features

Puluhan Karya Tulis Lahir dari Tangan Dingin Nadif M. Mumtaz

Kota Madiun tidak pernah kehabisan penulis muda berbakat. Saat ini yang namanya mulai mencuri perhatian adalah Nadif Muhammad Mumtaz. Apa saja yang sudah dihasilkan pemuda 25 tahun itu?

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

DUNIA tulis-menulis ditekuni Nadif Muhammad Mumtaz sejak duduk di bangku SMP. Namun, baru saat kuliah di UIN Malang pemuda 25 tahun itu percaya diri dengan kemampuannya. Pun, semakin paham teknik penulisan yang baik dan terstruktur. ”Waktu itu sering me-review jurnal. Kalau sekarang lebih banyak menulis karya ilmiah, buku genre seni akademik (ada opini dan pemaparan ahli, Red), juga novel,” ungkapnya.

Setelah melanjutkan pendidikan S-2 di UIN Jakarta, Nadif mulai percaya diri untuk menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku. Salah satunya buku berjudul Guru Ideal yang kini sudah memasuki cetakan kedua.

Pandemi Covid-19 yang memaksanya work from home (WFH) membuat Nadif lebih produktif menulis. Salah satunya novel berjudul Jurang. Mengisahkan seorang laki-laki yang jatuh cinta dengan gadis syarifah, gelar kehormatan bagi perempuan keturunan nabi.

Kisah cinta keduanya memicu konflik keluarga. Sebab, si tokoh laki-laki dinilai tidak pantas mempersunting gadis syarifah. Melainkan yang pantas adalah yang memiliki gelar serupa sehingga sanadnya tidak terputus. ”Rencananya nanti ada kelanjutannya di jilid dua,” ujarnya.

Buku lain karya Nadif berjudul Murid Ideal serta Kepemimpinan Kiai dan Mutu Pendidikan Pesantren yang saat ini dalam proses penerbitan. Juga jurnal tentang moderasi Islam berbasis tasawuf serta nilai-nilai nasionalisme di pesantren. ‘’Paling sulit waktu menyusun The Quran and Creation of Universes (Study on Ibn Araby’s Thought). Pakai bahasa Inggris,” akunya.

Selama ini saat menulis Nadif nyaris tak pernah lepas dari secangkir kopi. Karena itu, hampir 90 persen karyanya ditulis di kafe. Sementara, saat mengalami writing block, warga Jalan Urip Sumoharjo, Manguharjo, itu langsung menghentikan aktivitasnya menulis, lalu istirahat sembari bertafakur. Selanjutnya mencari literatur terkait. ”Diusahakan tidak sampai berhenti lama,” ujarnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button