Madiun

Rangkul Tokoh-Tokoh Islam, Dakwah lewat Pencak Silat

MADIUN – Sudah belasan tahun Sutoyo menjabat ketua MUI Kota Madiun. Selama itu pula telah banyak gebrakan yang dilakukan pria yang sedang menulis jurnal internasional untuk menjadi profesor ini demi menciptakan masyarakat yang damai dan Islami.

Dari serambi musala bercat hijau di Jalan dr Cipto, pagi itu Sutoyo tampak asyik membaca beberapa buku bacaan. Setelah melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu pukul 10.45, dia menutup buku-bukunya. Lalu, bersiap ceramah di Balai Kota Madiun. ‘’Kalau bulan puasa begini saya sering keluar,’’ kata Sutoyo.

Sutoyo tercatat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun sejak 2005 silam. Dalam beberapa kali pergantian pengurus, nama Sutoyo kembali menjadi kandidat terkuat. Itu tak lepas dari sosoknya yang tidak hanya paham soal agama, tapi juga memiliki wawasan luas di bidang pemeritahan dan sosial masyarakat.

‘’Ulama-ulama Kota Madiun kumpul rembukan. Ada dua kandidat waktu itu,  Saya dipilih karena dianggap lebih muda,’’ kata Sutoyo mengenang momen pergantian pengurus MUI Kota Madiun 14 tahun silam.

Belasan tahun menahkodai MUI, telah banyak gebrakan yang dilakukan Sutoyo. Termasuk upaya mencegah meluasnya pemahaman Islam radikal maupun liberal. Itu dilakukan melalui pendekatan dengan sejumlah tokoh masyarakat, ormas, dan pemerintah. ‘’Tokoh-tokoh Islam kami dekati, dialog melalui forum diskusi dan silaturahmi,’’ ungkapnya.

Beragam cara dilakukan Sutoyo untuk berdakwah. Di antaranya melalui seni pencak silat. ‘’Silat sebagai media dakwah dan untuk membentengi diri sendiri. Sekarang pendekar tingkat dua,’’ ucap wakil Ketua III Pengurus Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate ini.

Sejak kecil Sutoyo akrab dengan ilmu agama lewat pendidikan yang ditempuh di

MI, MTs, hingga MA. Lulus dari MA dia mengambil jurusan hukum Islam di IAIN dan Unisma. ‘’S2 Hukum Islam di Unisma Malang dan S III di UIN Sunan Ampel Suabaya. Sekarang sedang menulis jurnal internasional untuk menjadi profesor.  Insya Allah akan terbit di Rumania dan Malaysia,’’ bebernya.

Kegigihannya memperdalam ilmu agama tidak telepas dari dorongan ayahnya yang juga seorang ulama. ‘’Bapak pesan, koee kudu pinter ilmu agomo, mondhok kudu pinter. Bapak duwe madrasah, dulurmu lungo kabeh, sopo sing ngopeni lek ora kowe,’’  ujar dosen IAIN Ponorogo ini menirukan pesan mendiang ayahnya.

Di lingkungan keluarga Sutoyo, tiga kakaknya memiliki nama berbau Arab. Hanya dia seorang yang kental nuansa Jawanya. Itu pula yang sempat menimbulkan tanda tanya ketika dia duduk di bangku kelas II MA. ‘’Ditanya guru aliyah putranya kiai kok namanya Sutoyo. Saya tanya bapak, Sutoyo itu mengandung doa,’’ paparnya. ***(isd/bersambung)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button