featuresMadiun

Rayakan HUT Komunitas, Tumpengan Bersama Pemulung di TPA

Jiwa sosial ternyata masih tumbuh bersemi di zaman serbamodern ini. Dyast Anggun Bunga Nagari dan empat rekannya di komunitas LSS Madiun rutin berbagi makanan dengan kaum duafa. Bagi mereka, berbagi merupakan jalan kemudahan pintu rezeki.

———

SIANG itu, laju Dyast Anggun Bunga Nagari mendadak menghentikan laju mobil Suzuki Splash yang dikemudikannya. Sebab, di depannya sebuah truk pengangkut sampah hendak putar balik.

Akhirnya Dyast memutuskan balik kanan. Nahas, roda kiri kendaraan terperosok ke selokan. Dyast bersama empat teman di dalam mobil yang semuanya perempuan pun panik. Beruntung, dua pemulung datang membantu mengevakuasi mobil Dyast.

Momen pada Agustus lalu tersebut hingga kini masih terpatri di benak Dyast. Itu terjadi saat Dyast bersama anggota komunitas Lentera Shadaqah Sabilillah (LSS) usai mendatangi tempat pembuangan akhir (TPA) Magetan.

Sedianya mereka berbagi nasi kotak ke para pemulung di TPA tersebut. Namun, karena hari sudah siang hanya bertemu dengan satu keluarga pemungut sampah yang tinggal di sekitar lokasi itu.

Cerita berkesan lain terjadi beberapa bulan sebelumnya. Kala itu Dyast dkk hendak berbagi nasi kotak kepada sejumlah kaum duafa yang ditemui sepanjang Caruban menuju Karanganyar, Jawa Tengah. Namun, saat melintasi jalur menanjak, mesin mobil mendadak loyo. ‘’Kami senam jantung. Mobil mundur sejauh 100 meter lebih. Apalagi, saat itu jalanan licin karena hujan,’’ kenangnya.

LSS Madiun baru terbentuk November tahun lalu. Namun, sejak beberapa bulan sebelumnya Dyast sudah terlibat dalam komunitas itu. ‘’Pusatnya di Solo. Saya terlebih dulu gabung di sana. Lalu, berinisiatif melanjutkan aksi sosial di wilayah Madiun,’’ bebernya.

Dyast lantas menggandeng empat temannya untuk bergabung LSS Madiun. Aksi sosial pertama dilakukan 10 November tahun lalu bersamaan deklarasi komunitas tersebut. Hampir setiap bulan mereka rutin melakukan kegiatan sosial seperti bagi-bagi nasi kotak ke kaum duafa. Juga berbagi mukena, Alquran, sarung, dan peci untuk takmir masjid.

‘’Biasanya masjid yang jadi jujukan musafir,’’ kata Dyast sembari menyebut LSS Madiun juga menjadi donatur tetap beberapa panti asuhan dan pondok pesantren di Madiun dan Magetan.

Mei lalu LSS Madiun menggelar syukuran HUT LSS pusat di TPA Winongo, Kota Madiun. Bersama puluhan pemulung, mereka menyantap tumpeng, nasi kuning, dan jajanan pasar. ‘’Begitu mobil kami datang, mereka langsung menyambut. Mereka sudah hafal dengan kami,’’ ucapnya.

Etik Risa Tarunasari, member LSS Madiun lainnya, merasakan sejak bergabung komunitas itu sering mendapatkan kemudahan. ‘’Terutama kaitannya dengan kerjaan. Bagi saya ini sebuah keajaiban,’’ ujarnya. ***(dila rahmatika/c1/isd)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button