Madiun

Puasa saat Korona

MARHABAN ya Ramadan. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1441 Hijriah bagi masyarakat Kota Madiun yang melaksanakan. Ibadah puasa tahun ini terasa berbeda. Bukan hanya di Kota Madiun. Tapi nyaris di seluruh dunia. Karena apalagi kalau bukan korona. Ya, sejak masuk ke tanah air Maret lalu, virus Covid-19 tersebut perlahan merubah perilaku hingga tradisi kita. Masyarakat mulai diminta di rumah saja, belajar-mengajar dilaksanakan dari rumah, perusahaan juga diminta membuat skema bekerja dari rumah, kemana-mana selalu pakai masker, dan jaga jarak. Tetapi ada baiknya juga. Masyarakat lebih sering cuci tangan pakai sabun kini.

Terlepas dari itu, korona juga merubah tradisi ibadah puasa. Saya sengaja melarang kegiatan-kegiatan yang berpotensi kerumunan saat puasa. Masyarakat saya minta menahan diri untuk tidak menggelar buka bersama atau sahur on the road. Ibadah tarawih dan tadarusan juga dibatasi. Masyarakat masih diperbolehkan beribadah di masjid maupun musala. Tapi wajib mengedepankan keamanan dan kesehatan. Yakni, pakai masker dan shaf-nya berjarak. Minimal dua sampai tiga ubin. Kalau tidak ya ibadah di rumah masing-masing. Sekaligus menguatkan keharmonisan dalam keluarga.

Ibadah harus tetap dijalankan. Bukan lantas menjadikan korona sebagai alasan untuk tidak melaksanakan kewajiban. Apa yang sudah menjadi perintah agama harus dikerjakan. Tetapi tetap harus mengedepankan keamanan. Saya sudah memberikan himbauan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun untuk mengajak umat muslim lebih memperbanyak doa terkait korona ini. Doa agar korona cepat hilang. Masa pandemi segera terlewati. Begitu juga dengan masyarakat. Ramadan kali ini harus tetap beribadah dan memperbanyak doa. Semakin banyak yang berdoa, semakin diijabahi.

Pemerintah juga tidak menggelar kegiatan berkaitan Ramadan. Saya masih ingat Ramadan lalu yang penuh kegiatan. Mulai Safari Tarawih, Safari Salat Jumat, buka puasa bersama, sampai sahur bersama. Ada kegiatan olahraga bersepeda malam hari juga. Ada juga pawai obor dan takbiran. Sebelum lebaran juga kita perbanyak bersih-bersih fasilitas umum menyambut pemudik. Sekarang malah sebaliknya. Pemudik terlarang untuk Kota Madiun. Saya minta warga Kota Madiun yang berada di perantauan untuk tidak pulang dulu. Ini demi kebaikan bersama. Demi kesehatan kita semua. Demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Ini bukan keinginan saya semata. Sudah menjadi instuksi pemerintah pusat. Presiden melarang kegiatan mudik tahun ini. Saya sepaham dengan bapak presiden. Tentu saya tidak ingin warga di Kota Madiun tertular mereka yang dari kota besar. Padahal, kita tahu sejumlah kota besar tercatat memiliki kasus positif dengan jumlah tinggi. Mencapai ratusan. Lihat saja Kota Surabaya. Sudah 300 lebih kasus. Saya tahu banyak warga Kota Madiun di Surabaya. Mulai bekerja maupun berkuliah. Saya himbau untuk tidak mudik. Atau siap-siap kena sanksi.

Saya sengaja menyiapkan tempat khusus untuk karantina 14 hari. Yakni, di ruang ganti pemain Stadion Wilis Madiun. Sudah saya tinjau beberapa hari lalu. Ruang-ruang di stadion cukup untuk 200 lebih pemudik. Nanti pakai ranjang lipat. Mereka tidak boleh meninggalkan stadion selama masa karantina. Artinya, pemudik bisa berolahraga dan lainnya. Dinas Kominfo juga memasang dua televisi dan koneksi internet. Soal makanan juga akan disiapkan pemerintah. Namun, berupa alat dan bahan makanannya. Pemudik harus memasak sendiri. Kalau tidak memungkinkan, baru akan dikirim makanan jadi.

Stadion memang berada di tengah kota. Tapi suasananya akan terasa berbeda kala malam tiba. Tempat ini sengaja dipilih untuk memberikan efek jera. Kalau sudah tidak menampung, tempat selanjutnya lebih tidak mengenakkan. Saya juga meminta petugas untuk menyiapkan ruang UPTD Dinsos PP dan PA Kota Madiun untuk karantina. Ruang di sana memang banyak. Yang biasa untuk tempat tinggal sementara orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), gelandangan, dan lain sebagainya. Saya rasa tidak ada yang mau tinggal di sana. Tapi kalau ada yang nekat mudik, berarti ingin merasakan dua pekan bermalam di sana.

Kalau itu belum cukup membuat jera, saya siapkan rumah tahanan militer milik CPM Kota Madiun. Rumah tahanan tersebut dikenal angker. Bahkan, anggota militer yang secara mental sudah terlatih memilih untuk tidak sampai bermalam di sana. Saya siap berkoordinasi dengan pihak terkait untuk meminjam ruang tahanan tersebut. Saya berharap tidak ada yang mudik. Sekali lagi, korona mengubah tradisi kita saat Ramadan dan Lebaran. Namun, bukan berarti kita kalah. Kita menahan diri untuk menang melawan pandemi ini.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close