MadiunPendidikan

SDN 01 Pangongangan Fasilitasi Pembelajaran Tatap Muka

Masuk tanpa Seragam, Sehari Belajar Dua Jam

SDN 01 Pangongangan memberlakukan pembelajaran tatap muka bagi tujuh siswanya di kelas IV. Kegiatan yang lebih tepat disebut les di sekolah itu semata demi menjembatani siswa yang tidak memiliki handphone untuk mengakses internet.

NUR WACHID, Jawa Pos Radar Madiun

TINO Andrianto bukan anak gedongan. Untuk bertahan hidup, bocah itu berjualan tisu bersama Mujiati, neneknya. Kakeknya telah meninggal dunia. Kedua orang tuanya entah ke mana. Bagi anak sekecil itu, beratnya jalan hidup bukanlah beban. Karena memang sebelum pandemi, jualan tisu sudah dilakoni setiap hari.

Tak lebih berat dari menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi ini. Lantaran harus membeli pulsa internet Rp 65 ribu sebulan. Dia mulai lega setelah dua pekan lalu sekolahnya memberi les tambahan. Dua jam setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 09.30. ‘’Enak belajar di sekolah, kangen guru dan teman-teman,’’ ujarnya.

Ya, sejak dua pekan terakhir SDN 01 Pangongangan memutuskan menerapkan pembelajaran tatap muka dengan intensitas ringan. Bukan tatap muka resmi, sekadar memfasilitasi murid yang kesulitan fasilitas pembelajaran dalam jaringan (daring). ‘’Nggak mau lagi kalau belajar online, sulit,’’ ungkapnya.

Revalina Putri, siswa lainnya yang kemarin duduk paling depan, terlihat belajar dengan mengenakan masker dan face shield. Dia ke sekolah diantar orang tua setiap harinya. Seperti siswa lainnya, Putri tidak mengenakan seragam sekolah. Pakaian bebas rapi serta bersepatu. Kegirangannya bersama temannya sekelas tak terbendung. Dia cukup fasih saat wartawan koran ini menyapa dan mewawancarai. Selain senang belajar di sekolah, dia mengaku terkadang kesulitan dalam memahami materi. Apalagi orang tuanya juga kurang mampu memahami materi pelajarannya. ‘’Kadang orang tua saya itu nggak bisa. Maksud pelajarannya ini apa. HP-nya lemot juga,’’ kata Putri.

Kepala SDN 01 Pangongangan Suprijadi mengatakan, pembelajaran yang diterapkan bukan seperti pembelajaran penuh pada umumnya. Sekadar tambahan pelajaran atau les. Itu pun dilakukan atas desakan orang tua. Suprijadi telah meminta orang tua dari ketujuh siswa itu membuat surat pernyataan sebelum mengabulkan permintaan mereka. ‘’Semula tiga dari tujuh siswa kelas IV ini kesulitan mengikuti pembelajaran daring karena tidak memiliki fasilitas memadai. Tapi, orang tua dari empat siswa lainnya minta perlakuan sama,’’ terangnya.

Sekali lagi, Suprijadi menegaskan pembelajaran tatap muka di sekolahnya sebatas tambahan pelajaran. Guna memudahkan siswa yang orang tuanya tidak memiliki fasilitas pembelajaran yang menunjang. ‘’Pembelajaran maksimal dua jam. Datang-pulang siswa juga wajib diantar-jemput orang tua,’’ tegasnya.

Dia pun memastikan pelaksanaan les tambahan ini disertai penerapan protokol kesehatan secara ketat. Setiap kali siswa datang maupun pulang, wajib cuci tangan dengan sabun dan air mengalir di tempat yang disediakan. Juga, diwajibkan cek suhu, mengenakan masker dan face shield, serta duduk di bangku berjarak 1-1,5 meter. ‘’Siswa kelas IV ini kan dasar. Artinya, materi untuk bekal ke tingkat selanjutnya itu ya dari kelas IV ini. Apalagi siswa kesulitan jika hanya pembelajaran daring. Kami memfasilitasi karena dari keluarga mereka juga kesulitan ekonomi,’’ lanjutnya.

Suprijadi juga paham dampak PJJ jika dipaksakan bagi siswa yang terkendala fasilitas. Mulai ancaman putus sekolah, hingga anak berhadapan hukum. Sebab, jika mereka nekat, dikhawatirkan melakukan segala cara untuk mendapatkan fasilitas seperti handphone dan akses internet. Dia juga paham terdapat kesenjangan capaian belajar yang disebabkan perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh. Terutama bagi siswa dari sosio-ekonomi berbeda. Dilatarbelakangi tingkat pendidikan orang tua. ‘’Karena itu, kami pikirkan matang dan minta persetujuan orang tua. Agar kualitas pendidikan antara anak satu dengan lainnya dapat merata,’’ paparnya.

SDN 01 Pangongangan juga memfasilitasi PJJ bagi siswa yang memiliki fasilitas lengkap. Pun, home visit secara berkala. Dia berharap langkah yang ditempuh sekolahnya dapat dipahami semua pihak. Jika tak dibenarkan, tentu harus disertai solusi konkretnya. Agar penguraian persoalan tidak melulu dipautkan pada urusan salah dan benar. Melainkan menjadi pemikiran bersama untuk merawat masa depan generasi penerus bangsa. ‘’Pembelajaran ini kami sebut tatap muka tak resmi atau les. Karena itu, siswanya tidak mengenakan seragam,’’ jelasnya.

Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun Slamet Hariyadi tak melarang inisiatif pembelajaran yang ditempuh SDN 01 Pangongangan. Upaya itu dipandang sebagai wujud fasilitasi kepada siswa dan wali murid yang tidak memiliki fasilitas memadai untuk melakukan pembelajaran daring. ‘’Harus tetap memperhatikan protokol kesehatan dan pembelajarannya terlaporkan secara intens kepada kami,’’ ujarnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close