Opini

PUTUS TALI SILATURAHMI?

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

PENGGALAN lirik lagu Berita Kepada Kawan ini dicipatkan Ebiet G Ade 1979 silam. Sudah lebih dari empat dekade. Namun tetap relevan diperdengarkan kini. Bahkan, sampai kapan pun. Sebagai pengingat setiap terjadi bencana. Baik karena alam, wabah penyakit atau dampak konflik. Dan, 2020 ini, layak jika liriknya sedikit diubah: Mungkin Tuhan “makin” bosan melihat tingkah kita.

Sebuah lirik, yang digubah dengan penuh mawas diri, rendah hati dan empati sangat tinggi. Lihat saja objek di struktur kalimatnya: kita. Bukan aku, kamu, dia, kami atau mereka. Jadi, tak ada maksud mengambinghitamkan siapa pun atau pihak mana pun.

Sebab, di setiap bencana, kita yang menanggung akibatnya. Kita juga yang harus mencari solusinya. Bukan aku, kamu, dia, kami atau mereka. Maka, mohon maaf, jika saya menggunakan subjek: kita dalam catatan ini.

Kini, di masa pagebluk korona, ada baiknya jika kita merenung. Introspeksi. Sembari meresapi syair lagu Berita Kepada Kawan karya sang maestro ini. Tanpa menyalahkan siapa pun atau pihak mana pun, jika kita harus melakoni social distancing, physical distancing dan work from home yang diwajibkan pemerintah.

Kita banyak mengeluh. Yang menurut kita, kewajiban itu memutus tali silaturahmi. Kita tidak lagi bisa nongkrong di warung, kafe atau tempat hiburan bersama banyak orang. Kita tidak lagi bisa kumpul bareng teman-teman lama. Kita tidak lagi bisa berlama-lama di luar rumah. Kita tidak lagi bisa ibadah berjamaah di masjid.

Lalu, benarkah sebelum kewajiban itu diberlakukan kita telah menjalin erat tali silaturahmi dengan baik? Ketika kita nongkrong di warung, kafe atau tempat hiburan, faktanya hanya berkerumun. Tegur sapa ala kadarnya. Obrolan nyaris tak ada. Karena, kita sibuk dengan gadget masing-masing. Inikah tali silaturahmi yang putus itu?

Ketika kumpul bareng teman-teman lama. Yang menurut kita, untuk mengingat masa lalu. Faktanya, kita justru melupakan sedang berada di masa kini. Mengabaikan sekat permuhriman. Sekadar bersenang-senang. Tak cukup berjabat tangan. Cipika-cipiki hingga berangkulan. Inikah tali silaturahmi yang putus itu?

Ketika berlama-lama di luar rumah. Yang menurut kita, untuk mencari nafkah. Faktanya, banyak waktu terbuang sia-sia. Hingga lupa keluarga dan rumah. Mencari pelarian dari suntuknya urusan rumah. Hubungan antaranggota keluarga pun merenggang. Inikah tali silaturahmi yang putus itu?

Ketika ibadah berjamaah di masjid. Kita bisa menunaikan salat wajib lima waktu. Faktanya, kita langsung ngacir begitu imam mengucap salam kedua. Kita bisa melaksanakan salat seminggu sekali, setiap Jumat. Faktanya, kita datang ketika khotbah menjelang usai. Inikah tali silaturahmi yang putus itu?

Marhaban ya Ramadan. Selamat datang bulan suci. Ada baiknya, jika kita berniat menyucikan diri karena Allah semata. Sembari mengurai tali silaturahmi yang ruwet agar kembali lurus.

Kita tidak perlu buka bersama (bukber). Sebab, kita sering kebablasan meninggalkan salat Magrib dan Isyak. Karena kita asyik ngobrol ngalor-ngidul setelah bukber.

Kita tidak perlu sahur on the street. Karena ujung-ujungnya kita mengantuk dan meninggalkan salat Subuh. Celakanya, jika sahur hanya sebagai pengganti sarapan pagi. Siangnya kita malah tidak puasa karena capek.

Kita tidak perlu salat Tarawih berjamaah di masjid jika situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Pun hanya terjebak euforia di awal Ramadan. Apalagi jika hanya ingin dilihat orang lain. Di rumah saja. Sembari memperat tali silaturahmi antaranggota keluarga. Sembari menghiasi rumah kita dengan bacaan ayat-ayat suci.

Kita tidak perlu mudik Lebaran. Yang menurut kita, untuk halalbihalal dengan orang tua dan kerabat dekat. Faktanya, kita meluangkan hanya sangat sedikit waktu untuk sungkem pada orang tua dan kerabat dekat. Sementara lebih banyak waktu kita untuk membuat acara kumpul-kumpul dengan teman-taman lama. Alumni TK, SD, SMP, SMA, kuliah, komunitas dan lainnya. Pun disertai syarat: jangan ajak istri atau suami. Inikah tali silaturahmi yang putus itu?

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
Semua ada di sini… rumah kita.

Begitulah potongan lirik lagu God Bless yang berjudul Rumah Kita (1988). Selamat menunaikan ibadah Ramadan #DiRumahAja. Sembari tanpa lelah bersujud memohon ampun kepada Yang Kuasa agar pagebluk korona segera sirna. Wallahualambishawab. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close