Madiun

Remaja 18 Tahun di Madiun Berjuang Melawan Penyakit Spina Bifida

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Penyakit langka tengah menjangkiti Mushowaf Hamdan. Remaja 18 tahun warga Desa Pucanganom, Kebonsari, itu mengidap spina bifida. Vonis medis menyebutkan bahwa spina bifida yang diderita Mushowaf telah memicu penyakit kronis lain.

Akibat penyakit tersebut, saat berbicara suara Mushowaf seperti tertahan. Pun, cara berjalannya tidak seperti remaja selumrahnya. Selain itu, rambutnya mulai rontok. ‘’Dulu saat SD, kalau kencing tidak terasa. Tiba-tiba keluar begitu saja,’’ ujar Mushowaf, Senin (5/7).

Mushowaf mengaku selama ini tidak merasakan apa-apa. Hanya, dia cepat merasa lelah kendati tidak beraktivitas berat. Penyakit tersebut mendekam di tubuh Mushowaf sejak lahir. Namun, baru diketahui saat remaja itu berusia 13 tahun. Kini, spina bifida menjalar ke mana-mana. Teranyar, dia diharuskan cuci darah lantaran organ kemihnya sudah tidak normal lagi. ‘’Sehari-hari bisanya cuma tidur,’’ katanya.

Referensi yang diperoleh Jawa Pos Radar Caruban, spina bifida merupakan kelainan bawaan. Penyakit langka karena pembentukan tabung saraf dan saraf di rongga tulang belakang tidak optimal. Proses ketidakoptimalan itu terjadi ketika masih dalam kandungan. ‘’Sekarang komplikasi saraf dan ginjal,’’ sebut Mushowaf.

Dengan keterbatasan dan penurunan kekuatan fisik yang dialami, Mushowaf sempat putus asa. Sempat pula dia membuat status di WhatsApp berbunyi Hamdan sudah meninggal, yang ada hanya jiwa yang kosong. Ya, dengan keterbatasannya, remaja itu gemar mengolah kata menjadi puisi. ‘’Suka nulis puisi. Itu yang bisa saya lakukan untuk mengisi waktu,’’ tuturnya.

Tidak hanya itu, Juni lalu kumpulan puisi karya Mushowaf berjudul Bermaknalah Aksaraku diterbitkan menjadi buku. Hal tersebut mengembalikan semangat hidupnya. ‘’Ingin kuliah sastra nanti,’’ kata pelajar kelas II MA Walisongo, Kebonsari, itu.

Mushowaf mengatakan, sejauh ini sudah ada enam buku gubahannya yang telah terjual. Dia mengetahui hal itu dari pihak penerbit di Kabupaten Madiun. ‘’Katanya mau laku 10 buku lagi. Uangnya untuk tambahan biaya berobat,’’ ungkapnya.

Binti Muthoyibah, ibu Mushowaf, mengaku bangga terhadap sang anak. Meski dalam kondisi keterbatasan, Mushowaf masih bisa berkreasi. Pun, kerap mengikuti sayembara puisi. ‘’Dapat kabar kalau bukunya itu terbit waktu opname dan divonis harus cuci darah,’’ kata Binti. ‘’Semoga anak saya segera sembuh,’’ imbuhnya. (den/c1/isd/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button