Pacitan

Sebaran Covid-19 di Sudimoro Jadi Perhatian

Satu Transmisi Lokal, Dua Imported Case

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Penularan Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Jika sebelumnya transmisi lokal paling dominan lantaran terpapar dari klaster Temboro dan pelatihan pendampingan haji, ada pergeseran sebaran kasus di Pacitan saat ini.

Angka positif karena imported case atau terjangkit saat berada di zona merah Covid-19 justru menunjukkan peningkatan cukup tajam. Pada Sabtu lalu (27/6), dua dari tiga tambahan kasus baru positif Covid-19 merupakan imported case.

Masing-masing adalah warga Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, dan Desa Ngreco, Kecamatan Tegalombo. Keduanya diketahui mempunyai riwayat perjalanan dari Surabaya. Setibanya di Pacitan, mereka langsung sakit dengan gejala menyerupai Covid-19. ‘’Pasien asal Tulakan yang sudah dinyatakan sembuh pada Sabtu lalu juga merupakan kasus impor dari Surabaya,’’ kata Wakil Ketua Tim Gugus Tugas Penanggulangan (TGTP) Covid-19 Pacitan Yudi Sumbogo dalam keterangan persnya Minggu (28/6).

Kondisi itu kemudian disikapi serius oleh TGTP. Mereka meminta kebijakan karantina mandiri bagi warga yang usai bepergian dari zona merah tetap diberlakukan. Hal tersebut sebagai bentuk antisipasi penularan virus korona. ‘’Warga juga diminta rutin melaporkan ke pemerintah desa (pemdes) kalau ada anggota keluarga atau tetangga yang baru pulang dari zona merah,’’ imbuh Jubir TGTP Covid-19 Pacitan Rahmad Dwiyanto.

Saat ini dua pasien positif Covid-19 impor tersebut dirawat terpisah. Pasien dari Tegalombo diisolasi di wisma atlet, sedangkan pasien asal Ngadirojo dirawat di RSUD dr Darsono dengan status pengawasan.

Selain dua kasus tersebut, Rahmad mengungkapkan dugaan penularan virus korona dari pasien ke-19 yang sudah meninggal pekan lalu meluas. Kepala sekuriti tempat kerja pasien tersebut dinyatakan positif Covid-19. Pasien asal Desa Sumberharjo, Kecamatan Sudimoro, itu kini dirawat di wisma atlet.

Rahmad menyebut perkembangan kasus Covid-19 menjadi perhatian pihaknya. Karena potensi persebaran penularan virus di wilayah tersebut sangat besar. Meski demikian, TGTP belum sampai menetapkan kasus itu sebagai sebuah klaster. Melainkan sebatas transmisi lokal. ‘’Saat ini (proses) tracing telah dilakukan oleh tim (surveilans),’’ ujar mantan kadinkes tersebut. (gen/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close