Litera

Rumah

Cerpen Yuditeha

USAI geger Mei itu, tak ada yang tersisa, baik toko maupun rumah kita, semua habis, bahkan kedua anak kita ikut menjadi korban. Derita macam apa lagi yang bisa menandingi sakitnya? Menurutku, mungkin justru karena aku tak bisa lagi membayangkan perihnya derita itu, hingga aku sebenarnya lebih memilih tidak pergi. Aku ingin tetap tinggal, dan tidak bersembunyi. Lebih baik kita pasrahkan nasib kepada keadaan. Bahkan aku pernah bilang kepadamu, andai jiwaku ikut lenyap, menyusul kedua anak kita, aku rela. Karena kupikir kita memang benar-benar telah habis. Sekali lagi, sudah tidak ada yang tersisa. Jika pun katamu benar, dengan pergi harapan itu masih ada, sesungguhnya aku menganggap hal itu hanya secuil asa, agar kita terselamatkan. Tapi, menurutku, andai dengan pergi kita selamat, sesungguhnya kita tidak pernah yakin apakah jiwa kita nanti benar-benar bisa selamat.

Jiwa kita telah terluka, bahkan koyak. Bagiku, di mana pun tempatnya, tak ada yang mampu menyembuhkan, terlebih di tempat lain. Hal itulah yang membuatku tidak punya kepercayaan diri lagi, apakah hidup kita di perantauan akan bisa tenang kembali. Jika bisa sembuh, aku meyakini satu-satunya hanya di negara kita. Di sana kita terluka, di sana pula kita bisa disembuhkan. Jika memang benar begitu, mengapa kita susah-susah pergi? Karena semua yang ada di dunia ini kupikir sudah ada takdirnya sendiri-sendiri, pun dengan apa yang akan terjadi pada diri kita. Jika nasib kita selamat, di mana pun kita berada, kita akan diselamatkan. Tapi, meski aku mengatakan begitu, tetap tidak menyurutkanmu untuk mengajakku pergi ke Hongkong ini.
“Dilihat dari sisi mana pun, sepertinya memang sudah tidak ada lagi celah pengharapan, tapi sesungguhnya tidak adanya pengharapan itu bukan lantas membuat kita putus asa. Kehancuran bukan berarti kita harus menyerah begitu saja.” Kata-katamu itulah yang akhirnya membuatku menurutimu, pergi dari Indonesia.

Aku tahu, kamu berusaha tegar di hadapanku. Bahkan kamu terus membangun kepercayaanku agar aku bisa semangat lagi, meneruskan hidup kita yang sudah berantakan. Tapi sesungguhnya kamu salah, aku tidak putus asa. Semata aku hanya berpikir bahwa sehebat-hebatnya ketenangan di negeri orang, kupikir di negara sendiri akan lebih nyaman, alih-alih menunjukkan kepada orang bahwa kita memang benar-benar mencintai negara kita. Bagiku sesungguhnya bukan masalah semangat untuk hidup. Tapi hal yang sejatinya penting adalah usaha kita untuk meyakinkan bahwa kita telah menjadi bagian dari negara. Meski dengan begitu, mau tidak mau kita memang harus menghadapi cobaan itu. Perihal bagaimana nasib kita selanjutnya waktu itu, sesungguhnya memang aku belum tahu apa yang akan terjadi.

Aku menyadari kamu memikirkanku. Akulah yang sebenarnya kamu cemaskan. Kamu ingin kita terus bersama, mengarungi keadaan yang tidak menentu ini. Meski begitu, tampaknya kamu segera menyadari bahwa kita sedang terpojokkan oleh situasi, terlebih itu karena kamu merasa tidak punya kemampuan untuk menghalau segala petaka yang setiap saat bisa mengancam kita. Karena itu kamu sempat mengangankan menjadi orang yang punya kuasa. Tapi syukurlah, kamu cepat menyadari, dan menganggap hal itu hanya pikiran sia-sia. Karena itulah yang menyebabkan aku semakin kau mantapkan untuk mengikuti anjuranmu pergi ke Hongkong ini sesegera mungkin.

Aku masih ingat, sepanjang perjalanan ke Hongkong dulu, kamu memperhatikan aku. Beberapa kali kamu menanyakan keadaanku. Aku tidak menjawab sepatah kata pun, toh sebenarnya tanpa kujawab, kamu pasti sudah bisa menerka bagaimana kondisiku. Tanpa sadar aku lebih sering melihat ke luar pesawat melalui jendela kaca. Lalu kamu memeluk tubuhku, dan tanganmu mengelus-elus rambutku. “Kita akan mulai hidup kita dari awal lagi di sana,” katamu waktu itu.

Hongkong menyambut kita dengan tangan terbuka. Negara ini menampung kita seperti layaknya orang tua yang menerima kembali anak-anaknya yang telah lama pergi. Meski tidak dengan sikap yang meluap-luap, tapi aku tahu kamu cukup bersuka. Dan itu berbeda dengan perasaanku. Entah mengapa justru saat itu aku teringat dengan negara kita. Bagaimana keadaan negara kita saat itu? Terlebih aku memikirkan bagaimana dengan nasib jasad anak-anak kita yang ikut terpanggang, ketika api menjilat-jilati rumah kita. Detik itu juga justru aku merasa telah menjadi orang tua yang buruk, meninggalkan mereka berjuang sendirian melewati kesunyian yang kupikir tanpa ada ujung. Harusnya kita merumat mereka, paling tidak hal itu bisa kita lakukan sebelum kita pergi ke Hongkong ini.

Namun, ketika aku mengatakan apa yang menjadi kegundahanku itu, kamu menenangkanku dengan mengatakan bahwa kita tidak melakukan itu karena situasi sedang tidak memungkinkan. Lalu kamu mengingatkanku tentang peristiwa-peristiwa ngeri yang dialami oleh teman-teman kita. Penganiayaan dan perkosaan menimpa mereka dengan brutal. Kejadian-kejadian itu bukan isapan jempol belaka, bahkan kamu juga meceritakan kepadaku, tetangga samping rumah kita juga mengalami hal serupa. Kedua anak gadisnya diperkosa dan dianiaya di gudang belakang rumahnya hingga maut menjemput mereka. Kita memang tidak tahu kisah selanjutnya, terkhusus dengan nasib tetangga kita itu. Tapi katamu, kamu pernah mendengar kabar kedua orang tua para gadis itu mengalami depresi yang akhirnya meruntuhkan kejiwaan mereka. Dari cerita-ceritamu itulah aku terpaksa melupakan untuk memikirkan nasib jasad anak-anak kita.

Banyak orang menganggap, keberadaan kita di negara Indonesia hanya pendatang, terlebih anggapan dari mereka yang melakukan kejahatan itu. Padahal kita tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Kita tidak pernah merasa menjadi anggota dari negara selain Indonesia. Indonesia negara kita. Kita mencintai Indonesia. Bahkan Indonesia adalah rumah kita. Saat pemikiranku itu kusampaikan kepadamu, kamu menyepakatinya, tapi buru-buru kamu menambahkan, bahwa apa yang telah kita lakukan tidak cocok dipakai sebagai penilai bahwa kita bukan warga negara yang baik. Bukan juga sebagai kriteria untuk membuktikan apakah kita benar-benar warga Indonesia atau bukan. Apa yang kita lakukan semata karena keadaan agar kita selamat.

“Tuhan tahu, kita tidak sedang mengkhianati negara Indonesia. Kita hanya berusaha mencari keselamatan. Meski kita disayang Tuhan, tapi jika kita berdiam diri saat bahaya datang, itu sama saja kita sedang melakukan bunuh diri. Dan, bunuh diri macam begitu kupikir tidak dikehendaki oleh-Nya.” Lagi-lagi aku menyerah jika kamu sudah berbicara. Apa memang benar laki-laki selalu mengandalkan pikirannya? Lalu apakah ada juga yang berpikir sepertiku, bahwa tragedi itu tidak lantas membuat kita menjadi berkecil hati? Apakah aku tidak normal? Karena yang dianggap normal mungkin akan menyimpan dendam itu turun-temurun.

Yang menjadi korban banyak, kejahatan tak terhitung jumlahnya, kekejaman brutal merajalela, dan begitu tahu hal itu, mungkin yang masuk akal, peristiwa itu akan membawa trauma yang sulit disembuhkan. Tapi mengapa dengan diriku ini? Mengapa aku terkesan tak ingin mempermasalahkan peristiwa itu berlarut-larut, dan jika bisa, semoga sesegera mungkin berlalu? Bukan maksudku agar bukti perilaku kesewenang-wenangan itu dihapus, tapi semata agar negara kita segera pulih dari keterpurukan mental. Bahkan kedua anak kita ikut jadi korban pun, juga tidak lantas membuatku membenci Indonesia. Bagiku, semoga demikian juga kamu, Indonesia telah menjadi jiwa kita, dan kita tidak bisa memungkirinya. Jika pemikiran seperti itu sedang menggelayutiku, seketika aku ingin segera pulang, terbang ke Indonesia.

Hongkong memang berhasil membuat hidup kita penuh ketenangan. Negara ini sangat menerima kita dengan cinta. Bahkan kecintaan mereka mampu membuat kita seakan tak merasakan sesungguhnya negara ini sudah menampung kita lebih dari setahun lamanya. Tapi, di sela-sela waktu, aku sering merindukan Indonesia. Aku merasa di sanalah aku bisa menjadi diriku sendiri yang sebenar-benarnya. Sedangkan di Hongkong ini, senyaman apa pun di negeri ini, aku tetap merasa aku sedang piknik semata. Semacam kesenangan sesaat. Sudah berulang kali kukatakan bahwa Indonesia bagiku adalah rumah. Dan rumah menurutku adalah kenyamanan abadi.

Namun, setiap kali aku menyampaikan hal itu kepadamu, kamu selalu berusaha mengalihkan topik bicara. Jika pun terpaksa kamu harus menanggapi, kamu hanya mengatakan bahwa kondisi di Indonesia belum memungkinkan kita untuk kembali. Jika sudah begitu, aku hanya diam, tak bisa mendebatmu. Lagi-lagi aku harus menuruti apa yang kamu bilang. Bahkan aku sampai punya dugaan, mungkin kamu sudah tidak punya keinginan untuk pulang. Alasanmu tentang kondisi di sana belum memungkinkan, sebenarnya sekadar cara untuk memperpanjang waktu sampai saatnya kita mati. Paling tidak hal itulah yang selama ini kuyakini sebelum hal itu terbantahkan dengan peristiwa kemarin sore, saat kamu tiba-tiba menemuiku yang sedang tiduran di kamar. Kamu langsung duduk di pinggir bed, dan memandangiku lekat begitu lama, sebelum akhirnya tanganmu menyerahkan sesuatu kepadaku. Aku tidak langsung menerimanya. Kuamati apa yang ada di tanganmu itu, dan aku melihat dua lembar tiket pesawat terbang.

“Satu permintaanku, jangan pernah ragukan lagi kecintaanku pada Indonesia, karena benar apa katamu, di sanalah sebenar-benarnya rumah kita,” katamu terbata yang langsung membuatku menitikkan air mata. Lantas kamu memelukku erat. Dalam pelukanmu yang hangat, sekilas aku ingat, kejadian itu terjadi sehari setelah Gus Dur mengeluarkan Inpres .*

Yuditeha. Pegiat Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 17 buku. Buku terbarunya Sejarah Nyeri (Marjin Kiri, 2020), dan Tanah Letung (Nomina, 2020)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button