Bupati Menulis

Radio di Tengah Pandemi

PANDEMI ini membawa perubahan sangat besar terhadap keberadaan media komunikasi. Tahun 2005, di berbagai kesempatan saya menyampaikan bahwa peran internet akan semakin besar dari tahun ke tahun. Sebaliknya, peran radio, televisi, dan bioskop akan semakin kecil bahkan memudar. Karena teknologi digital akan memudahkan manusia melakukan apa saja karena perkembangan kemajuan teknologi yang sangat cepat. Termasuk mendapatkan informasi dan berkomunkasi.

Kita semua paham, saat ini kita mendapatkan informasi dan sekaligus menyampaikan informasi hanya dalam genggaman. Tidak terbayangkan pada masa itu. Malahan kalau kita mau runut jauh ke belakang, sekitar tahun 1980-an, dalam berbagai penelitian, masyarakat menerima informasi pertama kali dari radio, kemudian berturut-turut televisi, koran, baru tokoh masyarakat.

Dalam kurun waktu sekitar tiga puluh tahun, teknologi yang betul-betul baru dan saat ini disebut media baru  menggantikan dan malahan menggusur media yang selama ini eksis. Kita sudah jarang sekali melihat televisi. Juga jarang mendengarkan radio. Saya yakin saat ini masyarakat semakin banyak yang memperoleh informasi dari internet.

Demikian cepatnya penetrasi layanan internet dan penggunaan telepon pintar di Indonesia. Oleh sebab itu juga, tidak mengherankan bila akses internet melalui telepon pintar demikian tinggi dari tahun ke tahun. Apalagi ditambah semakin relatif terjangkaunya harga telepon pintar bagi masyarakat di Indonesia. Dan juga semakin demikian banyak pilihan aplikasi untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi sebagai hak dasar warga negara yang dilindungi undang-undang.

Sangat terasa di waktu pandemi Covid-19 ini. Berbagai informasi tentang Covid-19 demikian banyak dan melimpah dari berbagai aplikasi. Malahan kalau boleh dikatakan menjadi berlebihan. Setiap saat kita disuguhi informasi tentang virus ini. Baik yang mencerahkan maupun malahan sengaja informasi sampah yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.

Menjadikan kita semua menjadi ahli tentang Covid-19. Malahan ada yang berkelakar, karena begitu banyaknya informasi yang kita terima tentang Covid-19 ini melalui aplikasi WhatsApp (WA), dan tentunya kita bisa belajar banyak dari situ. Oleh karenanya, kita semua menjadi ahli Covid-19. Dan kita semua memperoleh gelar PhD dari WA University.

Lalu bagaimana dengan posisi media yang lain, seperti radio dan televisi, perannya dalam pandemi Covid-19? Hampir kita melupakannya. Dan seperti kita kurang fokus untuk menggunakan media ini. Sedangkan kita tahu bahwa media ini menggunakan frekuensi yang merupakan sumber daya alam milik publik.

Ketika semua dikerjakan dan dilakukan di rumah, kita tampaknya hanya fokus dengan media baru dalam mengatasi masalah-masalah dalam kaitannya yang semua harus dikerjakan di rumah. Seperti ketika anak-anak kita harus belajar di rumah di tengah pandemi ini, fokus perhatian kita hanya bagaimana belajar jarak jauh melalui online. Akibatnya beberapa kendala muncul akibat fokus kita pada media ini.

Akibat kendala ini, bahkan muncul pernyataan yang bernada kritis, “Nasib miris siswa miskin, tak bisa belajar dari rumah karena tak punya HP.” Juga ada berita yang memberi judul, ”Belajar Online Tidak Semudah yang Dibayangkan.” Dari berbagai berita tersebut, tampaknya selama pandemi dan semua siswa belajar di rumah, maka jalan keluar yang menonjol sarana yang dipakai adalah online. Tentu akibat fokus hanya satu media, akan terkendala bagi yang belum terjangkau infrastrukur, dan juga yang kurang mampu harus membeli pulsa.

Walaupun pemerintah sudah melakukan inisiasi memberi materi belajar melalui TVRI dan RRI, namun masih belum maksimal. Tentu karena sifat pembelajarannya umum. Dan juga jumlah media publik tersebut sangat terbatas. Dan lagi tidak semuanya gratis. Tentu ini akan memberatkan pemda dan sekolah. Dan juga karena keterbatasan media publik tersebut, materi yang disampaikan tidak sekolah per sekolah yang jumlahnya demikian banyak. Sedang ikatan formal dan emosional antara siswa dengan sekolah, guru sangat tinggi dalam sistem pendidikan kita. Mengapa kita tidak menggunakan media seperti televisi lokal/komunitas. Juga radio di daerah, komunitas, dan publik yang jumlahnya demikian banyak. Dan hampir semua kabupaten/kota saya kira ada.

Kita tahu, bahwa sesuai UU No: 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, dalam pasal 3 dinyatakan bahwa penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkokoh integrasi nasional; terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa; mencerdaskan kehidupan bangsa; memajukan kesejahteraan umum; dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

Oleh sebab itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dalam salah satu edarannya selama masa pandemi Covid-19 ini agar media penyiaran memperbanyak program siaran yang bertema pendidikan. Pertanyaan selanjutnya, apakah semua sudah memanfaatkan media penyiaran lokal/publik/komunitas ini sebagai salah satu sarana untuk menunjang pendidikan yang selama pandemi dilakukan di rumah.

Jawaban yang sederhana adalah belum. Pertanyaan selanjutnya mengapa belum. Pertama, kita banyak terpaku pada media baru yaitu internet. Dan anak-anak milenial sudah akrab dengan alat ini. Dan boleh dikatakan asing (jarang) yang menggunakan media radio untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi. Oleh sebab itu, perlu pengenalan kembali media ini di tengah pandemi.

Kedua, bagi pemerintah daerah mungkin beranggapan bahwa menggunakan pendidikan melalui radio akan memakan biaya. Mestinya baik itu lembaga penyiaran swasta, komunitas, apalagi publik, ketika masyarakat memerlukan di era yang sulit ini, harusnya tampil ke depan. Secara aktif berkoordinasi dan malahan menyerahkan sepenuhnya waktu siaran sebagaian besar digunakan untuk kepentingan publik. Seperti diisi dengan siaran pendidikan sesuai kepentingan daerah masing-masing. Tentu hal ini sesuai dengan tujuan penyiaran sesuai ketentuan di atas. Dan kita tahu frekuensi yang digunakan lembaga penyiaran adalah sumber daya alam milik publik, yang sudah semestinya ketika publik memerlukan di era pandemi ini digunakan untuk kepentingan publik seperti pendidikan. Sehingga tidak selalu pendekatan melalui online.

Kebetulan kabupaten selain radio swasta lokal, juga memiliki radio lembaga penyiaran publik lokal (LPPL) Magetan Indah. Sejak awal pandemi saya sudah mengingatkan, ketika siswa harus belajar dari rumah agar memanfaatkan radio publik lokal ini. Sehingga tidak semata-mata belajar dari rumah untuk tatap muka hanya melalui media online. Ada alternatif pilihan dan sekaligus siswa tidak bosan.

Keuntungannya, misal untuk siswa SMP kelas tujuh, pelajaran PMP guru bisa berkolaborasi dengan SMP yang lain. Toh pelajaran yang diampu sama. Malahan kalau ada guru yang bagus cara penyampaiannya melalui radio bisa didorong untuk menunjukkan potensinya. Kita masih ingat bagaimana kita terpesona dan imajinasi kita ke mana-mana dengan drama melalui siaran radio sarat nilai seperti Butir-Butir Pasir di Laut. Cerita tentang pengabdian dokter di daerah terpencil. Juga cerita silat Brama Kumbara, dimana kebatilan akan kalah dengan kebaikan.

Keuntungan yang lain, ketika pembelajaran siswa SMP, ketika ada jeda bisa diselingi dengan pesan moral untuk menggugah semangat siswa. Atau malahan supaya tidak bosan diselingi dengan lagu-lagu daerah setempat. Atau malahan kalau perlu lagunya Didi Kempot Kalung Biru, Stasiun Balapan, dan lain-lain. Atau lagu yang lagi hit dibawakan Aurel saat ini Kepastian. Saya yakin anak setingkat SMP sangat senang ketika menginjak usia remaja mendengarkan lagu yang sedang digandrungi itu. Kenapa tidak. Sehingga pandemi tetap memberikan pembelajaran kepada siswa yang notabene anak-anak kita melalui radio yang mulai dilupakan.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close