NgawiPeristiwa

Puluhan Bangunan Rusak Disapu Lesus

Sampai Terbangkan Teras Rumah

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Hujan disertai angin kencang kembali meneror warga. Selasa petang (12/11), lesus giliran menerjang wilayah Dusun Nglegok, Pandean, Karanganyar, hingga merusak puluhan rumah. Tidak hanya itu, sebuah kandang sapi juga tak luput dari amukan angin kencang. ‘’Turun hujan sejak sore, tapi anginnya hanya sebentar,’’ kata Kepala Dusun (Kasun) Nglegok Saridi Rabu (13/11).

Saridi menyebut, kerusakan terparah menimpa rumah Budi Katno di RT 03 RW 03. Bagian teras rumah beratap asbes itu terbang hingga beberapa meter dari tempat semula dan hancur berantakan. ‘’Anginnya kecang sekali, datang dari berbagai arah,’’ ungkapnya.

Selain merusak rumah, angin kencang juga merobohkan kandang sapi milik Mitro Saryo di RT 12 RW 03. Padahal, kandang berukuran 10×8 meter dan tinggi empat meter yang berdinding kayu itu terbilang kokoh. Lokasi di tepi persawahan dinilai menjadi penyebab ambruknya kandang tersebut. ‘’Sapinya berhasil diselamatkan,’’ imbuh Saridi.

Tak hanya menimbulkan kerugian materi, seorang warga bernama Supardi harus dilarikan ke puskemas setempat karena menderita luka di bagian kaki akibat tertimpa kayu saat menyelamatkan diri ketika teras rumahnya roboh. ‘’Dampaknya hampir merata di satu dusun, banyak rumah yang gentingnya berjatuhan,’’ bebernya.

Kemarin, warga dibantu petugas Polsek Karanganyar bahu-membahu memperbaiki rumah yang rusak. Di sisi lain, mereka waswas adanya angin kencang susulan. ‘’Sementara diperbaiki secara mandiri dulu,’’ ujar Saridi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi Prila Yuda Putra mengimbau warga waspada. Pasalnya, lesus masih berpotensi terjadi seiring musim pancaroba. ‘’Saat ada angin kencang sebaiknya bersiaga di luar rumah,’’ katanya. (gen/c1/isd)

Diapit Gunung, Ngawi Timur Rawan

WILAYAH Ngawi timur seperti Kasreman, Padas, Pangkur, Bringin, dan Karangjati menjadi jujukan lesus. Pada awal bulan ini saja, sedikitnya tiga kali angin kencang menerjang kawasan tersebut. Dampaknya, ratusan rumah rusak. Sebagian roboh hingga rata tanah.

‘’Pada peralihan musim ini wilayah timur menjadi perhatian khusus kami karena rawan angin kencang,’’ kata Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi Alfian Wihaji Sudono Rabu (13/11).

Yoyok –sapaan akrab Alfian Wihaji Sudono- menerangkan, kondisi tersebut tak lepas dari topografinya yang diapit dua pegunungan. Di sisi selatan ada Wilis dan Lawu. Sedangkan utara terdapat Gunung Kendeng yang menjulang. ‘’Lokasinya tepat di tengah celah sehingga angin dari timur mudah masuk,’’ ujarnya.

Meski begitu, bukan berarti wilayah lain minim potensi angin kencang. Bukti terbaru, sejumlah rumah di Ngawi barat seperti Mantingan dan Karanganyar roboh diterjang lesus. ‘’Pantauan kami, angin kencang biasanya dari timur dan selatan,’’ sebutnya.

Yoyok menambahkan, sejauh ini angin kencang yang berembus belum masuk kategori puting beliung. ‘’Kalau puting beliung, rumah bisa terangkat dan kerusakannya lebih parah. Tapi kalau angin kencang hanya roboh,’’ bebernya.

Dia menyebut, potensi angin kencang masih terjadi hingga beberapa pekan ke depan. Pun Yoyok berharap warga waspada saat awan hitam muncul di sore hari. ‘’Angin kencang biasanya terjadi pada sore hari akibat adanya perbedaan suhu udara,’’ tuturnya.

Sebelumnya, hujan es disertai angin kencang menerjang wilayah Ngawi timur. Dampaknya, 10 rumah milik tujuh kepala keluarga ambruk hingga nyaris rata tanah. Sementara, puluhan lainnya bagian genting dan atapnya porak-poranda. Terparah di Desa Gunungsari, Kasreman. (gen/c1/isd)

Dana BTT Masih Utuh di Kasda

BISA DIATASI: Rumah salah seorang warga Ngawi roboh diterjang angin kencang beberapa hari lalu.

INTENSITAS bencana alam di Kabupaten Ngawi semakin tinggi. Kekeringan yang melanda hampir seperempat wilayah belum juga usai, empasan angin kencang sudah menyusul. Akibatnya, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum rusak berat. Itu belum termasuk banjir awal tahun lalu. Kerugiannya ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Meski demikian, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat belum mengajukan pencairan dana bantuan tidak terduga (BTT). ‘’Padahal, tahun 2019 ini pemkab mengalokasikan anggaran Rp 1 miliar,’’ kata Kepala Badan Keuangan (BK) Ngawi Bambang Supriyadi Rabu (13/11).

Sehingga, dana BTT itu masih utuh di kas daerah (kasda). Bambang kurang tahu alasan dana itu tidak dicairkan. Dia menduga bencana alam di Ngawi sudah diantisipasi sebelumnya oleh pihak terkait. ‘’BTT itu memang sebagai cadangan jika terjadi bencana alam yang tidak bisa diprediksi,’’ jelasnya.

Hingga akhir tahun nanti dimungkinkan dana BTT tidak terserap. Sehingga, akan dikembalikan ke kasda menjadi sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa). Untuk 2020, Bambang belum bisa menyebut perkiraan nominal dana BTT. ‘’Belum tahu, sekarang masih proses pembahasan,’’ ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Ngawi Prila Yuda Putra tidak menampik banyak bencana alam di Ngawi sepanjang tahun ini. Pun kerugian materiilnya. Meski demikian, pihaknya belum memerlukan dana BTT untuk menangani bencana alam. ‘’Sudah bisa ditangani melalui anggaran reguler dan bantuan dari pihak lain,’’ katanya.

Misalnya kekeringan akibat kemarau panjang. Semua bantuan air bersih yang disalurkan kepada warga melalui BPBD dari Pemprov Jatim total sekitar 4 juta liter. ‘’Kalau terjadi bencana di luar prediksi dan kemampuan, pasti anggaran itu sangat dibutuhkan. Sehingga harus tetap dianggarkan setiap tahun,’’ terangnya. (tif/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button