Ponorogo

Saksi Revolusi, Ingatkan Pentingnya Toleransi

PONOROGO – Di tengah memanasnya situasi politik berbalut agama dewasa ini, penting untuk memahami kembali hakikat ajaran pluralisme. Itulah yang selalu ditanamkan Muhammad Habibul Anami, pengasuh Pondok Pesantren Al Idris. Berbekal pengetahuan dan pengalamannya langsung menimba ilmu di negara yang sedang diliputi prahara.

Revolusi Mesir yang pecah 2011 silam masih terkenang di ingatan Gus Habib. Ketika itu, dia masih menyelesaikan studi pascasarjana di Institute Liga Arab, Mesir. Dia menjadi saksi pecahnya demonstrasi 18 hari tanpa henti yang sebagian besar  terpusatkan di Tahrir Square. Jaringan komunikasi dan internet lumpuh total. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Kota yang semula damai, mendadak menjadi lautan perang. Sebagai pelajar Indonesia, dia tetap harus bertahan dengan situasi dan kondisi di negeri Piramid saat itu.

Dia pun dipersenjatai lengkap dan dipercaya melindungi warga sipil di lingkungan tempat tinggalnya. Selama 24 jam nonstop, nyaris Gus Habib tidak pernah istirahat. Seluruh warga sipil panik dan ketakutan dengan situasi mencekam di Mesir. Gus Habib bersama pelajar asal Indonesia lainnya berjuang untuk melindungi warga sipil. Nyawa tiada arti begitu menceritakan dengan gamblang rangkaian demonstrasi besar-besaran yang terjadi waktu itu. ‘’Dampak revolusi begitu besar. Meskipun sudah selesai, dampaknya masih terus terasa,’’ kata Gus Habib.

Usai revolusi besar itu, Mesir berubah. Sebelumnya, seluruh penganut agama dihargai. Tidak terkecuali seluruh pelajar yang sedang menuntut ilmu. Mereka mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya. Namun, usai revolusi besar itu, toleransi antar umat seolah menghilang. Tersisa sikap saling curiga dan saling tuduh. Apalagi revolusi kembali pecah pada 2012-2013. Keadaan semakin mencekam dan mengancam nyawa. Termasuk mengancam seluruh pelajar asal Indonesia. ‘’Kita tidak terlibat, kita cari tempat aman dan kondusif,’’ tegasnya.

Revolusi kedua itu memaksa Gus Habib bersama pelajar lain mengungsi sementara sembari menunggu konflik mereda. Satu bulan penuh dia menghabiskan waktu di Arab Saudi. Di pengungsian, tidak menghalanginya untuk terus mendalami ilmu agama di Arab Saudi. Sekembalinya ke Mesir, Gus Habib semakin terheran. Warga sipil yang semula menghargai perbedaan menunjukan sikap acuh tak acuh. Namun dengan kerendahan hati dia berusaha agar tetap diterima di lingkungannya. ‘’Tetap harus membaur. Masih ingat perjuangan dulu membaur dengan masyarakat begitu sulit,’’ ungkapnya.

Gus Habib merantau ke Mesir pada 2002 silam. Usai mesantren di Madrasatul Quran Tebu Ireng, Jombang sejak 1995 silam. Meski telah terbiasa merantau, bagi Gus Habib berada di Mesir membutuhkan waktu panjang untuk beradaptasi. Setidaknya, sampai dua tahunan dia baru bisa benar-benar menyatu dengan warga setempat. Kuncinya, harus pandai menyelami bahasa sehari-hari. Dia pun sampai menjadi pengurus masjid agar menguasai bahasa. Waktunya banyak dia habiskan di masjid untuk bertemu orang banyak. ‘’Dari situlah saya akhirnya bisa memahami kultur dan budaya di sana,’’ ungkap pria kelahiran 1983 itu.

Lulus dari jurusan tafsir Universitas Al Azhar Kairo 2006, Gus Habib melanjutkan studi pascasarjana ke jurusan Filologi Institute Liga Arab, lulus 2013. Usai lulus, Gus Habib tidak langsung balik ke Indonesia. Dia ingin lebih mendalami ilmu agama. Baru sekitar 2017, dia balik ke Indonesia. Satu pelajaran penting yang dapat dia serap adalah tentang pluralisme. Khususnya dari dua revolusi besar yang mengguncangkan Mesir. Sekembalinya ke tanah kelahiran, dia meneruskan pesantren Al-Idris yang didirikan kakeknya, Mbah Idris. ‘’Banyak pelajaran penting yang saya dapatkan di luar pendidikan formal,’’ sambungnya.

Gus Habib matang mengajarkan ilmu Quran dan berbagai kitab salafi. Dia pun intens terus mengenalkan dan mengajarkan tentang pluralisme. Agar generasi mendatang senantiasa menjunjung tinggi perbedaan. Yang tak lain amalan dari falsafah bangsa, Bhineka Tunggal Ika. Dari situlah dia melahirkan santri unggul dengan segudang prestasi. Pun sederet prestasi juga dia telurkan. Mulai menjadi pembimbing jamaah haji Indonesia mewakili mahasiswa Mesir 2006 dan 2007, ketua alumni Al Azhar Mesir wilayah Mataraman di Indonesia sejak 2017-sekarang serta ketua alumni Ponpes Tebu Ireng Mataraman sampai sekarang. ‘’Jangan sampai Indonesia seperti Mesir ketika itu yang terpecah belah,’’ tutur suami Zamra Trisnawati Putri itu. *** (nur wachid/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close