Madiun

Rehab Minor SDN 05 Madiun Lor

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Perbaikan diyakini tidak merusak keaslian bangunan bersejarah di SDN 05 Madiun Lor. Sebab, yang diajukan sekolah bersejarah di Jalan Jawa itu sebatas rehabilitasi ringan.

Ada sembilan ruangan yang termasuk dalam bangunan bersejarah. Keasliannya masih terjaga. Terdiri enam ruang kelas dan satu ruang guru membujur dari barat ke timur di bagian depan. Kemudian satu ruang perpustakaan di sebelah timur. Serta satu aula terbuka seperti pendapa di halaman tengah. ‘’Dari dulu sampai sekarang masih seperti ini,’’ kata Hariyati, kepala SDN 05 Madiun Lor.

Seluruh ruangan masih dalam keadaan baik. Meskipun ada beberapa bagian yang diubah. Lantai dan tembok dikeramik serta plafon beberapa ruangan diganti dan dicat ulang. Otentisitasnya terlihat jelas dari keaslian bentuk dan tebal dinding, pun pintu dan jendela berarsitektur kolonial. Gaya serupa terlihat pada konstruksi atap yang menjulang tinggi. Sehingga sirkulasi udara di ruangan itu cukup baik. ‘’Meskipun di luar panasnya minta ampun, ruangan di depan ini tetap adem. Anak-anak suka belajar di sini,’’ ujarnya.

Dari sembilan ruangan bersejarah, empat ruang kelas di depan yang diajukan rehabilitasi ringan. Yakni, kelas 1 a, 1 b, 1 c, dan 4 b. Sebab, keempat ruangan itu mengalami kerusakan minor. Berupa dinding retak, plafon rapuh, dan sebagian lantai keramik mengelupas. ‘’Hanya rehabilitasi ringan,’’ tegas Hariyati.

Meski ringan, rehabilitasi perlu dilakukan demi kenyamanan proses pembelajaran. Mengantisipasi kejadian tak diinginkan, meskipun konstruksi masih kokoh berdiri. Juga tak diharapkan perbaikan sampai merusak kelestarian bangunan. Karena itu, pihak terkait seyogianya lekas mengambil sikap. Mengingat sampai kini otentikasi bangunannya belum mempunyai surat keputusan (SK). ‘’Berdiri kapan kurang tahu karena saya baru menjabat akhir 2018 lalu,’’ tutur mantan Kepala SDN 01 Madiun Lor itu.

Hariyati menjelaskan, jutru yang mendesak untuk segera diperbaiki adalah tiga ruang kelas yang ada di belakang. Bahkan, satu ruangan terpaksa dikosongkan lantaran konstruksi atapnya rusak. Kuda-kuda terlihat keropos dan plafon berlubang. ‘’Kami kosongkan karena membahayakan,’’ katanya.

Rencananya, tiga ruang itu direhab total. Tahun depan dirobohkan seluruhnya, kemudian dibangun kembali berlantai dua. Sehingga nantinya menjadi enam ruangan. Mempertimbangkan rombongan belajar (rombel) bertambah setiap tahunnya. ‘’Tiga ruangan itu tidak termasuk bersejarah. Bentuknya sudah berbeda dengan ruang yang di depan,’’ jelasnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button