Ponorogo

Scarsaring Rebut Medali Emas YSIS 2019

Fikri Syahrir Robi baru saja diganjar medali emas di ajang Young Scientist International Seminar and Expo (YSIS) 2019. Bersama tiga rekannya, dia membuat Scarsaring. Sebuah prototipe pendeteksi lisensi pengendara.

——————-

DILA RAHMATIKA , Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

Tiiiiiiit. Alarm berbunyi dari prototipe Scarsaring. Alat bernama lengkap smart card safety riding inilah yang menarik perhatian YSIS 2019 di Unversitas Brawijaya (UB) Malang. Di hadapan juri, Fikri Syahrir Robi beserta tiga rekannya mempresentasikan spesifikasi dan kinerja alat itu. ‘’Kalau pengemudi nggak punya SIM, roda dari miniatur mobil ini nggak akan bisa jalan atau berputar. Alarmnya berbunyi,’’ kata Fikri.

Pendek kata, alat rakitannya ini dapat mendeteksi apakah si pengemudi berlisensi atau tidak ketika disambungkan dengan mesin mobil. Prototipe itu juga dilengkapi slot SIM lengkap dengan komponen alat untuk scan kartu tersebut. Bentuk SIM menyerupai e-KTP. Alat ini masih dalam penyempurnaan dan proses hak paten,’’ ujar warga Jintap, Wonokerto, Jetis, itu.

Medali emas yang ditoreh Fikri cs kategori kebijakan publik. Bersaing ketat dengan tim tuan rumah yang kala itu juga tak kalah menarik. Menciptakan trotoar ramah disabilitas. Juga, bersaing dengan peserta dari berbagai negara. Seperti Palestina, Uzbekistan, Sudan, dan Malaysia. ‘’YSIS tahun ini diikuti 107 peserta,’’ jelasnya sembari menyebut juga meraih penghargaan poster terbaik.

Sebelumnya, mereka harus melalui tahapan seleksi abstrak, juga poster. Hasilnya, abstrak terpilih diminta untuk mempresentasikan menggunakan bahasa Inggris dalam ekspo sains. Butuh waktu satu bulan lamanya bagi Fikri dkk membuat prototipe tersebut. Pasalnya, komponen yang dibutuhkan sebagian besar dari pasar online. ‘’Nunggunya lama, bisa lima hari sampai seminggu. Baru perakitan sampai finishing,’’  ucap bungsu dua bersaudara ini.

Ide pembuatannya menyikapi maraknya pelajar nekat berkendara tanpa lisensi. Ke depan, dia ingin terus berinovasi demi persoalan masyarakat. Sedari kecil, Fikri gemar utak-atik. Sejumlah prestasi bergengsi pernah diraihnya semasa sekolah. Lulus sekolah, dia mantap memilih jurusan biologi. Guru biologinya semasa SMA, Sacrur Rohman, yang menginspirasinya ‘’Beliau guru sekaligus dokter hewan. Sampai sekarang, kami rajin berdiskusi. Saya pernah bikin obat cacing ayam dari limbah kayu putih,’’ pungkasnya. ***(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close