orang. Baik saat senang maupun sedih. Kembang boreh misalnya, selalu dibutuhkan saat ada orang meninggal dunia dan nyekar ke makam. Itu perpaduan antara bunga mawar, melati, kenongo, dan kantil. Lalu diberi boreh berbahan tepung yang dicampur pewarna makanan berwarna kuning. Setelah itu diberi sedikit minyak serimpi dengan wanginya yang khas. ‘’Sebungkusnya bisa tiga sampai lima ribu. Untuk sesajen tinggal ditambahi suruh, gambir dan kapur,’’ sambungnya.

Kembang boreh biasanya juga digunakan untuk memendam ari-ari bayi. Sementara kembang telon terdiri dari kantil, mawar, dan kenongo tanpa diberi boreh dan minyak serimpi. Biasanya untuk selamatan tujuh bulan kelahiran bayi (weton). Ada juga yang membelinya untuk disiramkan ke kendaraan atau barang yang baru dibeli. Sebagai wujud syukur dan mengharap keselamatan kepada Tuhan. ‘’Direndam semalam kemudian airnya diminum, bunganya ditabur di depan rumah,’’ sambungnya.

Motivasi lain yang membuat Bibit pilih bertahan berjualan kembang karena ingin membantu orang lain yang sedang kesusahan. Untuk menambah pendapatan, Bibit bantu petik cabai di penggilingan padi mulai pukul 03.00 dini hari. Memetik satu kilogram cabai diupah Rp 1.000. Saat adzan shubuh dia meninggalkan pekerjaan itu dan bisa menyelesaikan lima kilogram. Usai jamaah dia kembali menunggui dagangannya. ‘’Kalau ada yang minta rumahnya dibersihkan, saya juga berangkat,’’ tuturnya.

Pekerjaan tambahan itu dia lakoni agar dapat bertahan hidup. Sebab bunga segar yang biasanya dia ambil dari Magetan dan Kediri itu hanya sanggup bertahan dua hari. Kalau sudah layu tidak laku. Selain jualan bunga, dia juga menyediakan daun pandan dan buah jeruk untuk bahan masakan. ‘’Iya, kedinginan. Kalau nanti sudah turun hujan, barang ditaruh di depan pintu toko. Tapi kalau tokonya sudah tutup,’’ ucapnya. *** (fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button