Madiun

Razia Anjal, Petugas Dinsos Temukan ODGJ Bersajam

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Razia anak jalanan (anjal) yang digelar Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Madiun Jumat (26/7) nihil hasil. Melibatkan pihak TNI/Polri, dinas kesehatan, dan pemerintah desa setempat, petugas gabungan ini menyisir kawasan Pasar Dolopo selama satu jam. ‘’Kami hanya mengamankan satu ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red) yang membawa sajam (senjata tajam),’’ kata Ketua Tim Penanganan Kesehatan Jiwa Masyarakat Kabupaten Madiun Fatkhurohman.

Menurut dia, penertiban akan terus dilakukan hingga beberapa pekan ke depan. Terutama di sekitar lampu bangjo. Tujuannya, memberi rasa nyaman, aman, dan terbebas dari pemandangan kurang enak. Sebab, keberadaan anjal yang seenaknya sendiri membuat masyarakat resah. ‘’Akan kami lakukan rutin, meskipun nihil hasil,’’ ujarnya.

Razia tidak hanya fokus pada penertiban anjal. Juga masalah sosial lainnya. Banyaknya ODGJ yang berkeliaran di wilayah Kabupaten Madiun juga jadi salah satu pekerjaan rumahnya. Itu sebagai wujud visi misi Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat yang berakhlak. ‘’Semua yang berhubungan dengan ranah kami, tetap dilaksanakan,’’ tuturnya.

Kabid Rehabilitasi Dinsos Kabupaten Madiun Tatuk Rahmawati menegaskan pihaknya menyikapi dan memberi hak kepada siapa pun yang ada di bawah kewenangannya. Dinsos tidak akan berhenti hanya pendataan, tetapi juga rehabilitasi. Sebab, dasar terpenting dari penertiban anjal, ODGJ, maupun bekas ODGJ adalah rehabilitasi atau pendampingan lebih lanjut. ‘’Intinya bukan sekadar penertiban, tapi rehabilitasi sesuai kasusnya,’’ tegasnya.

Sayangnya, hingga kini pihaknya terkendala tempat rehabilitasi. Padahal, sudah ada peningkatan kasus yang ditangani. Sehingga sudah seharusnya pemkab memiliki panti rehabilitasi. ‘’Kami hanya punya satu tempat. Itu pun khusus bekas ODGJ. Kalau lansia dan ODGJ harus dikirim ke Ponorogo atau Kediri,’’ ungkapnya.

Pada 2018 lalu pihaknya mengajukan anggaran untuk merenovasi bangunan hibah dari pemprov sebagai shelter sementara sebelum dikirim ke tempat semestinya. Namun,  tidak disetujui. Padahal, penumpukan kasus membuat pihaknya kelimpungan untuk penanganan lebih lanjutnya. ‘’Kami sudah coba ajukan. Daripada bikin baru, mendingan menggunakan bangunan yang sudah ada,’’ pungkasnya. (mgc/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close