Ngawi

Saliyem, Calon Jamaah Haji Tertua asal Ngawi

Berangkat ke Tanah Suci tahun ini tidak disangka-sangka Saliyem. Nenek 80 tahun itu termasuk dalam prioritas dengan berisiko tinggi. Kesehatan diklaim tak jadi masalah bagi calon jamaah haji (CJH) tertua ini.

———————-

DENI KURNIAWAN, Ngawi

RUANG tamu salah satu rumah di Desa Beran, Ngawi, Kamis sore (4/7) didatangi banyak tamu. Mereka duduk rapi bersila di atas karpet. Paling ujung ruangan, Saliyem, sang tuan rumah, asyik berbincang dengan beberapa tamu di sebelah kiri dan kanannya. Sebelum akhirnya satu per satu tamu yang mengenakan peci dan kerudung itu pamit undur diri. ‘’Semoga jadi haji yang mabrur,’’ kata salah seorang tamu kala menyalami Saliyem.

Saliyem termasuk di antara 314 calon jamaah haji (CJH) asal Ngawi yang diberangkatkan ke Makkah, Arab Saudi, lewat Embarkasi Haji Surabaya kemarin dini hari (5/7). Dari jumlah tersebut, dia adalah yang tertua dengan usia 80 tahun. Tiga anaknya ikut menemani ke Tanah Suci sebagai pendamping. ‘’Alhamdulillah, bisa berangkat bersama anak-anak,’’ ujar nenek 14 cucu dan 13 buyut itu.

Menunaikan rukun Islam kelima sudah menjadi impian Saliyem sejak mendaftar 2013 lalu. Mengacu daftar antrean haji yang ada, semestinya ibu tujuh anak ini belum bisa berangkat tahun ini. Akan tetapi takdir berkehendak lain. Usianya yang sudah lebih dari 60 tahun hingga dikategorikan sebagai CJH risiko tinggi (risti) membuatnya masuk dalam porsi prioritas kloter pemberangkatan tahun ini.  ‘’Tiga anak saya (dua kandung dan menantu, Red) daftar haji tiga tahun lebih awal,’’ terangnya.

Saliyem tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya bisa ke Masjidilharam. Apalagi, ada cerita di balik keputusannya mendaftar haji. Istri Sarjo Wonosidi ini awalnya tidak berani ngomong ke anak-anaknya bila ingin naik haji. Namun, tekadnya berubah bulat kala mendengar putri pertamanya mendaftar haji lebih dulu. ‘’Saya diam-diam menjual tanah di Pacitan untuk biaya mendaftar,’’ ucapnya seraya menyebut niatan naik haji dipendam setelah suaminya meninggal 19 tahun silam.

Saliyem merasa fisik bukan menjadi persoalan. Dia rajin menjaga kesehatan setelah dipastikan masuk kloter pemberangkatan tahun ini. Menjaga porsi dan menu makanan hingga olahraga ringan demi kebugaran tubuh rutin dilakukan. ‘’Tidak boleh terlalu manis, asin, pedas, dan mengurangi santan. Kalau olahraga, setelah subuh jalan-jalan di depan rumah,’’ papar Saliyem.

Apalagi, Saliyem sudah pernah menapakkan kakinya di Tanah Suci tiga tahun silam dalam ibadah umrah. Dia juga berhasil mencapai puncak Jabal Rahmah, tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close