Ngawi

Puting Beliung Terjang 3 Desa, 10 Rumah Rata Tanah

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Puting beliung kembali mengamuk. Senin petang (11/11), angin kencang giliran menerjang wilayah Kecamatan Kasreman dan Bringin. Dahsyatnya embusan angin mengakibatkan sedikitnya 10 rumah roboh hingga nyaris rata tanah. Sementara, puluhan rumah lain bagian atapnya beterbangan.

‘’Wilayah terdampak paling parah Desa Gunungsari (Kecamatan Kasreman),’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi Prila Yuda Putra Selasa (12/11).

Yuda memerinci, di Gunungsari sedikitnya delapan bangunan yang didiami lima kepala keluarga (KK) ambruk. Tujuh di antaranya di Dusun Geneng. Sedangkan satu lainnya di Dusun/Desa Gunungsari. ‘’Wilayah Geneng itu di sekitar bukit, jadi mudah terhempas angin,’’ ungkapnya.

Angin kencang, kata dia, juga menerjang Desa/Kecamatan Bringin dan Sumberbening. Dampaknya, dua rumah roboh. Sementara, belasan lainnya rusak pada bagian atap dan dinding. ‘’Sedang kami upayakan bantuan untuk korban terdampak,’’ ujarnya.

Kepala Desa Gunungsari Minto mengatakan, terjangan lesus berlangsung tak lebih dari setengah menit. Namun, lebih dari 30 rumah merasakan dampaknya. Bahkan, seorang warga harus dilarikan ke puskesmas usai tertimpa material banguan saat berupaya menyelamatkan diri. ‘’Waktu itu hujannya tidak begitu deras, tapi anginnya sangat kencang,’’ ungkapnya.

Usai angin kencang menerjang, sejumlah warga memilih terjaga sepanjang malam. Sementara, tak sedikit anak yang kebingungan lantaran beberapa peralatan sekolah dan buku pelajaran mereka rusak. ‘’Ada 30-an orang yang memeriksakan kesehatan. Kebanyakan mengalami trauma dan pusing,’’ imbuh Titik Yuliastuti, seorang petugas medis.

Pantauan Radar Ngawi di lokasi kemarin, puluhan personel TNI, BPBD, relawan, dan warga bahu-membahu membersihkan material sisa bangunan. Sementara, beberapa warga tampak menjemur kasur, baju, buku, dan perabot rumah tangga miliknya. (gen/c1/isd)

Meja Kecil Loloskan dari Maut

TINGGAL PUING: Rumah Karni yang berada di tengah hutan rata dengan tanah disapu puting beliung.

BERBAGAI perabot seperti kursi, lemari, dan tempat tidur di rumah Ida berantakan. Hanya meja berukuran 1×2 meter yang masih berdiri kokoh. Di bawah meja itu pula dia dan Sukarni ibunya berlindung hingga lolos dari reruntuhan material rumah saat angin kencang menerjang Senin petang (11/11). ‘’Waktu rumah roboh, saya langsung tarik ibu ke bawah meja,’’ ujar Ida.

Warga Desa Gunungsari, Kasreman, itu masih ingat betul detik-detik robohnya rumah kayu yang selama ini ditempati bersama Sukarni. Awalnya, muncul gumpalan awan gelap di langit. Tak berselang lama, hujan mengguyur disertai angin kencang. ‘’Tidak ada tetangga. Ini satu-satunya rumah di sini,’’ kata perempuan yang rumahnya berada di kawasan hutan itu.

Bersamaan embusan angin yang semakin kencang, rumah Ida perlahan miring sebelum akhirnya ambruk. Beruntung, dia bersama ibunya lolos dari maut setelah berlindung di bawah meja. ‘’Keras sekali suaranya, saya dan ibu cuma bisa baca doa saat sembunyi di bawah meja,’’ kenangnya.

Sekitar satu jam Ida berlindung di bawah meja bersama ibunya. Bersamaan itu angin kencang dan petir terus menyambar. Pun, tubuh basah kuyup hingga menggigil. ‘’Setelah hujan dan angin reda baru berani keluar dari bawah meja,’’ tutur Ida.

Lalu, keduanya mengungsi ke rumah terdekat dengan berjalan kaki. Setelah berjalan sekitar 30 menit, Ida dan Sukarni sampai di rumah yang berjarak hampir satu kilometer itu. ‘’Mau saya gendong ibu, tapi nggak kuat,’’ ungkapnya.

Ida sebelumnya sempat merantau. Namun, sejak Loso suaminya meninggal tiga tahun silam, dia tinggal di desanya menemani Sukarni. ‘’Ibu saya tukang pijat panggilan,’’ imbuhnya.

Lantaran berjarak hampir satu kilometer dari perkampungan warga, lokasi sekitar rumahnya sepi. Pun, tak ada jaringan listrik. Ida dan ibunya menghabiskan malam ditemani cahaya ublik. ‘’Ada yang menyarankan pindah, tapi kami sudah telanjur nyaman di sini,’’ pungkasnya. (gen/c1/isd)

Jangan Gegabah Masuk Rumah

BUPATI Ngawi Budi Sulistyono tak tinggal diam. Menyikapi maraknya bencana angin kencang akhir-akhir ini, orang nomor satu di Pemkab Ngawi itu mengerahkan pejabatnya untuk melakukan gotong royong membantu para korban terdampak. ‘’Mulai hari ini (kemarin, Red) dikerahkan untuk gotong royong,’’ kata Kanang saat ditemui usai memimpin upacara Hari Kesehatan Nasional (HKN) Selasa (12/11).

Kanang -sapaan Budi Sulistyono- menuturkan, angin kencang itu merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi saat peralihan musim. Hal itu bisa terjadi di mana saja dan kebetulan kali ini sejumlah wilayahnya yang terdampak oleh cuaca ekstrem tersebut. Karena itu pula, pemkab tidak tinggal diam. ‘’Akan kami data, kira-kira kerugian apa saja yang harus di-cover,’’ ujarnya.

Pantauan Radar Ngawi kemarin, selain BPBD, Dinas Sosial (Dinsos) Ngawi ikut turun ke lapangan menangani kejadian bencana tersebut. Menyalurkan bantuan kepada korban terdampak. Jangka panjangnya, Kanang sudah berpikir untuk melakukan antisipasi. ‘’Nanti program bedah rumah akan kami alihkan ke sana (wilayah terdampak angin kencang, Red),’’ janjinya.

Kanang juga meminta masyarakat berhati-hati ketika ada tanda-tanda bakal terjadi angin kencang. Apalagi, prediksi BMKG menyebut bahwa angin kencang masih berpotensi terjadi hingga beberapa hari ke depan. ‘’Ini sangat penting, terutama yang tinggal di rumah kurang layak,’’ tuturnya.

Warga diminta tidak gegabah untuk masuk rumah ketika dilanda hujan disertai angin kencang. Karena itu bisa membahayakan keselamatan. Apalagi jika di sekitar tempat tinggal terdapat pohon besar yang berpotensi tumbang. ‘’Kami terus sebar imbauan,’’ katanya. (tif/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button