Advertorial

Satu Dekade Bupati Indartato, Kinerja Sarat Prestasi

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Satu dekade Indartato menakhodai Pacitan. Tak terbayang sebelumnya bila seragam bupati purna disandangnya dua periode. Pria kelahiran Ponorogo 66 tahun silam ini mengabdi ke negara sejak usia 23 tahun.

Awal menginjakkan kaki di pendapa sebagai tenaga kontrak PP31, 1975 silam. Indartato yang kala itu berusia 23 tahun cita-citanya sederhana namun bersahaja. Kala itu dia ingin menjadi pegawai yang berguna bagi pimpinannya. ‘’Dulu saya hanya sopir bupati. Dulu saya tinggal di bangunan belakang pendapa. Waktu itu sama pak bupati disuruh mengantarkan putra-putranya sekolah. Kalau ke Surabaya gak ada sopirnya, saya yang antarkan,’’ kenangnya.

Pak In –sapaan Indartato- yang meniti karir kepegawaian dari nol paham betul seluk beluk Pemkab Pacitan. Buah kerja keras membuatnya berkesempatan menempuh pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) hingga resmi menjadi aparatul sipil negara. Berbagai jabatan pernah diduduki mulai camat hingga kepala kepala dinas. ‘’Sama sekali tak menyangka akhirnya terpilih menjadi bupati,’’ tuturnya.

Menakhodai Pacitan bukan perkara gampang. Pak In kenyang betul pahit-manis perjuangan memajukan kabupaten paling selatan di Jawa Timur ini. Dia pun paham tak bisa kerja sendirian untuk memuaskan masyarakat di Pacitan. ‘’Tidak mudah. Bahkan belum tercapai, saya menyesali diri sendiri karena tidak mampu. Pengin saya Pacitan lebih maju, rakyatnya sehat dan pintar,’’ terang suami Luki Tri Baskorowati, itu.

Kinerja Pak In yang selalu membumi itu pun sarat prestasi. Bahkan, nyaris menyapu bersih opini wajar tanpa pengecualian (WTP). Sepuluh tahun memimpin kabupaten ini, mendapat sembilan predikat dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kinerja pemerintahan di bawah kendali Pak In rajin mengevaluasi setiap hasil audit. Konsistensi pengawasan ini dilakukan setiap tahunnya. Pak In tak pernah segan menerima aduan langsung masyarakat terkait kinerja organisasi perangkat daerah (OPD). ‘’Semua kebijakan belum tentu menyenangkan masyarakat. Semua perlu disikapi dengan bijaksana agar tetap bisa diterima,’’ katanya.

Pak In paling perhatian urusan sosial kemasyarakatan. Hari-harinya banyak digunakan untuk menekan angka kemiskinan hingga meningkatkan taraf waktu pembelajaran sesuai yang diwajibkan. Pendidikan dan ekonomi bak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Keduanya terus diperjuangkan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Di samping mendongkrak potensi pariwisata, budaya dan produk lokal. ‘’Semoga masyarakat Pacitan tetap adem, ayem, tentrem dan rukun. Syukur-syukur dompetnya semakin tebal,’’ harapnya. (gen/fin/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button