Bupati Menulis

Radio dan Informasi Bencana

PADA tanggal 22 Agustus 2019 lalu, bertempat di Pendopo Surya Graha Magetan telah dilangsungkan “talkshow” yang disiarkan langsung oleh RRI (RRI Net) dan Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL).

Talkshow itu sendiri direlay oleh jaringan RRI se-Indonesia dan LPPL. Adapun topik yang dibahas “Peran Radio Siaran Lembaga Penyiaran Publik RRI dan LPPL dalam Mitigasi Bencana.” Acara ini sendiri bisa terselenggara atas kerjasama RRI dengan Pemkab Magetan.

Tentu bagi Kabupaten Magetan sendiri, dengan adanya talkshow yang disiarkan secara langsung dan di-relay oleh jaringan RRI se-Indonesia sangat menguntungkan. Dari segi apa? Tentu menguntungkan untuk lebih mengenalkan diri kepala khalayak. Sekaligus ikut membantu mengingatkan kembali kepada semua, bahwa kita hidup di daerah bencana.

Malahan secara setengah bercanda, saya dimanapun sering bilang Indonesia itu mall-nya bencana. Tidak percaya? Coba kalau tidak percaya. Bencana apa saja di Indonesia ada. Mau cari gempa bumi, ada. Tsunami juga ada. Gunung meletus, ada. Tanah longsor ada. Banjir juga ada. Kebakaran hutan dan gambut ada. Tidak salah kalau disebut mall-nya bencana.

Kemudian mengapa kita mengambil topik mitigasi becana? Dan mengapa harus bekerjasama dengan RRI dan LPPL? Mitigasi bencana, secara umum adalah suatu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dan/atau menghapus kerugian dan korban yang mungkin terjadi akibat bencana. Dengan cara, membuat persiapan sebelum terjadi bencana. Adapun tujuan utama mitigasi adalah untuk mengurangi atau bahkan meniadakan resiko dampak bencana.

Dengan demikian, mitigasi bencana tentu harus terus dilakukan. Malahan tidak boleh terhenti sedetikpun. Bukahkah kita ditakdirkan oleh Tuhan hidup di mall-nya bencana. Oleh sebab itu kita harus pandai me-manage-nya.

Sama dengan kita kalau sudah kena penyakit diabet misalnya, yang sampai dengan saat ini belum ada obatnya. Maka jalan terbaik adalah hidup berdampingan dengan cara me-manage-nya. Setiap saat, ketika makan dikontrol. Tidak bisa sembarangan makan. Demikian juga pola hidupnya harus sehat.

Apalagi kita hidup di lintasan cincin api yang sangat aktif. Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan. Eurasia dari utara. Dan Pasifik dari timur. Sebagai bukti, gempa Donggala terjadi setelah sebelumnya wilayah Lombok dilanda guncangan hebat.

Bahkan, sebelumnya Indonesia tahun 2004 lalu, tsunami terjadi di Aceh dan menewaskan lebih dari 220 ribu orang. Belum gempa dan tsunami yang terjadi jauh sebelumnya. Maka tak bisa membantah bahwa Indonesia negara yang sangat rawan gempa dan Tsunami. Namun kondisi geografis ini, di satu sisi menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana letusan gunung api, gempa, dan tsunami, namun di sisi lain menjadikan Indonesia sebagai wilayah subur dan kaya secara hayati.

Kurangnya pemahaman, salah satu akibatnya terjadi banyak korban setiap terjadi bencana seperti gempa dan tsunami. Bisa kita lihat sendiri. Bagaimana ketika bencana seperti gempa bumi dan tsunami terjadi. Serta mengapa itu tidak terjadi di Jepang misalnya.

Di sana, ketika terjadi gempa dan disusul tsunami yang demikian dasyat masyarakat sudah siap. Yang menjadi korban jiwa bisa ditekan sekecil mungkin. Hal ini bisa dilihat pada gempa dan disusul tsunami di tahun 2011. Malahan reaktor nuklir juga ikut rusak.

Mengapa Jepang bisa melakukan hal demikian. Karena setiap orang, organisasi masyarakat, sekolah, pemerintah menyadari betul. Mereka hidup di tempat yang sangat rawan bencana. Utamanya bencana gempa bumi dan tentu tsunami.

Apa yang mesti dilakukan bila sewaktu-waktu terjadi semua sudah tahu. Mitigasi bencana betul-betul sudah mendarah daging. Sangat jauh berbeda dengan kita. Oleh sebab itulah, maka salah satu upaya kita mengapa kita melakukan talkshow tersebut.

Pertanyaan kedua, mengapa harus melalui RRI dan LPPL? Apakah tidak lebih efektif bila melalui TV atau media sosial misalnya. Tentu pernyataan tersebut ada benarnya. Toh saat ini penetrasi internet semakin tinggi dan media mainstream seperti radio semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

Betul radio tidak seperti dekade yang lalu sekitar tahun 1970-an. Pada tahun tersebut radio menjadi sumber utama informasi masyarakat. Dengan semakin majunya teknologi radio makin tergerus pendengarnya. Namun betapapun perkembangan teknologi demikian hebat, menurut Nielsen sebuah lembaga survei yang sangat terpercaya, menempatkan lembaga radio menempati ranking keempat setelah TV, media luar ruang dan internet. Artinya radio masih menjadi sumber informasi di atas koran dan media lainnya.

Walaupun media radio menurut Nielsen menempati urutan ke empat sebagai sumber informasi, namun radio mempunyai keunggulan lebih dibandingkan dengan media yang lain. Terbukti, ketika terjadi bencana gempa dan/atau tsunami di pelbagai tempat.

Saya punya pengalaman menarik ketika terjadi gempa di Yogya tahun 2006, Bengkulu 2007 dan tempat lainnya. Tugas saya ketika itu, harus memulihkan jaringan komunikasi di daerah yang dilanda gempa tersebut.

Sehari setelah gempa di Yogya, saya sudah berada di lokasi bencana. Semua aparat yang bertanggungjawab di Pemda, menjadi korban. Yang terkena gempa, semua jadi korban. Oleh sebab itu, masyarakat sangat tergantung dari bantuan dan uluran tangan dari pihak luar.

Ketika terjadi gempa yang demikian dasyat, semua infrastruktur hancur. Listrik mati, jalan banyak terputus. Sehingga komunikasi terhenti. Hal demikian sangat mudah menimbulkan chaos di masyarakat bila tidak segera ditangani.

Ketika kemudian jaringan komunikasi terputus, pulihnya memerlukan waktu cukup lama. Apalagi gempa dasyat Yogya, masih diikuti gempa susulan yang sangat sering terjadi. Untuk memulihkan dengan cepat, para operator harus menggerakkan BTS mobile kemudian dipasang ditempat strategis. Karena tentu BTS yang permanen banyak yang rubuh. Dan listrik mati.

Pengalaman di Yogya tersebut, ternyata media radio yang betul-betul berjasa mengambil peran. Kebetulan stasiun RRI memiliki pembangkit cadangan seperti diesel listrik. Demikian juga ada sebuah stasiun radio swasta (tidak saya sebut namanya) yang dengan tanggap kemudian menghidupkan pembangkit listrik diesel.

Dan kedua radio tersebut, selama terjadi tanggap darurat gempa Yogya mendedikasikan siarannya secara khusus, hanya semata untuk informasi gempa. Semua program yang telah disusun sebelumnya ditiadakan. Demikian juga tidak ada iklan. Semua untuk pelayanan tanggap darurat. Hal ini tidak dilakukan media yang lain.

Itulah sebenarnya makna frekuensi merupakan sumber daya alam milik publik. Jadi baik itu radio, TV ketika siaran menggunakan ranah sumber daya alam milik publik, yang namanya frekuensi. Ketika masyarakat sangat membutuhkan, tentu harus kembali digunakan untuk kepentingan masyarakat. Seperti menghentikan semua program dan iklan. Dan semata-mata siaran kedua radio tersebut untuk tanggap darurat gempa.

Adapun siarannya berisi seperti ketika sebuah desa kekurangan makan dan minum disiarkan di radio. Banyak warga yang membawa bantuan dari luar kota baik yang membawa makan, minum, obat-obatan, dan selalu memonitor melalui radio mobilnya, kemudian langsung menuju ke lokasi yang membutuhkan. Hal demikian, banyak dilakukan oleh warga luar kota Yogya yang kemudian ketika akan membantu menjadi lancar karena jasa radio. Dan peran positif radio juga terjadi bencana gempa Bengkulu 2007.

Demikian juga ketika terjadi isu bahwa tsunami telah melanda pantai. Dan masyarakat sudah mulai panik. Kemudian siaran radio yang menjadi dewa penyelamat, meluruskannya. Sehingga masyarakat menjadi tenang kembali.

Karena begitu besarnya jasa radio terhadap masyarakat Yogya, maka saya waktu itu mengusulkan kepada Menteri Kominfo untuk memberikan penghargaan kepada kedua radio itu, yaitu RRI Yogya dan sebuah radio swasta. Kebetulan Pak Menteri sangat setuju. Dan saya sendiri yang kemudian menyerahkan dalam sebuah acara ketika Yogyakarta sudah kembali normal.

Mungkin kita sekarang mulai melupakan radio. Namun, sebenarnya jangan sangsikan perannya. Apalagi ketika terjadi bencana seperti gempa. Oleh sebab itu, mengapa kemudian di Magetan dilakukan talkshow mitigasi bencana melalui radio. Tentu agar kita juga bersedia mengingatnya. Ternyata masih ada media yang dulu akrab dengan kita. Namun kita sering melupakannya. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close