Ngawi

Ribuan Pedagang Berhenti Berjualan, Sektor Ekonomi Mati Suri

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Pandemi Covid-19 membuat sektor ekonomi Ngawi seolah mati suri. Catatan dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK), dari 6.673 pedagang pasar-pasar tradisional daerah setempat, 2.795 di antaranya memutuskan berhenti berjualan. ‘’Ada sekitar 36 persen yang tak lagi berdagang,’’ kata Kepala DPPTK Yusuf Rosyadi Selasa (7/4).

Yusuf menjelaskan, Bupati Ngawi Budi ’’Kanang’’ Sulistyono telah mengeluarkan kebijakan untuk mencegah penyebaran virus korona di pasar. Salah satunya dengan melarang pedagang luar daerah berjualan di Ngawi. Akibatnya, sekitar 600 pedagang asal Magetan, Madiun, Bojonegoro, Blora, dan Cepu yang selama ini berdagang di Bumi Orek-Orek tidak bisa berjualan lagi. ‘’Untuk sementara waktu sampai pandemi berakhir,’’ ujarnya.

Bupati, lanjut dia, juga memutuskan menutup empat pasar hewan di Ngawi. Yakni, Pasar Legi, Pasar Samben, Pasar Jogorogo, dan Pasar Kendal. ‘’Walaupun banyak yang berhenti berjualan, stok sayuran aman. Nanti akan dimaksimalkan produk dari wilayah Jogorogo, Ngrambe, dan Kendal,’’ bebernya.

Pandemi korona juga memukul sektor industri kecil dan menengah (IKM). Sedikitnya 976 pelaku IKM memilih berhenti berproduksi. Di antaranya, sejumlah perajin keripik tempe di Karangtengah Prandon, Ngawi. Mereka memutuskan vakum berproduksi lantaran selama ini menyasar pasar luar daerah yang kini terdampak kebijakan pembatasan wilayah. Sebut saja Tuban, Lamongan, Gresik, dan Solo. ‘’Kalau untuk pasar Ngawi masih berproduksi, tapi omzetnya juga turun sekitar 60 persen,’’ ungkap Yusuf.

DPPTK juga mencatat sedikitnya 14 pengusaha kerajinan ukiran kayu di Sidowayah, Kedunggalar, ikut terdampak. Mereka batal mengekspor hasil kerajinannya ke luar negeri karena pandemi Covid-19. ‘’Untuk sementara baru kami data,’’ ujarnya.

Sesuai perintah bupati, dari hasil pendataan itu kelak dipetakan langkah pemkab memberikan bantuan. Opsi yang dimungkinkan salah satunya membantu melakukan penjadwalan ulang kredit mereka. ‘’Itu untuk pengusaha yang sekarang memiliki kredit. Ditangguhkan dulu cicilannya,’’ tuturnya.

Sedangkan untuk para pekerjanya, pemkab bakal mencarikan stimulus ekonomi melalui sektor lain. Paling mendesak saat ini, kata Yusuf, kebutuhan bahan pokok. Sedangkan pemulihan ekonomi mereka ke depan bisa dibantu melalui skema program padat karya. ‘’Atau mungkin ada solusi lain, sekarang masih kami pikirkan,’’ imbuhnya.

Sementara, di Pasar Besar Ngawi kemarin siang dilakukan penyemprotan cairan disinfektan sehingga banyak pedagang yang memilih menutup kiosnya. ’’Bagaimana lagi. Cuma ini satu-satunya sumber penghasilan,’’ kata salah seorang pedagang yang memilih tetap berjualan. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close