NgawiPolitik

Sah, Ony-Antok Calon Tunggal

Masa Perpanjangan Tidak Ada Pendaftar

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Pasangan Ony Anwar-Dwi Rianto ’’Antok’’ Jatmiko dipastikan menjadi calon tunggal di Pilkada Ngawi 2020. Kepastian itu disampaikan KPU setempat dalam rapat pleno tentang hasil pendaftaran bakal pasangan calon (bapaslon) Pilkada Ngawi hingga masa perpanjangan ditutup Minggu malam (13/9) pukul 23.59. ‘’Sampai waktu berakhir tidak ada bapaslon lain yang mendaftar,’’ kata Komisioner KPU Ngawi Aman Rido Hidayat Selasa (14/9).

Setelah masa pendaftaran bapaslon ditutup pada 6 September lalu, pihaknya membuka masa perpanjangan selama tiga hari. Yakni, mulai 11 hingga 13 September. Sesuai ketentuan dalam PKPU pencalonan, partai politik (parpol) masih bisa mengubah dukungannya saat masa perpanjangan pendaftaran dibuka. ‘’Tapi, kenyataannya tidak ada yang berubah,’’ ujarnya.

Setelah ini, pihaknya akan melakukan verifikasi syarat pencalonan pasangan Ony-Antok. ‘’Finalnya tanggal 23 September nanti. Jika semua persyaratan memenuhi akan ditetapkan sebagai calon tunggal di Pilkada Ngawi 2020,’’ tutur Rido.

Sementara, kemarin Ony dan Antok mengikuti pemeriksaan kesehatan di RSAL dr Ramelan, Surabaya. Pemeriksaan kesehatan bagi bapaslon pilkada dilakukan dua hari. Hari pertama, yang diperiksa meliputi kesehatan umum dan kejiwaan. Sedangkan hari kedua pemeriksaan psikologis. ‘’Kami optimistis bisa lolos pemeriksaan,’’ ujar Ony. (tif/c1/isd)

Minta KPU-Bawaslu Lakukan Analisis

PENURUNAN jumlah pemilih Pilkada Ngawi yang mencapai 16 ribu lebih dinilai wajar. Namun, harus dianalisis untuk mengetahui faktor penyebabnya. ‘’Jika tidak, dikhawatirkan banyak pemilih yang belum terdaftar sehingga turunnya cukup signifikan,’’ kata mantan Ketua KPU Ngawi Syamsul Watoni Selasa (14/9).

Toni -sapaan akrab Syamsul Wathoni- mengungkapkan, penurunan jumlah pemilih merupakan hal lumrah dalam sebuah pesta demokrasi. Apalagi, jika pembandingnya tidak sama. Misalnya, jumlah pemilu legislatif (pileg) dengan pemilihan bupati (pilbup). ‘’Perbedaan itu juga bisa mengakibatkan jumlah pemilih pilkada menurun. Sebab, saat pileg lalu, warga di luar Ngawi masih bisa dimasukkan, tapi sekarang tidak,’’ paparnya.

Selain itu, banyak faktor lain yang bisa mengakibatkan jumlah pemilih pilkada menurun. Mulai belum memiliki e-KTP hingga kondisi pandemi Covid-19. Namun, Toni menyatakan penurunan sebanyak 16 ribu perlu mendapat perhatian serius. ‘’Apalagi, kalau faktornya TMS (tidak memenuhi syarat, Red) karena meninggal dunia. Masa, dalam jangka setahun ada kematian 16 ribu penduduk,’’ ujarnya.

Menurut Toni, penurunan jumlah pemilih sebanyak 16 ribu lebih itu menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi penyelenggara, baik KPU maupun bawaslu, untuk mencari tahu kejelasannya. Jangan sampai ada pemilih yang tidak terdaftar. ‘’Kalau ada yang hilang 16 ribu lebih itu bisa jadi salah, meskipun DPS (daftar pemilih sementara, Red) itu fluktuatif,’’ pungkasnya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close