Ponorogo

Pudak Sudah Olah 3 Ton Kotoran Sapi Sehari

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Apa jadinya jika tidak ada seorang Robi Sugianto yang mengolah kotoran hewan di Pudak menjadi pupuk organik? Populasi sapi perah aktif di kecamatan tertinggi di Ponorogo itu sedemikian padatnya, mencapai 2.900 ekor. Jika kotoran hewan (kohe) itu dibuang begitu saja ke sungai, pencemaran hebat bakal terjadi.

Robi mempekerjakan 18 karyawan untuk mengolah 3 ton pupuk organik per hari. Dia mengaku sudah lama resah mendapati bertambahnya populasi sapi perah di Pudak tanpa ada peraturan kandang yang ketat. Para peternak kelewat sibuk mengurus sapi hingga luput memikirkan tata kelola kohe. ‘’Saya sejak 2015 mengolah kohe menjadi pupuk siap pakai,’’ kata Robi yang mengaku pernah magang pada usaha peternakan dan perikanan di Jepang itu, Minggu (12/9).

Dia tidak menafikan bahwa sebagian peternak di Pudak sembarangan membuang kohe ke sungai. Tak urung, pencemaran muncul di dataran yang lebih rendah. Sooko, tetangga Pudak, sudah merasakan dampak buruk pencemaran itu. ‘’Kami siap membeli kohe, peternak sudah tidak perlu lagi membuangnya ke sungai,’’ ujar pemilik pabrik pupuk organik mini di Desa Pudak Wetan itu.

Kendati kohe yang dihasilkan sapi perah dengan sapi pedaging berbeda. Antara feses dan urine sapi perah nyaris sama karena berair. Butuh waktu sekitar tiga minggu untuk mengolahnya menjadi pupuk menunggu kohe benar-benar kering. ‘’Kalau sapi pedaging hanya perlu proses seminggu, jauh lebih mudah,’’ jelas Robi.

Menurut pria 32 tahun itu, mini pabriknya lebih banyak mengolah kohe sapi pedaging. Kohe sapi perah hanya sekitar 20 persen dari bahan baku produksi. Robi tengah menyiapkan mesin pengolah kohe sapi perah berkapasitas besar. Dia juga sudah memikirkan pasar pupuk organik olahannya. ‘’Idealnya di Pudak sudah ada pabrik pupuk organik,’’ ungkapnya.

Sebagai peternak, Robi ikut resah ketika Pudak kena tudingan biang keladi pencemaran di hulu sungai. Upayanya mengolah kohe menjadi pupuk organik belum mampu menghindarkan dampak buruk pencemaran lingkungan. ‘’Kami siap mengambil langsung kohe sapi ke kandang peternak. Kurang apa lagi?’’ tanya Robi balik. (mg7/c1/hw)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button