Madiun

Rumah Cokelat Bodag, Setiap Bulan Habiskan Tiga Kuintal Kakao

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Roda ekonomi para petani kakao di Desa Bodag, Kare, kian bergeliat. Itu seiring adanya Rumah Cokelat Bodag (RCB). Keberadaan industri pengolahan hasil kakao membuat pangsa pasar semakin terbuka. ”Sampai saat ini kami hanya menerima kakao dari warga sini,” kata Sugito, ketua pengelola RCB, Senin (14/6).
Sugito mengungkapkan, dalam satu bulan pihaknya mampu menyerap rata-rata tiga kuintal kakao. Namun, hanya jenis kakao fermentasi yang diterima RCB lantaran memiliki kualitas lebih bagus. Aroma dan cita rasa hasil olahan kakao fermentasi, kata dia, lebih nendang sehingga lebih bernilai jual. ”Harga beli dari petani lebih tinggi,” ujarnya.

Dia menuturkan, RCB membeli kakao fermentasi dari petani hingga Rp 30 ribu per kilogram. Nominal itu bisa lebih tinggi tergantung kualitasnya. ”Sebelum ada RCB, harga kakao sempat jatuh sampai hanya Rp 10 ribu-Rp 15 ribu per kilogram. Kalau sekarang di kisaran Rp 30 ribu untuk yang fermentasi,” ungkapnya.

Petani setempat, lanjut Sugito, juga diuntungkan oleh tingginya tingkat kunjungan wisatawan ke RCB. Pada Minggu, pengunjung RCB bisa mencapai 150 orang. Sementara, hari-hari biasa berkisar antara 50-100. Kedatangan mereka mampu mendongkrak serapan kakao. ”Sekitar 65 persen rombongan keluarga. Selebihnya muda-mudi. Kebanyakan dari wilayah kabupaten dan Kota Madiun,” bebernya.

Berbagai produk hasil olahan kakao seperti cokelat minuman dan cokelat batangan menjadi yang paling diburu pengunjung RCB. Baik untuk dikonsumsi di lokasi sembari menikmati pemandangan alam maupun untuk oleh-oleh.

Sekadar diketahui, RCB yang dibuka sejak 2020 itu dikelola BUMDes Bodag. Pengolahan kakao menjadi cokelat di agrowisata itu menggunakan mesin modern bantuan pemerintah pusat senilai Rp 1,5 miliar pada 2019 lalu. (den/isd/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button