Madiun

Puluhan Tahun Hartanto Tekuni Usaha Jual Beli Motor Lawas

Dulu Didominasi Buatan Eropa, Kini Mayoritas Produk Jepang

Motor lawas masih diminati banyak orang. Buktinya, sedikitnya lima kendaraan jadul yang diperjualbelikan Hartanto berpindah ke tangan konsumen saban bulan. Ada kiat tersendiri sebelum pria itu melepas barangnya ke calon pembeli.

_______________________________

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BELASAN motor Yamaha V75, V80, dan Honda Supercup berjajar rapi di samping bengkel milik Hartanto di Jalan Manggar, Kelurahan/Kecamatan Taman. Sementara, beberapa onderdil vespa tampak memenuhi rak bengkel. Sedangkan di lantai berserakan beberapa alat bengkel.

Siang itu, si pemilik bengkel bersama anaknya tampak sibuk memperbaiki sebuah motor vespa tua, produksi 1965. ”Bengkel ini khusus mereparasi motor yang akan saya jual,” kata Hartanto.

Hartanto akrab dengan motor antik sejak 1980 silam. Pada masa itu, koleksi motor lawasnya didominasi produk Eropa. Mulai Zundapp, Norton, Dampf-Kraft-Wagen (DKW), hingga Birmingham Small Arms (BSA). Namun, sejak beberapa tahun terakhir mayoritas kendaraan buatan Jepang. ”Sekarang cari barang sulit, menjualnya justru mudah,” ujarnya.

Pria 66 tahun itu memperoleh motor koleksinya dengan berburu sendiri maupun didatangi seseorang. Setelah melihat kondisi barang dan mencapai kesepakatan harga, kendaraan langsung dibayar. Setelah itu, motor direparasi jika diperlukan. ”Jadi, barang sudah ready saat mau dijual kembali,” terang Hartanto.

Hartanto menekuni usaha jual beli motor antik setahun pasca menikah pada 1979 silam. Awalnya, pekerjaan utama pria asli Klaten, Jawa Tengah, itu penjahit. ”Tahun 1997 baru benar-benar fokus jualan motor lawas dan buka bengkel vespa. Pekerjaan menjahit saya tinggalkan,” tuturnya. ‘’Belajar mereparasi motor otodidak,’’ imbuhnya.

Hingga kini Hartanto masih menggunakan cara konvensional dalam memasarkan dagangannya. Dia enggan memanfaatkan media sosial dengan alasan kurang bisa dipercaya. ”Saya juga takut ditipu. Barang sudah saya kirim, ternyata uang tidak ditransfer,” ucapnya.

Selama ini usaha jual beli motor lawas yang ditekuni Hartanto terbilang stabil. ”Dalam sebulan biasanya bisa menjual lima sampai enam motor,” kata ayah empat anak tersebut. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button