Opini

Rindu Blusukan

PANDEMI Covid-19 berlangsung sudah cukup lama. Kalau mengacu kasus pertama di tanah air, pandemi ini sudah berjalan setahun lebih. Berbagai cara dilakukan untuk menekan penularannya. Terbaru pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Jika dihitung sudah ada tiga kali perpanjangan PPKM ini dan sepertinya akan diperpanjang lagi. Ya, PPKM berbasis mikro kembali diperpanjang hingga 22 Maret mendatang. Itu mengacu Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 5/2021 yang terbit beberapa hari lalu.

Ini PPKM kali kelima. Artinya, kita masih harus bersabar. Saya paham banyak yang sudah jenuh dengan semua ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ini aturan dan harus kita jalankan. Apalagi, kasus konfirmasi juga masih terus bertambah. Hingga Minggu (7/3) kasus konfirmasi di kota kita sudah menyentuh angka 1.603. Namun, kesembuhan cukup tinggi. Sebanyak 1.387 di antaranya telah sembuh. Sisanya masih dalam perawatan, isolasi mandiri, dan meninggal dunia. Kasus meninggal juga tinggi. Ada 102 warga kita yang meninggal karena Covid-19.

Ini bukan hanya di kota kita. Tapi juga terjadi di daerah lain. Terutama Jawa dan Bali. Mungkin karena ini PPKM diperpanjang lagi. Kita lakukan pengetatan lagi. Setiap kegiatan juga dibatasi. Perlahan memang kita longgarkan jika dibanding dengan PPKM sebelumnya. Seperti pemberlakuan jam malam kita mundurkan sampai pukul 22.00. Sebelumnya pukul 21.00. Bahkan, Instruksi Gubernur Jawa Timur, pemberlakuan jam malam mulai pukul 20.00. Sekali lagi, saya berharap masyarakat bersabar. Semoga dengan kita terus berdisiplin mengikuti anjuran pemerintah dan tentu saja ditambah dengan terus berdoa, PPKM ini tidak diperpanjang lagi. Pandemi segera pergi dari muka bumi.

Saya paham banyak yang sudah rindu kondisi normal. Saya pun juga begitu. Beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh beberapa wartawan terkait kegiatan Wali Kota Bersama Rakyat (WBR). Itu merupakan rangkaian kegiatan kunjungan kerja saya ke masyarakat. Dari satu kelurahan ke kelurahan lain. Namanya rangkaian, ada banyak kegiatan di dalamnya. Mulai penyerahan bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan di kelurahan lokasi kunjungan hingga dilanjutkan salat Magrib dan Isya berjamaah. Malamnya kita manfaatkan untuk berdialog dengan warga dan dilanjut hiburan. Setelahnya saya bermalam di rumah warga dengan kondisi yang paling memprihatinkan. Kegiatan itu memang terhenti selama pandemi ini.

Jujur, saya kangen sekali kegiatan seperti itu. Bukan hanya bisa bertemu dengan masyarakat secara langsung. Tapi juga mencari ilmu dari masyarakat tadi. Jangan dikira ilmu hanya dari orang-orang akademisi. Orang-orang pintar yang mengenyam pendidikan tinggi. Masyarakat yang tak pernah mengenyam pendidikan sekolah juga punya banyak ilmu. Bahkan, bisa dibilang ilmu mahal karena tidak ada dalam dunia pendidikan formal. Karena ini terkait ilmu kehidupan yang didapat dari pengalaman langsung. Bukan cerita fiksi atau karangan belaka. Ini dari pengalaman nyata.

Saya masih ingat betul waktu kunjungan di Banjarejo. Ada seorang warga perempuan yang berumur 101 tahun. Setiap kunjungan memang saya minta dicarikan warga yang paling sepuh di kelurahan lokasi kunjungan. Saya minta menjadi narasumber. Mereka yang saya maksud narasumber mahal. Bukan mahal tarifnya. Tapi mahal ilmunya. Obrolan dengan warga sepuh ini juga pernah saya jadikan bahan tulisan Ruang Satu. Judulnya, Obat Panjang Umur. Itu karena saya banyak mendapat pelajaran tentang bagaimana bisa berumur panjang.

Katanya, jangan menentang alam. Waktunya makan ya makan. Waktunya tidur ya tidur. Beliau ini juga mengaku tidak makan berlebih. Seadanya. Bahkan, lauk telur, ayam, atau daging hanya saat ada selamatan tetangga. Selebihnya memperbanyak sayur-sayuran. Memang sederhana, namun terbukti nyata. Ini juga relevan dengan kondisi pandemi sekarang ini. Setidaknya itu dikatakan salah seorang murid saya yang sekarang menjadi dokter. Saya diminta istirahat minimal tujuh jam sehari untuk menjaga imunitas tubuh. Seperti warga saya yang berumur 101 tahun tadi. Tidak tidur larut malam. Mungkin karena itu imunitasnya bagus dan selalu sehat hingga usia di atas 100 tahun. Memang umur rahasia Tuhan. Tapi siapa yang tidak mendambakan berumur panjang dan sehat.

Karenanya saya sengaja mematikan lampu penerangan jalan umum pukul 21.00 saat pandemi ini. Agar masyarakat segera pulang dan istirahat. Saat sudah di rumah, lampu saya hidupkan lagi mulai pukul 01.00 untuk meminimalkan tindak kejahatan. Saya minta masyarakat semuanya patuh dan taat aturan. Agar pandemi ini segera menghilang. Agar semuanya kembali normal. Saya juga ingin bisa segera melakukan kunjungan seperti dulu. Saya rindu blusukan ke rumah warga kurang mampu. Saya kangen menyerap ilmu dari warga yang seperti itu. Semoga pandemi ini segera berlalu. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button