Madiun

Radar Madiun Raih Koran Terbaik Kategori Lipsus 2019

Di Balik Liputan Seribu Satu Malam Cerita Nelayan di Laut Pacitan

Prestasi membanggakan ditorehkan Jawa Pos Radar Madiun di awal 2020. Liputan tentang Seribu Satu Malam Cerita Nelayan di Laut Pacitan diganjar predikat juara II sebagai koran terbaik untuk kategori liputan khusus dalam kompetisi Product Quality 2019. Berikut kisah di balik liputan 6 Oktober 2019 tersebut.

__________________

DENI KURNIAWAN, JAWA POS RADAR MADIUN

KETIKA mendapat tugas liputan khusus itu, baru sekitar dua bulan saya berada di Pacitan. Masih sering kesasar-sasar. Kalau tidak keliru, tugas liputan itu disampaikan Senin pagi dalam penugasan di grup redaksi berlabel Sunday Morning. Mau tidak mau harus mau. Hari itu juga saya pergi ke Pelabuhan Tamperan di Desa Sidoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan. Sendirian.

Warung kopi di kawasan pelabuhan menjadi tempat yang kali pertama saya datangi. Sembari memikirkan berita reguler untuk edisi Selasa, saya mencecap secangkir kopi sembari menyiapkan materi untuk peliputan khusus itu. Tak lama berselang, beberapa pria datang ke warung. Logat bicaranya saat memesan hidangan terdengar tak biasa. Dari tema obrolan yang diperbincangkan, jelas menunjukkan mereka adalah nelayan. Bukan dari Pacitan, melainkan Pekalongan, Jawa Tengah.

Dari sana, akhirnya banyak obrolan yang menginspirasi untuk materi peliputan. Tak terkecuali dari pemilik warung. Dari situ, saya baru tahu ada tiga macam nelayan. Nelayan slerek, sekoci, dan daplangan. Mereka yang ngopi pagi itu merupakan nelayan slerek. Kapal mereka tengah bersandar dan baru akan melaut kembali pada Jumat, pekan itu. Katanya, beberapa awak kapal pulang kampung karena ada hajatan pernikahan. Yang jelas, obrolan berjam-jam sudah saya rekam agar tidak lupa istilah-istilah khas nelayan tersebut. Fondasi lipsus ketemu.

Besoknya dilanjut mencari nelayan sekoci. Ternyata, para nelayan yang di tengah laut selama berbulan-bulan dan bertahan hanya dengan memancing itu berasal dari Sulawesi. Kembali ke Pulau Celebes hanya setahun sekali. Bisa dua kali jika tangkapan ikan sedang sepi. Ketemu dengan nelayan sekoci yang masih muda. Tapi, sudah menikah. Dari situ, muncul pertanyaan nyeleneh. Bagaimana melampiaskan kerinduan dan hasrat biologis saat jauh dari pasangan? Mengingat berhari-hari hidup di tengah laut dan seluruh awak kapal adalah laki-laki. Sempat ragu. Maju-mundur, akhirnya saya tanyakan. Ternyata mereka biasa beronani di tengah laut. Pun ada yang memilih ke tempat hiburan malam.

Rabu berniat mencari nelayan daplangan. Sayangnya, sedang sepi ikan. Tak banyak jenis nelayan yang mayoritas penduduk asli Pacitan itu. Tak dapat narasumber. Kemudian lanjut ke UPT Pelabuhan Tamperan. Mencari data pendapatan iklan selama beberapa tahun terakhir. Lewat penjelasan Kepala UPT Ninik Setyorini, rincian angka tangkapan dari beragam jenis ikan terkantongi.

Kamis baru berhasil mendapatkan narasumber nelayan daplangan. Namun, bukan nelayan yang hendak melaut. Melainkan sedang memperbaiki perahu kecil dengan penyeimbang (daplangan) dari bambu. Banyak juga cerita dari mereka. Mulai kerisauan seputar sepinya tangkapan ikan. Atau, saat ramai tangkapan namun harga jualnya justru anjlok. Tidak ketinggalan, cerita tentang nelayan daplangan yang sering kehilangan mesin. Pun, cerita menerjang ombak tak kenal waktu. Bisa siang bisa malam, dengan satu perahu daplangan berisikan empat nelayan.

Materi komplet, tapi foto belum. Nelayan slerek berangkat Jumat. Datang siang, bertepatan awak kapal menyiapkan kebutuhan makanan. Tapi, kehilangan momen saat memasukkan es batu untuk pendingin ikan tangkapan. Foto aman, ngobrol-ngobrol menambah materi untuk ditulis. Lumayan juga sensasi makan siang nasi bungkus di atas kapal slerek bersama nelayan. Sedikit kembung, karena tidak biasa seperti itu.

Sepulang dari liputan masih merasakan mabuk laut. Tidur sejenak meredakan perut kembung dan pusing di kepala. Materi liputan akhirnya terselesaikan. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button