Madiun

Puluhan Tahun Gunarto Berburu Rezeki dengan Berjualan Koran

Tidak banyak loper koran yang bertahan dengan pekerjaannya hingga puluhan tahun. Dari yang sedikit itu terselip nama Gunarto. Dari berjualan koran pula pria tersebut mampu menguliahkan anak-anaknya.

——————

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

PUKUL 05.00 Gunarto sudah bangun dari tidurnya. Satu jam berselang setelah berkemas, pria itu bersiap dengan sepeda pancalnya. Lalu, mengayuhnya menuju kampus STKIP Widya Yuwana Madiun. ‘’Bersih-bersih di sana. Sampai jam 13.00 kerja di sana, terus pulang, istirahat sebentar,’’ katanya.

Sekitar pukul 15.00, dia sudah harus bersiap mencari nafkah lagi. Kali ini Gunarto harus mengayuh sepeda bututnya menuju Ngawi untuk menjajakan koran. Berangkat sore dan sampai Madiun lagi sekitar pukul 20.00. ‘’Sudah 30-an tahun seperti ini,’’ ungkapnya.

Tonton wawancara eksklusif bersama Gunarto

Gunarto berjualan koran sejak 1987. Berawal saat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sebuah BUMN. Kemudian, dia mendapat pekerjaan baru sebagai tukang cuci kereta di Stasiun Madiun. ‘’Sehari mencuci dua kali, pagi dan sore,’’ kata pria yang kini berusia 63 tahun itu.

Setelah beberapa bulan bekerja sebagai tukang cuci kereta, Gunarto nyambi berjualan koran. Kali pertama hingga minggu ketiga, dia hanya berkeliling pada Rabu saat libur. ‘’Sampai minggu ketiga cuma bawa 10, tapi belum sampai jauh sudah habis. Lalu, saya ambil lagi di agen, akhirnya bisa terjual 25 koran dalam sehari,’’ ujarnya.

Sejak itu pula Gunarto memutuskan berjualan koran setiap hari. Usai mencuci kereta pertama, dia langsung ambil koran di agen, lalu dijual berkeliling dengan sepeda. Pun, rute ditambah hingga wilayah Balerejo dan Pangkur, Ngawi.

Lambat laun dia merasa penghasilannya bekerja di stasiun kurang mencukupi. Penghasilannya dari berkeliling menjual koran justru lebih besar. Akhirnya Gunarto memutuskan fokus berjualan koran. ‘’Mulai jam 07.00 sampai 19.00 malam,’’ tutur warga Kelurahan Winongo itu.

Gunarto sempat merasakan masa terindah saat krisis moneter. Kala itu, dia bisa menjual banyak koran. Namun, pascakrisis banyak yang berhenti berlangganan. ‘’Pelanggan terus menurun sampai akhirnya berhenti jualan koran. Lalu, saya kerja jadi kuli bangunan selama empat tahun,’’ kenangnya.

Pada 2005 mendapat tawaran bekerja sebagai tukang bersih-bersih di kampus STKIP Widya Yuwana. ‘’Sejak itu saya jualan koran lagi sepulang dari bersih-bersih di kampus sampai sekarang,’’ kata bapak tiga anak tersebut.

Meski harus berkeliling dengan sepeda menjajakan koran, Gunarto senang hati melakukannya. Pun, dia berencana kelak setelah pensiun dari bekerja di kampusnya bakal berjualan koran lagi full seharian seperti dulu. ‘’Dulu pernah coba jualan dengan sepeda motor, tapi jatuh di selokan. Sejak itu nggak berani lagi naik motor,’’ ungkapnya.

Berkat kerja kerasnya, ketiga anaknya bisa mencicipi bangku perguruan tinggi dan mendapatkan beasiswa. ‘’Yang dua sudah bekerja. Tinggal si bungsu yang masih kuliah,’’ kata Gunarto. ***(isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close