features

RPH Tetap Sibuk di Masa PPKM Darurat

Aktivitas penyembelihan hewan kurban di rumah potong hewan (RPH) tahun ini berbeda dari biasanya. Petugas menerapkan prokes ketat demi meminimalkan potensi persebaran Covid-19.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

KEBIJAKAN pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat bersamaan melonjaknya kasus Covid-19 ternyata tidak menyurutkan niat warga Kota Madiun berkurban pada momen Idul Adha tahun ini.

Hal itu tecermin dari tingginya angka hewan kurban yang disembelih di rumah potong hewan (RPH) Jalan Mayjend Sungkono, Nambangan Kidul, Manguharjo. Jika pada 2020 lalu hanya sekitar 20 ekor, tahun ini naik menjadi tiga kali lipatnya. Tepatnya 50 sapi dan 11 kambing. ‘’Pemotongannya dilakukan selama tiga hari ke depan,’’ ujar Kardi, staf seksi peternakan dan kesehatan hewan RPH tersebut.

Penyembelihan hewan kurban di masa pandemi maupun PPKM darurat jauh berbeda dengan biasanya. Protokol kesehatan (prokes) ketat wajib ditaati petugas maupun warga yang berkurban. Pun, diupayakan tidak terjadi kerumunan. ”Akses masuk dibatasi. Selain itu, hewan kurbannya dicek dulu oleh dokter hewan sebelum disembelih,” terangnya.

Aktivitas pemotongan hewan kurban di RPH pada masa PPKM darurat juga mendapat perhatian khusus instansi terkait. Temuan sementara, terdapat hati sapi yang terkontaminasi fasciolosis (cacing hati). Juga seekor kambing yang paru-parunya mengalami gangguan. ‘’Harus dimusnahkan. Kalau tidak dibakar ya dikubur di tanah,” kata Muhammad Sulthan Rasyid Rifai, dokter hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun.

Sulthan lantas membeber kiat untuk memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat. ‘’Paru-paru yang normal warnanya merah muda. Tapi, jika ada bagian yang berwarna gelap, silakan diraba. Kalau kelihatan keras atau ada benjolan, dibelah. Jika isinya semacam nanah yang telah mengeras, sebaiknya dibuang saja,’’ bebernya.

Sementara, bagian hati sapi yang nomal warnanya merah tua kecokelatan. Jika terdapat bagian berwarna putih patut dicurigai mengandung cacing. ‘’Dibelah, kalau ada cacingnya, tidak layak konsumsi,” ujarnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button