AdvertorialPonorogo

Refleksi Ipong Muchlissoni di Hari Pers Nasional

Media berperan penting dalam mewarnai jalannya pembangunan. Media juga dihadapkan pada tantangan melawan hoaks. Hari Pers Nasional (HPN) 2020 menjadi momentum refleksi bagi media dan segenap insan pers. Berikut wawancara Jawa Pos Radar Ponorogo dengan Bupati Ipong Muchlissoni.

________________________

Di era sekarang ini, seperti apa peran pers yang ideal?

Pertama, wartawan harus lebih profesional. Wartawan harus objektif. Wartawan harus faktual. Dengan begitu, maka medianya akan menjadi media yang kredibel. Kalau kredibel, maka media tersebut akan bisa bertahan menghadapi berbagai fenomena baru. Di mana semua orang bisa menjadi wartawan dalam tanda kutip. Karena adanya gadget, orang bisa foto kapan saja, bisa beritakan lewat berbagai media yang ada kapan saja.

 

Hoaks begitu mudahnya menyebar. Bagaimana pers melawannya?

Hoaks tidak bisa dilawan dengan cara frontal. Karena bisa muncul kapan saja, di mana saja, lewat apa saja. Cara melawan yang paling tepat ya dengan menjadi profesional tadi. Kalau saya sebagai bupati, jujur untuk mengonfirmasi hoaks itu ya dengan membuka media mainstream. Media cetak, misalnya Jawa Pos Radar Ponorogo. Selain juga beberapa media online. Media-media itu menurut saya masih kredibel. Apa yang mereka beritakan dapat terkonfirmasi.

 

Apa peran pers terhadap pembangunan?

Sebenarnya sangat besar. Khususnya dalam menginformasikan pencapaian pembangunan, itu penting. Supaya masyarakat tahu tentang apa yang terjadi. Kalau tahunya yang jelek-jelek saja, dikira tidak ada pembangunan. Ada adagium bahwa bad news is good news. Sementara memberitakan pembangunan itu bad news, tidak good news. Karena akan seperti humas. Nah, di sini perlu keterampilan, perlu kemampuan melakukan improvisasi, supaya good news itu bisa betul-betul good news. Bukan dibalik.

 

Apalagi hoaks semakin marak…

Benar. Sekarang kan orang bisa menulis apa saja. Bahkan memaki-maki pun bisa. Inilah pentingnya media-media dalam tanda kutip yang kita sebut resmi.

 

Lantas kritik seperti apa yang baik untuk mendukung roda pemerintahan?

Kritik yang baik itu, pertama, kritik yang ditujukan pada program yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dua, terhadap kinerja para pejabat yang tidak sesuai aturan dan norma, dalam bentuk apa pun. Ketiga, kritik yang baik itu yang ditujukan pada program-program yang ternyata tidak sesuai harapan ketika dibuat. Misalnya, pemerintah suatu hari membangun gedung di tengah hutan. Ternyata tidak bisa dimanfaatkan oleh banyak orang. Itu bisa dikritik bahwa pembangunannya tidak berdasarkan analisis yang cukup. Karena ketika berdiri, tidak bisa bermanfaat bagi banyak orang.

 

Seperti apa seorang Ipong memandang sebuah kritik?

Kritik itu kalau bagi saya seperti jamu. Jamu itu memang pahit. Tapi, menyembuhkan. Apalagi kalau diberikan kepada perangkat pemerintahan daerah seperti organisasi perangkat daerah, kecamatan, sampai desa. Karena itu membantu saya juga. Jadi, seperti pengawas. Media perlu terlibat dalam pengawasan juga. Walaupun di pemerintah sudah banyak, tapi tetap kurang. Seperti inspektorat, DPRD, BPK, BPKP, kejaksaan, kepolisian. Kalau ditambah media kan semakin bagus.

Apakah pers di Ponorogo sudah mengarah ke sana?

Kalau kritisnya, kurang. Maksud saya, bantu saya melakukan monitoring atau pengawasan terhadap pemerintahan. Itu saya akan berterima kasih sekali. Saya termasuk orang yang akan selalu membaca walaupun telat. Minimal selalu meluangkan waktu di malam hari.

 

Harapan untuk insan pers di Ponorogo pada momen HPN tahun ini?

Harapan saya, insan pers dan media di Ponorogo lebih kompak. Lebih guyub lagi. Karena profesinya sama, yaitu awak media. Jadi, harus lebih kompak dan guyub lagi. Kedua, teman-teman pers di Ponorogo jangan pernah berhenti belajar. Karena dalam profesi seorang jurnalis atau wartawan, belajar dan mengetahui berbagai perkembangan itu penting. Supaya tidak kalah pengetahuan dengan narasumbernya. Sehingga, kalau bertanya atau mempersoalkan sesuatu, syaratnya cukup. (naz/c1/fin/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close