Madiun

Janji Kemendikbud Beli Rumah Sartono Tak Ada Kejelasan

MADIUN – Tiga bulan berselang, janji kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) membeli rumah Sartono tak ada kabarnya lagi. Sejak Yussubrasta, Kasubdit Program, Evaluasi, dan Dokumentasi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud bertandang ke rumah di Jalan Halmahera 98, 27 Februari lalu. Didampingi Walikota Madiun Maidi, Ketua Dinas Pendidikan Kota Madiun Heri Wasana dan Ketua PGRI Kota Madiun Hariyadi. ‘’Saya tidak tahu kelanjutannya,’’ tutur Damijati.

Kala itu, Damijati merasa senang ada perhatian dari kemendikbud yang berniat membeli rumah warisan tersebut. Informasi yang dia dengar, rumah bersejarah itu akan direvitalisasi menjadi museum. ‘’Katanya di depan rumah nanti mau dibuatkan patung Pak Sartono,’’ terangnya.

Ketua PGRI Kota Madiun Hariyadi mengaku telah berkoordinasi dengan kemendikbud. Dari sekjen kementerian itu, didapati informasi bila pemerintah pusat siap membantu pembebasan rumah yang berdiri di atas lahan 231 meter persegi tersebut. Namun, harus tetap melalui koridor aturan yang berlaku.  ‘’Harus ada SK Walikota yang menegaskan rumah tersebut sebagai cagar budaya dan sejenisnya. Setelahnya, walikota baru bisa mengajukan bantuan ke kemendikbud,’’ tuturnya.

Hariyadi pun telah menyampaikan persoalan ini seusai jamaah salat tarawih bersama walikota di rumah dinasnya beberapa waktu lalu. Hariyadi pun diminta berkoordinasi balik dengan kemendikbud, terkait format SK yang disyaratkan. ‘’Format SK seperti itu kami rasa sudah pernah ada. Kami dari PGRI sebatas menjembatani. Disparbud (dinas pariwisata dan kebudayaan) seharusnya ikut turun tangan. Selama ini yang mengikuti hanya dindik,’’ ujarnya.

Memang, harga yang dipatok di kisaran Rp 3,5 – 4 juta melebihi dari nilai jual objek pajak (NJOP) Rp 1,5 – 4 juta per meternya. Namun, apalah artinya harga yang selisih dua jutaan itu dengan besarnya kontribusi almarhum bagi negeri ini. ‘’Memang harga kelewat tinggi,’’ tuturnya.

Sementara itu, Kadisparbud Kota Madiun Agus Purwadigdo mengaku tidak banyak tahu tentang progres penjualan rumah maestro Hymne Guru tersebut. Selain masa depan rumah yang diproyeksikan menjadi sarana pembelajaran dan museum pendidikan. ‘’Dengarnya baru sampai itu saja. Belum tahu kelanjutannya,’’ pungkasnya. (dil/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button