Ponorogo

Sang Penari Kumala Ziani Ramadhani

Sehabis Lebaran Bisa Pentas Setiap Hari

Kumala Ziani Ramadhani lahir dari rahim seorang penari jathil. Dia dibesarkan di lingkungan yang juga pegiat seni reyog. Hingga sepuluh tahun tetap konsisten menggeluti seni tari tradisional itu. Meski tak terikat paguyuban, banjir tawaran manggung sampai membuatnya harus menolak.

====================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

AKUN Instagram @kumala_zrrr hanya berisi tiga unggahan foto. Namun, akun Instagram milik Kumala Ziani Ramadhani itu diikuti 130 ribu orang. Dia juga memiliki akun bernama @kumalazr_fans yang merupakan akun bagi para penggemar penari jathil dengan pengikutnya 948 orang. Boleh jadi Kumala merupakan salah seorang penari jathil terpopuler di Ponorogo saat ini. ‘’Karena suka, jadi tidak terasa sudah sepuluh tahun menggeluti jathil,’’ kata Kumala Kamis (26/12).

Kumala kini masih duduk di bangku kelas XII SMAN 3 Ponorogo. Dara 18 tahun itu mulai belajar jathil sejak usia delapan tahun. Semasa masih duduk di bangku kelas II SD. Dia tertarik karena sudah diajarkan tari jathil sejak kecil oleh sang ibu. Ibundanya dulu sempat menari jathil di salah satu paguyuban. ‘’Karena kakek ketua paguyuban reyog di desa, akhirnya saya ikut belajar di paguyuban. Di rumah juga diajari oleh mama,’’ terangnya.

Lambat laun, Kumala mulai mahir. Lantaran jiwanya sudah menjadi jathil sejak kecil. Gerak gemulainya pun aduhai memikat hati penonton. Didukung parasnya yang juga cantik. Memasuki bangku SMA, tawaran jathil semakin berdatangan. Apalagi setelah penampilannya diunggah di media sosial. ‘’Tidak bisa menghitung berapa banyak. Kalau habis Lebaran bisa pentas setiap hari,’’ ujar perempuan kelahiran 18 November 2001 itu.

Kumala tak bosan menari jathil lantaran banyak pengalaman yang bisa dia rasakan. Keluar kota, tampil di hadapan banyak orang, menampilkan keahlian yang dia sukai sejak kecil. Namun, pentas tak selalu berlangsung lancar. Kadang ada beberapa orang yang masih memandang reyog sebelah mata. Juga bersikap sinis terhadapnya. ‘’Tapi saya tetap enjoy. Karena saya menghibur bagi yang suka. Kalau yang tidak, ya terserah,’’ ucapnya.

Uniknya, Kumala selama ini tidak tergabung dalam paguyuban. Dia penari independen. Kumala biasanya diundang langsung untuk ikut pentas di pertunjukan. ‘’Jadi, tidak terikat satu dua paguyuban saja. Di mana pun saya bisa main. Dan saya juga tidak mematok berapa,’’ tuturnya.

Tawarannya bahkan datang dari ibu kota. Namun belakangan dia sering menolak karena terbentur jadwal di sekolah. Maklum, Kumala kini tengah fokus mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Dia kini membatasi hanya menerima tawaran pentas di akhir pekan atau di malam hari. ‘’Nanti setelah lulus rencana mau melanjutkan kuliah, tapi tetap nyambi jathilan,’’ ujarnya beralasan bahwa jathil dan kesenian lain pasti ada masanya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button