AdvertorialPonorogo

Pupuk Kesadaran Lestarikan Lingkungan

Rehabilitasi Ruang Terbuka, Gagas Adipura Desa

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Bupati Ipong Muchlissoni memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup. Selama dirinya menjabat, sejumlah kebijakan dan inovasi ditelurkan dalam hal pelestarian lingkungan di Bumi Reyog. Tahun depan, bupati akan menggalakkan gerakan masif hingga desa-desa. ‘’Akan ada lomba Adipura Desa pada 2020 nanti,’’ kata Ipong.

Adipura Desa untuk memacu pelestarian lingkungan. Bahkan, desa pemenangnya akan digelontor hadiah yang besar. ‘’Kalau bisa mendongkrak partisipasi dan keikutsertaan masyarakat di desa, ini akan bagus,’’ ujarnya.

Dinas lingkungan hidup (DLH) juga tengah mempersiapkan revisi peraturan bupati (perbup) dan penyusunan instruksi bupati. Agar desa-desa ikut bergerak dalam pelestarian lingkungan. Rencananya, seluruh desa diwajibkan mengalokasikan APBDes untuk urusan tersebut. ‘’Selama ini tidak ada bank sampah atau tempat pembuangan sementara (TPS) di desa-desa,’’ tuturnya.

ASRI: Rindangnya pepohonan membuat Taman TPA Mrican terasa asri dan sejuk ketika dikunjungi Kamis siang (12/12).

Dengan diwajibkan, akan membantu menggerakkan penyelamatan lingkungan supaya lebih masif. ‘’Secara umum, harapannya tiap tahun sampah di Ponorogo bisa berkurang 20-30 persen,’’ ucap bupati.

Kebijakan lingkungan hidup juga menyasar masyarakat perkotaan. Ruang terbuka hijau (RTH) seperti Wengker Park direhab. Selain memaksimalkan fungsi pelestarian lingkungan, juga sebagai sarana rekreasi dan edukasi. Masyarakat perkotaan juga diimbau memiliki satu sumur resapan air di setiap rumah. ‘’Kalau upaya pelestarian ini hanya dari pemerintah, tidak akan optimal. Masyarakat harus ikut berpartisipasi,’’ imbuh Ipong.

TPA Mrican yang luasannya mencapai sekitar tiga hektare juga dirombak. Manajemen limbah di TPA bakal dimodernisasi lewat sejumlah cara. Mulanya, TPA menerapkan sistem dumping alias sekadar membuang. Jika cara itu terus-menerus diterapkan, TPA bisa overload kurang dari lima tahun ke depan. Karenanya, perlu dirombak dengan sistem controlled landfill.

Kunci dari sistem controlled landfill adalah pemanfaatan ruang secara terkontrol. Tidak serta merta membuang dan menumpuk limbah se-kabupaten. Limbah dipilah. Dari situ, pupuk kompos mampu dihasilkan dua hingga tiga ton per hari. Limbah yang ada juga bisa diolah menjadi biogas untuk menghidupkan kompor 15-20 KK di sekitar TPA. ‘’Instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) diterapkan untuk mengolah air lindi menjadi bersih. Kalau lindi tidak diolah itu berbahaya, karena bisa terbakar dan bau,’’ ungkapnya. (naz/c1/fin/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close