Opini

Saatnya “Mengetuk Langit”

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono (Pimpinan Ladima Tour & Travel)

KITA sekarang saatnya kian mendekatkan diri kepada Allah. Tuhan pencipta alam semesta. Bersujud dan berdoa. Memohon keajaiban-Nya agar pandemi Covid-19 segera dihentikan. Begitulah salah satu dari sekian untaian pesan Wapres Ma’ruf Amin dalam sambutannya saat Zikir Nasional pada malam Jumat (16/4) lalu. Zikir Nasional ini sebagai upaya pemerintah pusat bersama ulama “mengetuk langit” agar pandemi Covid-19 bisa ditangani secepatnya. Hilang!

Upaya “mengetuk langit” itu dilakukan setelah ikhtiar medis dan ragam tindakam belum menampakkan hasil yang signifikan. Jumlah yang terpapar Covid-19 di Indonesia kian hari kian menggelumbung besar. Melebar dan menjalar. Sementara itu menunggu vaksin dan obat yang cespleng juga belum ada.

Para ilmuwan dunia pun masih belum berhasil menemukan vaksinnya. Negara-negara Eropa seperti Italia, Prancis, Inggris, Jerman, Swiss yang dikenal jago bikin obat dan vaksin saat ini juga belum mampu berproduksi. Malah banyak warganya yang terpapar Covid-19. Amerika Serikat dan China yang dikenal sebagai negara adidaya itu juga tak berdaya menangkal laju pandemi Covid-19.

Malah, pandemi Covid-19 kini kian runyam dampaknya. Mengoyak tatanan sosial dan merontokkan perekonomian global. Bukan hanya merenggut jiwa. Inilah yang sekarang paling mengemuka. Ratusan ribu karyawan di Indonesia kini telah dirumahkan dan terkena PHK. Kondisi serupa juga menerpa dunia.

Dan, pandemi Covid-19 kini memunculkan ragam “wabah baru”. Paling utama adalah “wabah pengangguran”. Sebab, banyaknya perusahaan kini merumahkan dan mem-PHK karyawannya. Ancaman resesi dunia kini pun sudah di pelupuk mata. Jikalau benar terjadi resesi, sungguh, itu akan kian merepotkan kita.

Karenanya, sebagai bangsa yang beragama, pemerintah Indonesia melalui Zikir Nasional mengajak kita semua (khususnya umat muslim) untuk “mengetuk langit”. Mendekatkan diri kepada Allah. Bersujud dan berdoa. Memohon keajaiban-Nya agar pandemi Covid-19 segera berhenti. Hilang dan musnah dari bumi pertiwi; Indonesia. Agar kita semua anak bangsa ini bisa hidup normal kembali.

Kita semua bisa keluar rumah dengan leluasa, bisa kembali menghirup udara segar seperti sediakala. Betapa sesak dan jenuhnya kita hampir dua bulan sudah “terkurung” di rumah dalam rangka //stay at home// untuk menghindari pandemi Covid-19. Cuma bisa bergerak atau aktivitas dengan sangat terbatas. Apalagi, bagi mereka yang huniannya sepetak. Sumpek. Sungguh itu suatu siksaan tersendiri bagi mereka.

Maka, dengan hilangnya virus itu kita semua bisa beraktivitas kembali di luar rumah. Bagi pelajar bisa sekolah lagi. Mereka yang bekerja, bisa kerja lagi. Mereka yang jualan dan dagang, bisa berjualan dan berdagang lagi. Juga mereka yang suka olahraga, bisa berolahraga lagi. Bermain sepak bola atau voly. Begitu penyuka sepeda, bisa nggowes lagi. Mereka yang suka jalan-jalan dan berwisata, juga bisa jalan-jalan dan berwisata lagi. Roda ekonomi pun berderak kembali.

Kita semua tidak lagi dilanda rasa cemas dan was-was. Kita semua bisa hidup tenang dan tenteram. Senang dan bergembira. Sehat. Hidup seperti sebelum terjadi pandemi Covid-19. Kiranya itulah maksud dari pemerintah pusat mengajak kita semua untuk berikhtiar “mengetuk langit”.

Sepekan sebelum Zikir Nasional digelar, Pemprov Jatim sudah melakukan Istighotsah Kubro Online. Ikhtiar spiritual bersama para ulama secara online itu juga sebagai usaha “mengetuk langit”. Mendekatkan diri kepada Allah. Memohon agar pandemi Covid-19 atau virus corona dicabut dari bumi Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Dan, usaha mengetuk pintu langit ini juga diikuti pemerintah daerah lain dan para ulamanya.

Syahdan, bukan umat muslim saja yang melakukannya. Tapi, hampir semua pemeluk agama samawi juga melakukan hal yang sama. Alhamdulillah. Mereka semua juga
berusaha “mengetuk langit”. Mendekatkan diri kepada Tuhan. Memohon keajaiban-Nya agar pandemi Covid-19 segera berhenti. Dan, kita semua kini menunggu ketetapan dari langit. Allah.

Sebagai muslim, kita harus meyakini kekuasaan Allah. Dimana seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini, termasuk virus corona, adalah ciptaan-Nya. Bukan hal yang mustahil jika kita memohon dengan sungguh-sungguh, Allah akan mengabulkan permohonan kita. Secepatnya. Allah maha berkehendak. Untuk melenyapkan virus corona, Allah tinggal //kun fayakun//. Musnah, maka musnahlah virus corona. Hilang, maka hilanglah Covid-19 itu dari muka bumi. Subhanallah.

Tapi, apakah kita semua sudah bersungguh-sungguh berikhtiar “mengetuk langit”? Bersimpuh, meratap, dan penuh harap? Meyakini dengan segenap hati? Melakukannya dengan tulus dan ikhlas? Jangan-jangan kita tidak bersungguh-sungguh dalam usaha “mengetuk langit”. Seperti ketika diajak pakai masker, ternyata di antara kita banyak yang abai. Malah mbangkang menentang pakai masker. Ketika diajak tetap tinggal di rumah, di antara kita banyak yang kluyuran dan blakraan. Ketika diajak jaga jarak, di antara kita masih suka bergerombol. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close