AdvertorialPonorogo

Refleksi Bupati Ipong Muchlissoni pada Momen Hardiknas 2020

Pendidikan Tak Terhalang Pandemi

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 diperingati di tengah situasi pandemi Covid-19. Meski demikian, kegiatan belajar-mengajar (KBM) terus berlangsung secara jarak jauh. Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni merefleksikan hardiknas tahun ini sebagai momentum bagi seluruh insan pendidikan untuk menjaga semangat perjuangannya. Demi meningkatkan kualitas pendidikan di Ponorogo. ‘’Covid-19 tidak boleh menjadi halangan untuk terus menimba ilmu,’’ kata bupati.

Sejak pandemi korona merebak, pemkab mengeluarkan kebijakan KBM jarak jauh. Siswa belajar di rumah. Guru pun mengajar dari rumah masing-masing. KBM jarak jauh, lanjut Ipong,  memang tidak begitu efektif. Meski demikian, harus dilakukan demi menjaga kesehatan masyarakat. ‘’Karena melalui KBM jarak jauh, ada hal yang tidak didapatkan. Yaitu interaksi sosial antarsiswa di sekolah,’’ sebutnya.

Menurut Ipong, perjuangan meningkatkan kualitas pendidikan di Ponorogo belum usai. Secara spesifik, Ipong menyebut masih ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan. Meningkatkan angka partisipasi sekolah salah satunya.

‘’Kita mewarisi keadaan di mana masyarakat usia 40 tahun ke atas banyak yang tidak lulus SD atau SMP,’’ kata Ipong. ‘’Walaupun yang generasi di bawah 25 tahun, 90 persen sudah sekolah. Tapi, yang 40 tahun ke atas ini paket C tidak mau, paket A tidak mau,’’ imbuhnya.

Selain itu, peningkatan fasilitas pendidikan jadi PR lain. Menurut Ipong, banyak sekolah yang kondisinya kini kurang begitu baik. Karena usia hingga bencana alam. Sayangnya, pemkab terbentur keterbatasan anggaran. Alhasil, perbaikan diprioritaskan pada sekolah-sekolah yang rusak parah. ‘’Kalau mau jujur, 20 persen sekolah waktunya direhab. Tapi, karena anggaran terbatas, akhirnya diprioritaskan untuk memperbaiki sekolah-sekolah dengan tingkat kerusakan paling parah,’’ terang bupati.

Meski demikian, mutu pendidikan di Ponorogo terus meningkat di era pemerintahan Ipong-Soedjarno. Peningkatan kesejahteraan para pendidik jadi salah satu motor penggerak perbaikan tersebut. Ipong menerbitkan surat perintah tugas (SPT) bagi para guru tidak tetap (GTT) sebagai modal menempuh sertifikasi. Pendidik juga mendapat insentif serta perlindungan melalui badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) ketenagakerjaan.

Tak heran, tahun lalu Ipong diganjar penghargaan Dwija Praja Nugraha dari Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) atas kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap pendidikan. ‘’Karena ke depan, guru harus semakin fokus terhadap pembelajaran, dan tidak lagi risau memikirkan dapurnya,’’ tutur Ipong.

Ipong meyakini, ke depan pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan akan meningkat. Di situlah pentingnya inovasi dan kreasi para pendidik. Jika seluruh insan pendidikan di Ponorogo tetap semangat berbenah, Ipong yakin mutu pendidikan di Ponorogo akan terus meningkat ke arah yang lebih baik. ‘’Mulai dari pengajar, pembuat kebijakan di bidang pendidikan, hingga anak-anak di sekolah. Semua harus tetap semangat, karena pandemi tidak boleh menjadi halangan untuk terus menimba ilmu,’’ jelasnya. (naz/c1/sat/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close