Pacitan

Puso dan Minim Lahan Padi Pacitan Terburuk dan Terparah dalam Lima Tahun Terakhir

PACITANJawa Pos Radar Pacitan – Kemarau tahun ini bisa jadi sejarah buruk bagi pertanian di Pacitan. Luas area persawahan untuk tanaman padi menyusut dibandingkan periode sebelumnya. Jika biasanya belasan ribu hektare, kini hanya ribuan. ‘’Biasanya luas tanam sekitar 12 ribu hektare per tahun,’’ kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian (Disperta) Pacitan Gatut Winarso Senin (14/10).

Luas lahan tanam padi 8.790 hektare dari total 12.783 hektare per bulan ini. Pendek kata, sekitar tiga ribu hektare lahan padi nganggur. Penurunan paling signifikan terjadi pada persawahan irigasi. Ketika masa tanam ketiga, hanya 569 hektare yang ditanami. Padahal, tahun sebelumnya mencapai 1.594 hektare. ‘’Paling parah dalam lima tahun terakhir,’’ ujarnya.

Gatut menyebut, 12.303 hektare luas lahan yang ditanami padi pada 2015 lalu. Area yang puso atau gagal panen 347 hektare. Tiga tahun berikutnya penggunaan lahan naik kendati luasannya tidak signifikan. Sebelum akhirnya anjlok tahun ini (selengkapnya lihat grafis). ‘’Puso tahun lalu 743 hektare,’’ tuturnya seraya menyebut kemungkinan puso tahun ini bisa lebih parah.

Gatut mengungkapkan, 3.582 hektare lahan padi yang rusak berpotensi tidak bisa dipanen tahun ini. Kerusakan itu disebabkan dampak perubahan iklim (DPI) alias kekeringan, bukan serangan hama. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan produktivitas padi. ‘’Jika diakumulasi setidaknya akan menurun sekitar 30 ribu ton,’’  sebutnya.

Disperta tidak bisa berbuat banyak. Optimalisasi sumber air irigasi dan pompa sudah dilakukan. Sayangnya tidak bisa meng-cover secara keseluruhan lahan. ‘’Kalau tahun depan curah hujan masih sama seperti tahun ini, kami sarankan petani beralih palawija,’’ tandasnya. (den/c1/cor)

Peserta Asuransi Padi Hanya Kecamatan Arjosari

SEMENTARA itu, Dinas Pertanian (Disperta) Pacitan mencatat jumlah petani yang ikut asuransi usaha tani padi (AUTP) minim. Dari total luas 8.790 hektare, hanya 435 hektare yang diasuransikan tahun ini. ‘’Yang mengajukan 12 kelompok tani (poktan) Kecamatan Arjosari,’’ kata Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Disperta Pacitan Bagiyanto Senin (14/10).

Menurut dia, minat petani ikut AUTP masih rendah. Namun, dia sadar diri upaya dan intensitas sosialisasi lembaganya kurang. Penyuluhan kurang efektif karena jumlah pekerjanya terbatas. Yakni, 40 penyuluh berstatus aparatur sipil negara (ASN) dan 60 tenaga harian lepas (THL). Mereka tersebar di 12 kecamatan. Jumlah tersebut kurang untuk meng-cover seluruh wilayah lahan padi. ‘’Idealnya, satu desa itu satu penyuluh, sementara Pacitan ada 171 desa,’’ ujarnya.

Mahuri Hadi Suprapto, 68, petani Kelurahan Ploso, tidak mengasuransikan padi seluas 0,5 hektare miliknya karena tidak tahu teknis program tersebut. Menurutnya, program itu bagus. Sebab, ada ganti rugi ketika gagal panen. Terutama bagi daerah yang rawan bencana. ‘’Seperti saat banjir bandang 2017 yang ludes. Tapi, belum tahu kalau gagal panen dapat ganti rugi atau asuransi seperti itu,’’ bebernya.

Marno, 58, petani lainnya, mengutarakan hal senada. Baik pemkab maupun poktan belum memberikan sosialisasi. ‘’Diserang hama bisa dapat ganti rugi?’’ tanyanya penasaran. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button