Magetan

Putut Puji Agusseno Menjadi Dalang Penyaji Terbaik

Wayang adalah budaya Jawa. Putut Puji Agusseno berhasil menjadi salah satu pelestari budaya tersebut. Bakatnya mendalang sejak kecil mengantarkannya mendapat prestasi tingkat nasional, bahkan luar negeri. Dia sempat mewakili Indonesia mendalang di Korea Selatan pada 2012 lalu.

————–

FATIHAH IBNU FIQRI, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

BUNGKUS vanili bergambar Anoman. Masih lekat tersimpan di ingatan Putut Puji Agusseno sampai kini. Saat itu sedang booming–booming-nya mainan miniatur truk kayu yang dicat warna-warni. Pudji Priyono, sang ayah, sering kali memberinya bungkus bubuk penyedap rasa kue itu saat sedang bersedih.

Sejak itu dirinya merasa penasaran dengan gambar tokoh pewayangan yang ada di bungkus vanili tersebut. Dari ayahnya pulalah, Putut mampu menguasai ilmu mendalang. Kemampuan itu didapat saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Beberapa kali Putut pernah diundang pentas di tingkat kecamatan sebagai dalang cilik. ‘’Setelah itu memang cukup banyak tanggapan dalang cilik,’’ kenang Putut yang sekarang berdomisili di Desa Purwodadi, Barat, itu.

Ilmu mendalang mulai dia perdalam saat duduk di bangku SMP. Untuk menunjang kepiawaiannya mendalang, ayahnya sengaja menyekolahkannya ke dalang Peno. Sebelum kemudian meneruskan pendidikan di SMAN 1 Magetan. ‘’Baru setelah tamat SMA, saya mulai mantab belajar mendalang di ISI Surakarta hingga sekarang,’’ ujar pemuda 25 tahun itu.

Dari situlah kemampuannya mendalang mulai diakui secara nasional dan internasional. Diawali pada 2012, saat itu dirinya yang masih kuliah semester IV didapuk sebagai perwakilan kampus menggelar kesenian wayang kulit di Korea Selatan. Putut juga sempat diundang tampil di Singapura untuk misi seni pada tahun yang sama selama seminggu. ‘’Baru yang terakhir bisa mendapat gelar sebagai lima penyaji terbaik dalam Festival Seni Pedalangan di Museum Fatahilah,’’ ungkapnya.

Setelah itu, Putut terus berusaha menimba ilmu di pascasarjana ISI Surakarta. Dia bisa menjadi seperti sekarang, itu semua berkat job mendalang. ‘’Saya akui sarpras untuk mendukung kesenian di Magetan masih terbatas. Kondisi itu tentu bisa mempersulit kami untuk melakukan regenerasi sebagai dalang,’’ ucapnya. ***(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button