Madiun

Rochmad Eko Harijanto Ajak Santri-santrinya Bermain Permainan Tradisional ketimbang Gadget

Menjaga hafalan Alquran butuh pembelajaran dan pendampingan yang ekstra. Ustad dan ustadzah Pondok Pesantren Tahfidz Quran Ahmad Dahlan punya kiat khusus. Seperti apa?

————————————

FATIHAH IBNU FIQRI, Wonoasri

MENGHAFAL Alquran tak hanya sebatas menghafal. Namun, perlu kiat-kiat khusus. Meski tidak mudah, namun tetap dilakukan secara rutin. Tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan harus berulangkali mengingat hafalan agar hafalan tidak terlupakan. Murajaah (mengingat kembali) tiap hari pun memang perlu. ’’Ada buku khusus yang isinya agenda santri, harus murajaah berapa ayat dan hafalan lagi berapa ayat,’’ ungkap Rochmad.

Pun, tiap santri pun memang berbeda. Ada yang berkembang pesat. Ada pula yang biasa-biasa saja. Namun, seharusnya itu bukanlah menjadi hal yang cukup berarti selama mereka berusaha untuk menghafal dan mengingat hafalannya. Sehingga, mereka pun harus tiap hari mengaji. Para santri diajak untuk membaca Alquran. ’’Karena dasarnya memang membaca, kalau tidak membaca artinya belum memulai untuk menghafal,’’ katanya.

Bahkan, ada kiat-kiat tertentu dari pihak ponpes untuk terus membuat para santri bisa mengingat hafalan tersebut. Di antaranya adalah tidak boleh bermain gadget. Pun, anak-anak diajak untuk bermain engklek, dakon, dan permainan tradisional lainnya. Dengan begitu, kalau sudah masuk waktu untuk mengaji mereka pasti mengaji. Berbeda dengan bermain gadget yang kadang membuat mereka lupa waktu. ’’Sehingga nanti hafalannya ikut lupa, ini yang dikhawatirkan,’’ katanya.

Pun, di saat liburan sekolah pun mereka mengadakan santri kilat. Saat itu juga, para santri ditarget untuk bisa menghafal 1 juz. Jadi per hari ada 3 halaman yang harus dihafalkan. Keiatan itu diadakan sekitar seminggu saat libuaran. Hal itu memang jadi pertimbangan yang cukup baik, lantaran para santri cendrung tidak mengaji saat ada di rumah dan pilih hanya bermain saja. ’’Orang tua santri pun juga laporannya begitu, jadi beberapa hafalan santri pun hilang,’’ katanya.

Dengan begitulah, akhirnya dia pun membiasakan para santri untuk bermain permainan tradisional. Pun, ada juga ekstrakurikuler yang cukup populer dikalangan para santri. Yakni memanah. Setidaknya disiapkan 9 busur panah yang ada di ponpes itu. Pun, kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu. Sementara kalau ada kegiatan santri kilat saat libur sekolah kegiatan tersebut dilaksanakan di hari terakhir. ’’Sebagai tambahan kegiatan saat outbond,’’ katanya.

Terlebih, para pengajar pun juga menguasai kegiatan memanah. Sehingga, para santri pun juga tambah antusias. Mneurutnya, kegiatan seperti itulah yang memang cocok untuk para santri. Karena kegiatan tersebut terbilang langka. Dan para santri diberi  kesempatan untuk belajar memanah. Kegiatan tersebut pun juga berfungsi untuk melatih fisik dan mental par santri. ’’Dan tak hanya memanah, ada juga beladiri, dan renang dan kegiatan kepanduan,’’ katanya.

Selain itu,para santri pun juga diajari untuk berwirausaha. Seperti menanam tanaman secara hidroponik, beternak dan berdagang. Jelas, kata dia, itu memberikan menfaat yang banyak bagi para santri. Ketika sudah lulus mereka tak hanya bisa menghafal Alquran. Namun, juga mendapat ilmu untuk mencari nafkah dengan berdagang. ’’Itu sudah jadi program di ponpes ini, dan setiap santri harus mengikutinya,’’ katanya. *****(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close