Pacitan

Rini Eky Priyanti, Perempuan yang Jago Main Kendang Karawitan

Tak hanya piawai melantunkan lagu campursari, Rina Eky Priyanti juga jago main kendang. Talentanya itu berujung banyaknya undangan mengisi acara hiburan yang upahnya untuk membiayai kuliah.

 ————–

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

SENI pertunjukan budaya Jawa sudah mendarah daging bagi Rina Eky Priyanti. Mulai bersenandung campursari di atas panggung hingga menjadi sinden di bawah beberan wayang kulit. Gadis 21 tahun itu juga piawai menabuh kendang dengan kedua tangannya. ‘’Sudah empat kali pementasan main kendang,’’ kata Rina.

Warga Desa Jatigunung, Tulakan, Pacitan, ini masuk ke dunia campursari sejak SMK enam tahun lalu. Di sela kesibukannya bersekolah, dia membantu menjadi perias pengantin di salah satu salon tempat tinggalnya. Ibu pemilik salon itu ternyata akrab dengan grup campursari pengisi hiburan resepsi pernikahan. ‘’Diajak latihan grup campursari itu setelah mendengarkan saya menyanyi,’’ terang Rina.

Rina menguasai teknik dan cengkak-cengkok nada selama setahun berlatih dengan grup campursari itu. Bekal penting lantaran setelah itu banyak job datang padanya. Namanya pun semakin dikenal. Dari awalnya sekali pentas menerima upah Rp 75 ribu, kini sudah ratusan ribu. ‘’Undangan ngejob masih sering datang. Tapi, harus disesuaikan jadwal kuliah,’’ ujar mahasiswi Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut.

Rina tak bermaksud mengesampingkan pendidikan dengan menerima job. Dia malah ingin merampungkan kuliah. Upah yang didapatkan dari pentas satu panggung ke panggung lainnya disisihkan untuk membayar biaya semester. ‘’Biaya sendiri sejak masuk kuliah,’’ ungkapnya.

Lingkungan kental budaya seni dan materi kuliah menambah kelihaian olah vokal Rina. Menguasai teknik seleh-gregel dan pernapasan pesinden. Dia beberapa kali unjuk kebolehan saat limbukan pentas pergelaran wayang kulit. ‘’Fokusnya lebih ke campursari. Meski campursari dan sinden sama-sama menyenangkan,’’ tutur perempuan yang pernah manggung di beberapa kota di Sumatera dan Batam tersebut.

Ilmu menabuh kendang dari kampus dibawa putri pasangan Tukiyah dan Supriyanto ini ke atas panggung. Sempat ada kekhawatiran bahwa keputusannya membuat pertunjukan malah menjadi jelek. Sebab, teknik menabuh di kampus tidak seperti ketukan untuk sebuah tanggapan. ‘’Kalau tanggapan lebih ke arah menghibur,’’ ucapnya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close