MadiunOpini

Rekonsiliasi Pasca Pilpres, Tidak Terjadi Gejolak

HAJATAN coblosan pemilu 2019 resmi berakhir pada Rabu (17/4) lalu. Sekarang prosesnya tinggal menyelesaikan tahapan rekapitulasi suara di tingkat PPS, PPK dan KPU. Meskipun menguras energi dan pikiran, tapi semua orang merasakan euforia hajatan politik secara serentak tersebut.

Nyaris semua pemilih berbondong-bondong data ke TPS memberikan suaranya dengan cara mencoblos. Baik itu berupa surat suara pemilihan presiden (pilpres) maupun pemilihan legislatif (pileg) yang jumlahnya ada lima lembar.

Malam sebelum pemungutan suara, anak saya yang bernama Haldis, 4, sampai tidak bisa tidur. Dia terlihat antusias sekali menyambut pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Kendati sebenarnya anak saya itu belum punya hak pilih.

Sampai-sampai dia berulang kali menanyakan kapan dan meminta ikut saya mencoblos. Karena saking seringnya menyimak berita tentang pemilu. Baik dari televisi maupun koran. Kesimpulannya, dia mempunyai calon pilihannya sendiri. Terutama untuk pilpres. Dia berharap saya mencoblos calon yang didukungnya saat di TPS.

Karena itu, saya ajaklah dia ke bilik suara. Berulang kali dia menanyakan tentang calon ini dan itu. Tapi, tetap saja dia belum punya hak untuk memilih. Meskipun demikian, saya berikan dia kesempatan untuk memasukkan surat suara ke kotak suara yang disediakan oleh petugas KPPS. Begitu juga ketika dirinya sengaja ikut mencelupkan jarinya ke tinta.

Meskipun terbilang masih polos, tapi anak saya itu merasakan kegembiraan euforia politik. Begitu juga dengan saya. Sekalipun siapapun presidenya dan anggota legislatifnya yang jadi, bagi saya sudah cukup meramaikan pemilu 2019. Saya harap kegembiraan yang kami rasakan itu juga dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Tak cukup sampai disitu, setelah proses coblosan berakhir masyarakat ternyata justru dibuat gegap gempita dengan hasil hitung cepat. Terjadi perbedaan pendapat dan terkesan ada kubu-kubuan. Bahkan, dua pasangan capres-cawapres saling mendeklarasikan diri kemenengan mereka di pemilu 2019. Semua hanya karena hasil quick count yang tayang di layar kaca. Padahal, hasil mutlak pemilu itu berdasar penghitungan yang dilakukan oleh KPU.

Tapi, dinamika politik di tingkat pusat itu sudah terlanjur memicu kegaduhan luar biasa. Semuanya saling tuding. Merasa paling benar. Sementara, di sisi lain duka mendalam dirasakan oleh para pejuang demokrasi. Tercatat para penyelenggara pemilu di tingkat PPK dan PPS satu per satu dilaporkan meninggal dunia dan jatuh sakit.

Sampai dengan kemarin (23/4), sudah 91 orang penyelenggara pemilu meninggal dunia serta 374 lainnya di rawat di rumah sakit karena kelelahan saat menjalankan tugas rekapitulasi suara di PPS maupun di PPK.

Kondisi itu memang sempat membuat saya trenyuh. Karena penyelenggaraan pemilu seharusnya menjadi momentum penting bagi bangsa, tidak hanya dalam konteks suksesi kekuasaan tertinggi atau sirkulasi elite legislatif. Namun juga bagi konsolidasi demokrasi secara lebih luas. Saat ini, kita dihadapkan pada dua pilihan jalan. Pertama, ke arah yang berujung pada rekonsiliasi, atau kembali menuju polarisasi yang tak berujung.

Sudah seharusnya para tokoh dan guru bangsa, serta kelompok masyarakat sipil turun tangan terlibat aktif mendinginkan dan mencairkan suasana atas dinamika politik yang terjadi. Misalnya, seperti yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Mereka mengeluarkan pernyataan sikap. Di antaranya, meminta kepada semua pihak untuk menghormati proses dan tahapan rekapitulasi penghitungan suara. Selain itu, meminta seluruh peserta pemilu untuk mengedepankan sikap perdamian dan persatuan bangsa. Sementara, apabila terdapat suatu pihak yang dirugikan atas hasil pemilu diminta untuk menempuh mekanisme hukum sesuai dengan aturan berlaku.

Di samping itu, meminta KPU untuk bersikap profesionalisme dan menjaga integritas mereka dalam menjalankan tahapan pemilu sampai tuntas. Serta mengedepankan sikap proporsional dalam menyikapi pemberitaan yang beradar luas di media. (ip)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close