Magetan

Roller Barrier Jalan Tembus Jujukan Swafoto Pengguna Jalan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pemasangan roller barrier di beberapa titik Jalan Raya Plaosan–Sarangan ibarat dua mata pisau. Satu sisi keberadaannya sebagai pengaman pengguna jalan yang melintasi ruas berkarakteristik menikung tajam dengan turunan curam.

Di sisi lain, spot jalan tembus itu belakangan marak dijadikan tempat nongkrong anak muda. Tidak sedikit yang selfie dengan background rangkaian besi beton yang dilengkapi benda menyerupai ban roda tersebut. ‘’Karena pemandangannya bagus dan warnanya mencolok,’’ kata Devinta, pengguna jalan yang berswafoto di roller barrier Senin (30/12).

Roller barrier dipasang di jalur tengkorak yang sering terjadi kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Sejak dipasang bulan lalu, lokasinya jadi jujukan para pengguna jalan. Entah untuk beristirahat atau berfoto. ‘’Tempat ini memang sering terjadi kecelakaan. Tapi, tidak ada yang melarang berhenti di sini,’’ ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Magetan Joko Trihono menyatakan, lokasi roller barrier bukan tempat yang aman untuk berhenti pengguna jalan. Ancaman bisa datang sewaktu-waktu dari kendaraan yang mengalami rem blong atau human error. Sebagaimana kasus-kasus yang selama ini terjadi. ‘’Tikungan itu sangat berbahaya,’’ katanya.

Pihaknya akan memasang rambu larangan parkir dan berhenti di sekitar roller barrier. Peranti itu juga bakal dipasang di dekat Taman Sarangan. ‘’Roller barrier bukan untuk tempat nongkrong,’’ tegas Joko. (fat/c1/cor)

Takeran-Kawedanan dan Maospati-Madiun Ngeri

JALAN Raya Takeran-Kawedanan dan Maospati-Madiun masih mengerikan. Di kedua ruas jalan itu banyak korban kecelakaan lalu lintas  (laka lantas) bergelimpangan. Kedua ruas jalan itu pun ditetapkan sebagai black spot. Angka laka lantas naik dari angka 598 pada 2018 jadi 777 kejadian pada 2019 ini. ‘’Tapi, jumlah korban meninggal turun dari 107 jadi 89 jiwa,’’ kata Kanitlaka Satlantas Polres Magetan Ipda Yudi Wiyanto Senin (30/12).

Korban didominasi kalangan karyawan atau pegawai swasta. Kendaraan yang kerap terlibat sepeda motor. Tahun lalu 884 motor, tahun ini 1.105 motor. Selebihnya mobil penumpang umum dan mobil barang. Juga ada kendaraan khusus lainnya. ‘’Kebanyakan tabrak depan samping,’’ sebut Yudi.

Dia memerinci, 951 korban laka tahun ini tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM). Tahun lalu 594 korban. Terbanyak pemilik SIM C 202 orang pada 2019. Tahun lalu 194 korban. Sisanya SIM A, SIM B-1 Umum, B-2 dan B-2 Umum, serta SIM D.

Lokasi kecelakaan di kawsan permukiman juga naik dari 577 jadi 776 kasus. Kebanyakan di jalan kabupaten yakni 572 kasus. Naik dari 396 pada 2018. Tahun ini nihil laka tol. ‘’Tahun lalu ada tiga laka tol dengan empat korban meninggal,’’ sebutnya.

Penyebab utama laka lantas kelengahan pengguna jalan. Keberadaan rambu-rambu lalu lintas tidak dibarengi kesadaran para pengguna jalan. Sehingga, laka lantas terus saja terjadi. ‘’Jumlah rambu-rambu sudah cukup, tapi kesadaran untuk keselamatan di jalan masih kurang,’’ ungkap Yudi.

Selama ini pihaknya getol sosialisasi safety riding. Wilayah Magetan tak hanya dataran rendah, tapi juga dataran tinggi. Untuk itu, para pengendara harus waspada. Apalagi di kawasan pegunungan yang cuacanya tak menentu. Kadang kabut menghalangi pandangan. ‘’Pengemudi harus tetap hati-hati,’’ imbaunya. (fat/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close