Madiun

Saatnya Tangan di Atas

KOTA kita memang masih belum ditemukan kasus positif korona. Paling tidak sampai saat ini. Saat saya menulis ini Minggu Minggu (19/4). Semoga tetap seperti itu sampai wabah ini berlalu. Tetapi bukan berarti kota kita tidak terdampak. Belakangan ini Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 lebih banyak bergerak untuk urusan dampak sosialnya. Hampir setiap pagi saya berkeliling bersama tim. Pakai sepeda. Timnya tidak banyak. Hanya beberapa kepala OPD. Tak lebih sepuluh. Kadang ada masyarakat juga.

Gowesnya juga jaga jarak. Seperti anjuran pemerintah pusat. Jaga jarak. Bersepeda punya banyak manfaat. Olahraga tentunya. Bisa meningkatkan daya imun. Ini baik sebagai penangkal virus. Korona tentu salah satunya. Manfaat lain, bisa jenak melihat kondisi warga saya. Bisa masuk ke gang-gang juga. Saya memang tidak suka dibalik meja. Apalagi saat pandemi seperti ini. Lebih suka keliling tetapi dengan standar keamanan yang dianjurkan. Pakai masker dan jaga jarak. Setelah itu langsung mandi. Bersih dan sehat.

Tiga kecamatan sudah saya kelilingi. Tiga hari berturut. Mulai wilayah Kartoharjo, Manguharjo, dan terakhir wilayah Kecamatan Taman, Jumat kemarin. Saya tentu tidak hanya bersepeda. Ada tim yang mengikuti. Saya sengaja mengajak tim Gugus Tugas Logistik. Yang poskonya ada di Rumah Dinas Walikota itu. Satu kendaraan berisi paket sembako selalu mengikuti. Kendaraan lainnya, mobil penyemprot dan sirkel untuk memberikan himbauan kepada masyarakat. Paket sembako saya salurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Jumlahnya, mungkin sudah lebih dari tiga ribu paket.

Pihak kelurahan saya minta untuk menghimpun data warga yang membutuhkan. Mulai janda, penjaga makam, modin, penarik gerobak sampah, anak stunting, hingga difabel. Sebelumnya, penarik becak, pemulung, tukang parkir, dan penghuni rusunawa juga sudah kita bagi. Mereka saya nilai cukup membutuhkan sembako saat ini. Biarpun ada yang sudah mendapat bantuan dari program BPNT pusat dan daerah, sembako tambahan ini bisa membantu. Apalagi, besaran BPNT yang diwujudkan bahan makanan itu hanya Rp 200 ribu sebulan.

Tentu tidak cukup untuk masyarakat dengan ekonomi paling bawah. Bantuan paket sembako ini bisa sebagai penyambung. Bahan makanan di rumah bisa berkesinambung. Harapannya, tidak ada masyarakat yang kesulitan makan akibat dampak sosial pandemi ini. Semoga kondisi ini tidak berlangsung lama. Ekonomi segera pulih. Masyarakat segera dapat beraktivitas normal lagi.

Bagaimana kalau berlangsung lebih lama dari prediksi? Tentu ini tidak kita harapkan. Dampak sosial yang ditimbulkan semakin menjadi. Artinya, butuh pasokan bantuan yang lebih banyak lagi. Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat yang sudah berbagi. Sudah ribuan bantuan yang dikirim ke posko tadi sampai saat ini. Di antaranya, komunitas gereja dengan 600 paket sembako, komunitas Tionghoa yang memberikan 2.500 paket sembako, Baznas Kota Madiun 100 paket, relawan Projo 127 paket, Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprjaan (IKAPTK) 100 paket, kelompok Kepala Sekolah Manguharjo berupa nasi kotak dan kopi susu 40 bungkus, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Real Estate Indonesia (REI), PT Inka, Bank BRI, serta gabungan UMKM dan koperasi.

Jumlahnya masing-masingnya saya lupa. Tetapi yang jelas mereka sudah berdonasi. Tidak hanya sembako tapi juga alat perlindungan diri. Kebanyakan masker. Seperti Bank BRI yang menyumbang 1.300 masker. Begitu juga gabungan UMKM dan Koperasi yang menyumbang 1.786 masker. Bantuan juga datang dari perseorangan. Maaf saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu. Terlalu banyak. Mungkin saat ini sudah bertambah. Semua yang berdonasi dicatat petugas di posko. Begitu juga barang yang keluar. Hampir semua sudah disalurkan. Bersamaan saya keliling tadi. Saya juga tahu ada yang bergerak secara mandiri. Memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Beberapa kali saya di jalan. Tidak masalah yang penting berbagi untuk masyarakat yang membutuhkan.

Saya memang mengawali untuk berbagi. Sebelum posko logistik ada. Berupa beras, gula, dan minyak. Saya belanja sendiri ke gudang PG Redjo Agung untuk gulanya. Kemudian saya bagikan. Alhamdulillah, itu diikuti teman saya. Yang punya kecap dan tepung itu. Sudah saya bagikan juga. Tak disangka, bantuan lain terus berdatangan sampai saat ini. Uluran tangan para dermawan ini sangat membantu. Apalagi, jika pandemi ini berlangsung sampai beberapa bulan ke depan.

Saya juga mengajak yang berdonasi saat pembagian. Biar mereka ikut melihat kondisi masyarakat. Siapa tahu tergerak membantu lagi. Posko terbuka 24 jam menerima segala jenis bantuan. Saat ini, saatnya tangan di atas. Saatnya kita berbagi. Tidak harus sembako maupun APD. Masyarakat bisa menyumbang tenaga. Ikut menjaga dengan berdisiplin melaksanakan setiap anjuran dan saling mengingatkan. Saya juga minta masyarakat terus berdoa. Semoga pandemi ini segera pergi.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close