Madiun

Rudi Elkel dkk Rangkul Anjal agar Jalani Kehidupan Lebih Baik

Banyak cara untuk mengentaskan anak jalanan. Komunitas Crossline getol mengajak mereka melakukan kegiatan produktif agar meninggalkan kebiasaan negatif seperti mabuk-mabukan dan mengonsumsi obat terlarang.

—————————–

DI sebuah rumah Jalan Glatik sore itu, sejumlah pemuda tampak sibuk melukis papan kayu dengan tinta hitam. Membentuk aneka gambar. Mulai singa sampai sketsa wakil wali kota terpilih Inda Raya. Sementara, di tembok teras terpasang banner bertuliskan Crossline. ”Ini basecamp kami sekaligus rumah pemulihan,” kata Rudi Elkel, ketua Crossline.

Crossline merupakan singkatan dari Christian Underground Community. Yakni, komunitas yang merangkul anak jalanan (anjal) untuk meninggalkan kebiasaan buruk seperti mabuk-mabukan dan mengonsumsi obat terlarang agar kembali ke jalan Tuhan. ”Sasaran utamanya memang anjal,” ujarnya.

Empat tahun sebelum komunitas itu terbentuk, Rudi telah mendirikan rumah singgah pemulihan untuk anjal di Jalan Srindit. Singkat cerita, dia lantas mengenal salah seorang pengurus Crossline pusat di Surabaya. Rudi kemudian mendapat masukan agar membentuk Crossline di Madiun.

Usai terbentuk pada November tahun lalu, Rudi dkk menyusun kepengurusan. Mulai ketua, wakil, sampai bendahara. Kebetulan para member sepakat menunjuk dia sebagai nakhodanya. Saban Senin malam, mereka rutin berkumpul. ”Dulu kumpulnya di basecamp ini. Karena anggota semakin banyak, tempatnya nggak muat, akhirnya pindah ke sebuah rumah di Jalan Cenderawasih,” tuturnya.

Saat ini total member komunitas itu sebanyak 25 orang. Bukan hanya dari Madiun, ada pula yang berasal dari wilayah Jawa Tengah. Kendati mencantumkan nama Christian, tidak semua anggota beragama Nasrani. Beberapa ada yang muslim. ‘’Beberapa member adalah eks anjal dan pernah tinggal di rumah singgah,” ungkapnya.

Selama ini Rudi terbilang mudah menggaet anak jalanan. Sebab, dirinya adalah eks anjal, sehingga tidak kesulitan membangun pendekatan dengan sasaran. ”Dari 2002 sampai 2007 saya hidup di jalanan. Terus saya ke Papua. Di sana saya dapat pencerahan, lalu balik ke Madiun merangkul para anjal,” bebernya.

Member komunitas itu memiliki segudang kesibukan yang bisa menjadi ladang rezeki sekaligus menyalurkan hobi. Mulai dari menerima jasa pembuatan lukisan, sablon, hingga tato. ”Yang paling baru lukisan kayu. Hasilnya lumayan. Dijual via online,” ujarnya.

Saat ini mereka juga tengah disibukkan dengan persiapan menjadi tuan rumah acara Crossline tahunan yang bakal digelar di Madiun. Acara yang terbuka untuk umum itu mengundang Crossline berbagai daerah. ***(dila rahmatika/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button